Wadah Para Calon Pejuang Perdamaian

Oleh Rafi Akbar Setiawan

 

“Toleransi dan intoleransi diciptakan oleh manusia, lantas kenapa manusia harus menciptakan intoleransi lebih dulu yang kemudian berujung pada penciptaan toleransi itu sendiri”

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki agama yang sangat beragam, mulai dari agama mayoritas yakni Islam; Kristen; Katolik; Budha; Hindu; dan Konghucu. Aliran kepercayaan seperti aliran kepercayaan Perjalanan; Sapta Darma; Sumarah; Subud. Agama lokal seperti Parmalim; Kaharingan; Djawa Sunda. Sampai pada agama minoritas bahkan ultraminoritas seperti Kristen Ortodoks; Yahudi; dan Baha’i.

Mereka merupakan penduduk warga negara Indonesia yang sudah jelas dilindungi negara, selama mereka tidak melakukan hal yang bertentangan dengan ideologi negara. Sejalan dengan pasal 29 UUD 1945 yang menyatakan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Maka dari dasar tersebut, tidak ada lagi alasan untuk melakukan berbagai kejahatan yang mengatasnamakan agama. Akan tetapi, jika dilihat secara realistis, masih banyak pelaku kejahatan yang mengatasnamakan agama.

Realitas Akibat Keberagaman di Indonesia

 Meskipun sudah jelas ada pasal yang mengatur tentang kebebasan beragama di Indonesia, tetapi banyak masyarakat yang dengan bangganya mengintimidasi yang tidak seiman dengan mereka. Jika dilihat dari tingkat intoleransi di berbagai kota di Indonesia yang disurvei oleh Setara Institute pada tahun 2021 menunjukkan bahwa Depok menempati posisi pertama sebagai kota dengan indeks intoleransi tertinggi di Indonesia, disusul dengan Banda Aceh dan Cilegon diurutan ketiga. Mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal Kota Bekasi yang letaknya tak begitu jauh dari Depok menempati urutan keenam sebagai kota dengan indeks tolerasi tertinggi.

Baca Juga: Upaya Mempertahankan Perdamaian Antar Umat Beragama

Jika dianalisa dengan seksama, ada beberapa faktor yang mempengaruhi keadaan ini. Menurut Polri, yang disampaikan pada peringatan Hari Toleransi Internasional yaitu yang pertama, globalisasi dari barat berpengaruh pada menurunnya nilai etika ketimuran. Kedua, dunia politik yang memaksa masyarakat kelas bawah untuk mengkotak-kotakkan diri–yang pada akhirnya membuat banyak perbedaan dan celah untuk melakukan perilaku intoleransi. ketiga, media sosial yang masif dalam memberitakan berita intoleransi dibanding mengangkat tema toleransi.

Wadah Pembentuk Calon Pejuang Perdamaian

Ada banyak tempat untuk membangun toleransi, salah satunya berasal dari jurusan kuliah Studi Agama-Agama (SAA). Mahasiswanya mempelajari semua agama dengan berbagai ajaran dan problematikanya di masyarakat, tak asing lagi bagi mahasiswa SAA dengan masifnya pemberitaan intoleransi di masyarakat. Justru itulah tugas mereka untuk membangun presepsi masyarakat menjadi toleran. Bagaimana cara mereka untuk membangun presepsi tersebut?

Banyak cara yang mereka lakukan untuk mewujudkan toleransi di Indonesia. Dimulai dengan melakukan diskusi dan kunjungan ke komunitas agama. Dalam diskusi tersebut banyak diantaranya yang bercerita tentang pribadi yang selalu diintimidasi oleh agama lain. Hasil dari diskusi tidak langsung lenyap, tapi langsung dieksekusi oleh mahasiswa SAA dengan bukti nyata. Contoh realitanya yakni ketika ada salah satu agama yang tidak dicantumkan pada kolom administrasi, mahasiswa SAA langsung mengviralkan masalah tersebut ke sosial media. Karena kekuatan sosial media sangat berpengaruh besar untuk laporan tersebut. Akhirnya dalam waktu 24 jam kemudian, kolom agama tersebut sudah dicantumkan. Pada akhirnya banyak dari komunitas agama yang melaporkan keluhan mereka kepada mahasiswa SAA. Karena mereka yakin, lewat para mahasiswa inilah suara mereka bisa didengar oleh pemerintah.

Selalu perlakukan orang lain sebagaimana yang Anda inginkan untuk diri Anda sendiri

–Karen Armstrong

Penulis: Rafi Akbar Setiawan, Mahasiswa SAA UIN Jakarta Angkatan 2021

https://ushuluddin.uinjkt.ac.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *