by

The Post: Menjadi Penyampai Kebenaran

-Kabar Film-11 views

Kabar Damai I Sabtu, 31 Juli 2021

Jakarta I kabardamai.id I Pada tahun 1966 di Vietnam, Daniel Ellsberg (Matthew Rhys) seorang analisis militer Departemen Luar Negeri diutus untuk melakukan pengamatan lapangan terkait perang Vietnam. Ia mendokumentasikannya lewat tulisan. Dalam penerbangan pulang, Daniel memberi tahu Robert McNamara (Bruce Greenword) dan William Macomber (Cotter Smith) bahwa keadaan perang disana sudah tidak ada harapan.

Namun setelah mendarat Robert menjelaskan kepada pers bahwa keadaan mengalami kemajuan selama perang. Mendengar hal tersebut, Daniel kecewa. Beberapa tahun setelahnya ia bekerja sebagai kontraktor sipil untuk RAND Corporation. Ia diam-diam mencuri beberapa dokumen penting negara yang mendokumentasikan hubungan pemerintah AS dalam perang Vietnam selama beberapa dekade.

Daniel menyalin dokumen-dokumen tersebut menjadi beberapa salinan. Kemudian ia membocorkannya kepada jurnalis The New York Times, Neil Sheehan (Justin Swain). Tak lama setelah itu mereka mempublish salah satu isi dari Pentagon Papers yang berupa dokumen-dokumen rahasia milik negara.

Hal tersebut menuai kontoversi di Amerika kala itu. Gedung putih langsung melayangkan peringatan dan melarang New York Times untuk mempublish lebih jauh mengenai Pentagon Papers. Karena hal tersebut dianggap sebagai pengkhianatan dan dapat membuat kehancuran bagi negara. Alhasil New York Times digugat oleh negara sehingga harus berurusan dengan pengadilan.

Disinilah awal peran The Washington Post melanjutkan penerbitan mengenai Pentagon Papers.

Film garapan sutradara Stephen Spielberg ini dianggap sebagai salah satu film yang paling berani dalam mengungkap sebuah kasus yang berhubungan dengan negara. Film ini bisa disebut sebagai simbol perlawanan antara kaum jurnalis dengan para politisi dan penguasa. Dimana salah satu nilai dari kejurnalistikan yakni menjadi pemantau bagi kekuasaan.

Baca Juga: Ini 5 Filem Epik Tentang Toleransi Beragama

Meskipun, di awal film terasa agak membosankan karena konteks keseluruhannya belum jelas, Spielberg sedikit demi sedikit memberi konteks soal Perang Vietnam, karakter Nixon dan orang-orang disekelilingnya, demokrasi Amerika, sampai kebebasan pers sehingga penonton tak ahistori. Hasilnya, suguhan film sejarah yang tak hanya menarik bagi insan pers.

Akting yang ditampilkan Tom Hanks dan Meryl Streep sangat pas dengan tokoh yang  diperankan. Streep dengan jelas menampakkan kegelisahan seorang pebisnis baru, penerbit wanita pertama di negara Adikuasa itu. Mimiknya mewakili kebimbangan saat ditodong pilihan antara harus menerbitkan Pentagon Papers atau membela teman-teman dekatnya yang politisi.

Hanks membuat karakter kuat Ben Bradlee sebagai editor eksekutif yang tegas, idealis dan tak takut apa pun demi menegakkan prinsip jurnalisme, meski ia sendiri terhitung dekat dengan JFK. Ditambah latar yang dibuat Spielberg dan tim produksinya soal bagaimana ruang redaksi media-media AS, The Post memberi gambaran layak dan meyakinkan soal industri kejurnalistikan.

Kreativitas dan sikap independen para jurnalis, juga digambarkan secara jelas dalam film The Post ini. Nilai-nilai humanitas yang menantang para jurnalis agar tak mudah terjebak kepada mental pragmatisme. Juga tidak serta-merta memihak suatu kepentingan partai dan golongan tertentu merupakan pilihan hidup jurnalis.

Seorang jurnalis harus tetap konsisten menjaga kredibilitasnya di tengah kepungan kepentingan politis agar membuat derajatnya terangkat sebagai manusia bermartabat. Para jurnalis dalam “The Post” paham betul akan otoritasnya hingga tidak terkecoh memasuki hal-hal yang tidak substantif di luar wilayah riset dan penelitian untuk menyingkap dokumen rahasia Pentagon tersebut.

Ketika seorang jurnalis paham betul akan nilai-nilai jurnalisme, maka pemerintah pun akan takut untuk bertindak sewenang-wenang. Karena mereka paham konsikuensi apa yang akan didapati ketika menyerang institusi kewartawanan. Sejatinya tugas jurnalis adalah bagian dari amanat Tuhan, yang harus bertanggungjawab menyuarakan pesan-pesan dalam mengungkap fakta dan kebenaran.

Spielberg mengakhiri film itu dengan menarik suara tegas Presiden Nixon yang menjadi topik utama tentang Skandal Watergate yang diselidiki oleh dua wartawan The Washington Post yang menyeret Presiden Nixon pada pengunduran dirinya. Ia pun melarang reporter The Washington Post mendekati Gedung Putih.

Film ini sangat recommended untuk ditonton bagi siapapun penikmat film drama, terutama bagi  yang minat dalam bidang jurnalistik. Selamat menonton!

“The press was to served the governed, not governors (Pers adalah untuk melayani yang diperintah, bukan yang memerintah)” – The Post.

Judul Film       : The Post

Pemeran          : Tom Hanks, Meryl Streep, Sarah Paulson, Bob Odendirk, Tracy Letts, Bradley Whitford, Bruce Greenword, Matthews Rhys, Jesse Plemons, Zach Woods, Jessie Mueller, Michael Stuhlbarg, Cotter Smith, Carrie Coon, Justin Swain

Genre              : Drama/Sejarah

Durasi             : 116 menit

Sutradara         : Stephen Speilberg

Produksi          : Dream Works Pictures

Tanggal Rilis  : 14 Desember 2017

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed