by

Gereja Timur Orthodox: Ajaran baru kah? Gereja baru kah? (Bagian II)

Oleh: Jurjis Gigih

Para Bapa Gereja

Penulis tidak menuangkan seluruhnya kekayaan warisan Gereja Orthodox, tetapi setidaknya dapat membuat pembaca memahami tentang Gereja Orthodox dari sisi historis. Dengan berkembangnya Gereja yang sudah meluas di luar Yudea, tentunya para Rasul memiliki penerus yang akan melanjutkan kepemimpinannya.

Jadi tak masuk akal jika para Rasul tidak ada yang meneruskan dan memang selama ini ada pengaburan sejarah yang disampaikan kepada umat bahwa setelah era Rasul, Gereja hilang entah kemana di dunia antah berantah, mengalami kebobrokan, kegelapan. Kemudian muncul zaman Reformasi sebagai pembaharu yang memunculkan kembali Gereja yang telah hilang tadi.

Pelajaran tersebut yang mungkin pernah pembaca dengar sangatlah wajib untuk dikikis, bila perlu dibuang, karena bukan itu yang terjadi sesungguhnya. Para Rasul memiliki penerus atau pelanjut, yaitu mereka-mereka yang telah ditahbiskan (ditetapkan dalam terjemahan LAI) sebagai Imam atau Presbyter dari kata Yunaninya (diterjemahkan penatua dalam LAI Kisah Para Rasul 14:23; 15:4,6; 1 Petrus 5:1-2) dan Episkop (penilik jemaat dalam LAI Kisah Para Rasul 20:17; 1 Timotius 3:1).

Jabatan “Penatua” sesungguhnya bukan sebagai “majelis gereja” tetapi sebagai Imam atau Gembala Gereja, yang tugasnya mengembalakan umat, yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan “Romo” atau “Abuna”. Dan, kata Yunani Episkop adalah seorang “Uskup” atau Bishop dalam bahasa Inggris, dan ditambah lagi “Diakon” (1 Timotius 3:8) sebagai pembantu Uskup (Filipi 1:1), sedangkan Penatua tetap sebagai Gembala Gereja setempat (1 Timotius 5:17).

Dalam Gereja Orthodox yang sebagai kelanjutan Gereja Purba tidak mengenal kata “Pendeta”. Pembaca bisa mencari di Alkitab dari Kitab Kejadian (PL) sampai Kitab Wahyu (PB) tentu tidak pernah ditemukan gelar “pendeta”, sebab pendeta di Indonesia merupakan pinjaman dari Agama Hindu.

Dalam Gereja Orthodox, kita juga mengetahui adanya penerus para Rasul yang catatannya masih tersimpan rapi dalam dokumen-dokumen Gereja. Misalnya, Ignatius dari Antiokhia (29-107 M) murid dari Rasul Petrus dan Yohanes, Polycarpus Uskup Smyrna (59-156 M) murid dari Yohanes, Klemen dari Roma (60-101 M) teman seperjalanan Paulus murid Petrus, Papias Uskup Hierapolis (60-155 M) murid Yohanes, Irenæus Uskup Lyon murid Polycarpus, Linus dari Roma penerus Petrus dan Paulus, Ananias dari Alexandria murid Rasul Markus, Stachys (38-54 M) murid dari Rasul Andreas, dan masih banyak lagi.

Mereka itulah yang disebut sebagai Bapa-bapa Gereja, sekaligus saksi-saksi iman yang mempunyai mata rantai, suksesi apostolik (Khîlafah Rasuliyyah) yang masih mempertahankan ajaran.

PENTARKHI “Lima Pusat Kekristenan”

Mendekati akhir dan tanpa berkepanjangan, saya meringkas seminimal mungkin tentang sejarah Gereja Orthodox, sebab jika pembaca masih ingin mengetahui lebih lanjut untuk mempelajarinya, pembaca dapat mengikuti kelas secara daring maupun offline dengan penulis.

Kembali kepada pembahasan, Gereja semakin berkembang pesat setelah para Rasul berdiaspora keluar untuk memberitakan Injil. Dan, tak dipungkiri Kekristenan juga mengalami penganiayaan dan penindasan yang hebat oleh bangsa Romawi selama 300 tahun.

Seperti yang sudah disebutkan diatas tentang para penerus rasul, tak lama kemudian ada lima kota pusat Kekristenan, diantaranya Roma, Yerusalem, Byzantium (Turki sekarang), Alexandria-Mesir, dan Antiokhia.

Untuk memudahkan pembaca, istilah Gereja Timur dan Gereja Barat sebenarnya berasal dari lima pusat itu. Gereja Barat merupakan istilah untuk Gereja yang ada di wilayah Roma, dan memang hanya satu saja (Prostestan belum ada), dan Gereja Timur digolongkan dari empat pusat yang lain, Gereja yang ada di wilayah Antiokhia, Alexandria, Byzantium, Yerusalem.

Baca Juga: Gereja Timur Orthodox: Ajaran baru kah? Gereja baru kah?

Lima kota sebagai pusat ini menjadi penting bagi Gereja Purba sehingga dalam lima pusat itu memiliki pemimpinnya masing-masing yang disebut sebagai Paus (bahasa Latin Pappas artinya “bapa”) atau Patriarkh (bahasa Yunani artinya “bapa”), maka dari itu zaman sekarang pembaca mungkin mengenal nama Paus, itulah pemimpin tertinggi Gereja, dan lima pusat inilah yang disebut Pentarkhi (Penta = lima & arkhi = awal, pemimpin). Kendatipun terdapat lima wilayah yang berbeda, di tempat yang berbeda tetapi ajarannya tetap satu dan sama.

Menurut perkembangannya, Gereja di Yerusalem sejak awal dipimpin oleh Rasul Yakobus, saudara tiri Tuhan Yesus (bukan saudara kandung, karena Yesus hanya satu-satunya Anak Maria), dan dilanjutkan oleh Simon (bukan Petrus). Gereja ini sampai sekarang yang dikenal dengan Gereja Orthodox di Yerusalem. Gereja di Antiokhia dipimpin oleh Rasul Petrus yang kemudian ia hijrah ke Roma dan mati syahid di Roma, lalu di Antiokhia diteruskan oleh Evodius, Ignatius, dan seterusnya, yang sampai sekarang dikenal dengan Gereja Orthodox Syria.

Gereja di Roma dipimpin oleh Rasul Petrus dan Paulus hingga akhirnya mereka wafat disana, dan diteruskan oleh Linus, Klemen, Anakletus, dan seterusnya, hingga sekarang yang dikenal dengan Gereja Roma Katolik. Sedangkan, Gereja di Alexandria, Mesir hasil dari penginjilan Rasul Markus yang diutus oleh Petrus, dilanjutkan oleh Ananias dan seterusnya, yang sampai sekarang dikenal dengan Gereja Orthodox Koptik.

Ada juga Gereja di Byzantium, hasil penginjilan dari Rasul Andreas saudara kandung Petrus, tatkala ia menginjil sampai ke pulau Cyprus, Patras, Asia Kecil, dan kota Byzantion.

Pada tahun 313 M, setelah memenangkan peperangan dengan Maxentius dan menjadi Kaisar, sekaligus pertobatannya menjadi pengikut Kristus, Konstantinus Agung mengeluarkan Edic Milan, suatu keputusan kebebasan untuk rakyat dalam beribadah yang notabene adalah iman Kristen, setelah masa yang panjang umat mengalami penindasan oleh Kerajaan Romawi selama 300 tahun, kini dapat bernafas lega.

Atas nazar-nya Konstantinus kepada Kristus karena ia menang, maka ia mempersembahkan kemenangannya dengan memindahkan ibukota Kerajaan yang lama (Roma) ke ibukota yang baru, yaitu Byzantium, dan kota itu menjadi nama Konstantinopolis atau Konstantinopel yang artinya “kotanya Konstantin”, maka dengan itu Romawi memiliki dua wajah yaitu Romawi Barat dan Romawi Timur, yang sekarang di zaman modern dikenal dengan nama Istanbul karena dikuasai Islam.

Dari Gereja di Konstantin inilah sampai sekarang kita mengenal Gereja Orthodox Yunani Konstantinopel. Jadi Kekristenan Byzantium bukan baru saja berasal dari Konstantin, tapi sebelumnya sudah ada hasil dari Rasul Andreas tadi. Hal ini dikarenakan Kerajaan Romawi kemudian menjadi Kristen, maka pada masa Konstantin Kekristenan menjadi agama negara.

Demikian Gereja Orthodox bukanlah Gereja yang baru, dan kata orthodox sendiri berasal dari kata Yunani yaitu orthos = “lurus, benar” dan doxa = ajaran, maka orthodox adalah “ajaran yang benar dan lurus, yang meneruskan ajaran para Rasul”, dan kata orthodox sendiri muncul sebagai tandingan untuk melawan ajaran bid’ah, ajaran yang heterodox (heteros = lain/menyimpang) pada zaman Bapa-bapa Gereja.

 

Jurjis Gigih, Pemuda Orthodox dan Alumni Anjangsana Pemuda Intas Iman

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed