by

Melihat Tuhan dalam Diri Setiap Orang dengan Perspektif Sikhisme

Oleh: Harkirtan Kaur

Tidak asing rasanya mendengar kata ‘perdamaian’ di telinga. Kata ini banyak sekali digunakan dan dijadikan tujuan oleh sekelompok masyarakat dan bahkan negara-negara, salah satunya Indonesia. Perdamaian sendiri sering sekali diartikan sebagai sebuah situasi yang sering dihubungkan dengan ketenangan.

Ketika mendengar atau membaca kata damai, maka sering kali terlintas beberapa kata dalam benak, seperti tenteram, aman, nyaman, sejahtera, dan masih banyak lagi. Selain kata-kata tersebut, satu kata yang selalu dikaitkan dengan perdamaian tentunya adalah konflik.

Perdamaian sering didefinisikan sebagai keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang berada jauh dari konflik. Lalu setelah itu mulai muncul pertanyaan tentang asal dan cara memperoleh perdamaian itu sendiri.  

Sebagai upaya untuk mewujudkan perdamaian, salah satu kontribusi dunia adalah dengan dibentuknya PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) untuk membina hubungan baik antar negara-negara di dunia. Namun hal ini tidaklah cukup, sampai saat ini masih terjadi banyak hal yang mengakibatkan hilangnya kedamaian dan ketenteraman hidup manusia, seperti konflik antara Israel dan Palestina yang terjadi beberapa waktu lalu.

Banyak korban tidak bersalah yang harus kehilangan nyawa akibat dari konflik tersebut. Oleh karena itu, perlu ada upaya lain untuk menciptakan perdamaian umat manusia. Maka dari itu, dalam tulisan ini penulis akan membahas sedikit mengenai perdamaian dari perspektif kepercayaan Sikhisme.

Melihat Gambaran Tuhan Pada Sesama

Perdamaian sendiri dapat diartikan, sebagai suatu kondisi di mana masyarakat bisa hidup secara berdampingan, meskipun masyarakat tersebut memiliki perbedaan budaya, sosial, dan lain-lain. Dalam ajaran Sikhisme, kita sebagai manusia selalu diajak untuk melihat kembali dari mana sesungguhnya kita berasal, yaitu dari Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam Sri Guru Granth Sahib Ji (kitab suci Agama Sikh yang diimani sebagai Guru yang hidup), terdapat beberapa ayat yang mengingatkan manusia bahwa sesungguhnya manusia berasal dan diciptakan oleh satu sumber yang sama, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga: Gereja Timur Orthodox: Ajaran baru kah? Gereja baru kah? (Bagian II)

Dalam Angg (halaman) 441 terdapat ayat yang berbunyi: “Mann Tu Jot Saroop Hai, Apna Mool Pachaan” yang artinya: wahai pikiranku, Engkau adalah perwujudan dari cahaya suci (Tuhan), kenalilah asalmu. Selain itu, dalam Angg 1349 juga terdapat ayat yang berbunyi: “Aaval Allah Noor Upaaya Kudrat Ke Sabh Bandey” yang artinya adalah: Pada awalnya, Tuhan menciptakan sebuah cahaya, dan dengan kekuatan-Nya, Ia menciptakan umat manusia.

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, manusia diajak untuk menyadari bahwa manusia, tanpa memandang latar belakang suku, ras, dan agama merupakan gambaran dari Tuhan sendiri karena manusia diciptakan oleh-Nya. 

Apabila manusia merupakan gambaran dari Tuhan sendiri, maka manusia diharapkan dapat melihat cahaya ilahi atau gambaran Tuhan pula dari diri sesamanya, tanpa melihat latar belakangnya. Ketika seseorang dapat menyadari dan melihat rupa Tuhan dalam diri sesamanya, maka tentunya ia akan menghormati sesamanya.

Selain itu, ketika seseorang telah menyadari bahwa dirinya dan sesamanya merupakan ciptaan dari satu entitas yang sama, maka tidak ada gunanya menciptakan konflik dan penindasan, melainkan perdamaianlah yang harus diciptakan. 

Untuk menciptakan perdamaian, dibutuhkan upaya yang tidak sedikit. Selain bantuan dari lembaga-lembaga dunia yang bersifat eksternal, secara internal manusia harus menyadari bahwa sesungguhnya manusia berasal daripada Yang Esa, yaitu Tuhan sendiri.

Apabila manusia dapat menyadari hal tersebut, barulah akan muncul rasa empati terhadap sesama dan rasa perikemanusiaan yang nantinya akan semakin menjauhkan manusia dari konflik. Hal inilah yang kelak akan memicu perdamaian dan persatuan.

Harkirtan Kaur, Pemuda Sikh dan Peserta Sekolah Kepemimpinan Pemuda Lintas Agama 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed