Cinta Tidak Memiliki Agama, Semua Agama memiliki Cinta

Kabar Utama, Opini165 Views

Kabar Damai | Rabu, 23 November 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Dalam talkshow Tolerance as the Foundation of Religious Freedom, Habib Husein Jafar menjelaskan hubungan manusia dengan toleransi.

Penyebab seseorang menjadi pelaku kekerasan atas nama agama

Habib husein menyampaikan seseorang berlaku intoleran terhadap orang lain disebabkan oleh faktor dalam diri. Ia mengaitkan dengan filsafat Stoisisme yang melihat segala kekacauan bukan berasal dari luar diri individu yang bersangkutan, melainkan pilihan dan kedaulatan sendiri. Oleh karenanya, seseorang menjadi intoleran adalah sikap yang dipilih, tidak dipengaruhi oleh keadaan di luar diri.

Lalu mengapa individu seseorang bisa terjebak dalam intoleransi?

Habib Husein menjelaskan terdapat dua faktor, pertama, kebodohan manusia. Islam secara gamlang menjelaskan bahwa kebodohan adalah musuh yang mesti dilawan. Ali Bin Abi Thalib mengatakan “lebih baik saya mempunyai musuh yang pintar daripada teman yang bodoh”. Kebodohan dapat menciptakan kekacauan luar biasa dalam system social masyarakat.

Dalam hal ini manusia yang tidak menyadari bahwa Tuhan menciptakan kita dalam perbedaan. Kebodohan ini membawa manusia pada sikap buruk dalam menghadapi perbedaan, sehingga melanggengkan tindakan kekerasan bahkan merestui pembunuhan terhadap individu yang berbeda darinya.

Oleh karenanya dalam Islam untuk mencapai derajat tertinggi tidak hanya keimanan saja namun keimanan yang diiringi oleh pengetahuan dan ilmu yang tinggi untuk mencapai derajat tertinggi.

Kedua, ego atau nafsu, keengaanan menerima orang yang berbeda diiringi dengan perasaam merasa palig benar membawa kita pada sikap yang akan berujung pada intoleransi. Sehingga, Habib Husein menyimpulkan, sikap intoleransi ini berasal dari dalam diri individu yang tidak dipengaruhi oleh pihak luar manapun.

Dengan gaya santainya, Habib Husein bahkan mengaitkan dua faktor di atas jika kita telusuri maka DNAnya akan terhubung langsung pada Firaun yang kemudian langsung tembus pada iblis. Sifat ananiah, angkuh, egois, bersumber pada iblis, ia membawa kita kembali mengingat sejarah bagaimana Iblis, menolak untuk tunduk pada Adam karena Adam tercipta dari tanah yang dianggap lebih rendah dari iblis yang tercipta dari Api. Bahkan Habib menyampaikan, kasus rasisme pertama di dunia dilakukan oleh iblis.

Baca juga: Harkirtan Kaur bicara soal toleransi

Habib mencontohkan lagi, ia takut jika hars masuk sendirian ke dalam gudang yang ada di sudut rumahnya. Karena tempat itu gelap dan jarang sekali dikunjungi oleh dirinya. “Tempat yang dituduh horor adalah tempat yang jarang kita kunjungi , saya meyakini di gudang saya horor, saya paling minim mengakses gudang, udaranya berbeda, bulu saya merinding”. jelas Habib.

Oleh karenanya tak kenal maka ta’aruf, jika demikian barulah kita bisa saling menyayangi. Dulu Habib sempat berpikir bahwa Gereja penginjil adalah gereja yang kerjaannya mengupdate injil, karena injil isinya berbeda. “Itu isu yang berkembang di teman-teman saya”, katanya. Sempat terhasut isu tersebut dan menganggap itu sebuah kebenaran.

Habib juga bercerita soal kebingungan temannya yang bertemu dengan orang kristen yang baik. Dalam pikiran temannya, hanya orang islam saja yang baik dan rasanya aneh sekali jika orang Kristen juga berbuat baik pada diriny. Lalu habib menyampaikan, “akan lebih aneh kalau ada orang Islam yang tidak baik, karena islam membawa kita pada kebaikan”, katanya.

Habib juga menambahkan, pertanyaan itu bukanlah sebuah pertanyaa.”Karena semua agama mengajarkan kebaikan”, kata Habib.

Sehingga pertanyaan kenapa orang yang agamanya berbeda dengan kita bisa berbuat kebaikan adalah pertanyaan bodoh yang tidak dilandaskan ilmu pengetahuan. “Karena semua agama mengajarkan kebaikan dengan platform yang berbeda”, lanjutnya.

Terakhir Habib berkata bahwa cinta tidak memiliki agama, namun semua agama memiliki cinta. “Saya selalu bilang, cinta tidak memiliki agama, semua agama memiliki cinta, pengetahuan itu menjadi dasar kita toleransi, untuk kita membebaskan orang memilih agama masing-masing”, tuturnya.

Perlunya Toleransi Memperkuat Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

Habib lagi-lagi menyinggung soal ilmu pengetahuan sebagai dasar dari toleransi, pengetahuan dapat mengantarkan seseorang dalam sikap kebijaksanaan dan penerimaan yang besar terhadap perbedaan.

Dalam hal ini, seseorang dengan pengetahuan dasar bahwa perbedaan agama adalah realita akan membawa manusia pada sikap toleransi. Al-quran menyebutkan “Fastabikul Khairat” yang artinya “berlomba-lombalah dalam kebaikan”.

Alquran menekankan agar umat manusia berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba dalam kebenaran. Habib menjelaskan lagi bahwa kebaikan menjadi titik temu di antara perbedaan agama. Sehingga persoalan kebeneran agama tidak menjadi perdebatan.

Habib mengibaratkan kebenaran dan iman itu layaknya pakaian dalam. “Kalau tidak dipakai tidak enak, namun tidak perlu juga kita tunjukan pada orang lain”, artinya iman itu bersifat privasi yang hak kebenarannya dan kadar keimanan hanya cukup menjadi hubungan kita dengan Tuhan.

Perbedaan agama adalah realita yang diciptakan Tuhan di Alam semesta ini. Habib menyampaikan Tuhan menciptakan kamu dalam perbedaan bukan untuk saling bermusuhan namun untuk saling bersama.

Toleransi dibutuhkan sebagai fondasi kita dalam menangani kasus Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) ini. Agar kita bisa hidup bersama di tengah perbedaan, toleransi yang dapat membuat kita menerima, saling belajar, saling menyayangi dan puncaknya saling bekerja sama untuk sesuatu yang menurut kita adalah kepentingan bersama di tengah perbedaan. Karena manusia cenderung tidak toleran kepada sesuatu yang tidak dia ketahui.

Bahwa iman itu tidak di tubuh tapi di hati, bagaimana anda bisa memaksaakan orang masuk islam, tapu tidak bisa memaksa orang untuk menyembah Allah. Orang bisa memaksa salat, tapi tidak bisa memaksa hatinya untuk tunduk pada menjadi inti dari salat, ketundukan hati. “Tidak masuk akal tidak membebaskan orang lain pada agamanya, justru itu menodai agama”, jelas Habib.

Lagi-lagi Habib memberikan menganalogikan toleransi dan kerjasama ibarat lima jari mendorong satu pintu. Bayangkan jika satu jari saja mendorong pintu, maka pintu yang berat itu tidak akan terbuka. Begitu juga kebersamaan di tengah perbedaan akan menjadi kekuatan bagi kita untuk menyelesaikan masalah.

Habib melanjutkan kebersamaan ini akan menjadi satu keindahan sendiri, contohnya nada, tercipta dari beda, jika tidak beda maka tidak bisa menjadi nada, jadi nada yang indah tecipta dari perbedaan. Perbedaan adalah rahmat, adalah ekspresi dari tuhan kepada umat mansuia, perbedaan itu agar kita saling mengenal dan mengisi.

 

Penulis : Amatul Noor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *