by

Pemuda Sebagai Aktor Mengkampanyekan Perdamaian Di Tengah Kebhinekaan

Oleh: Lina Lutfiana

Indeks kerukunan beragama di Indonesia tahun 2019 menurut sebesar 73,83 dari 100. Data ini menunjukkan adanya potensi sebesar 16,17 persen untuk menciderai kerukunan di Indonesia (simlitbangdiklat.kemenag.go.id).

Indonesia menjadi negara yang paling religius di Asia Pasifik dengan lebih dari 83% penduduk di Indonesia meyakini bahwa agama merupakan suatu hal yang penting. Di sisi lain, data tahun 2020 menurut setara-institute.org, Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) ditemukan 180 peristiwa pelanggaran KBB dengan 422 tindakan. Data di atas menunjukkan masih adanya problematika perdamaian di Indonesia.

Naluri manusia mencintai perdamaian. Namun dalam kenyataannya, masih banyak pihak yang menutup mata akan sesuatu yang tidak sama. Ketidaksamaan itu menimbulkan potensi konflik antar sesama. Seperti cerita singkat penulis berikut.

Penulis memiliki teman muslim dan non-muslim. Kami tinggal di tempat yang sama yaitu sebuah kost. Temanku muslim adalah seorang yang terdidik dan juga menjadi pengajar. Pada suatu ketika temanku non-muslim sedang beribadah, namun temanku yang muslim itu malahan menyalakan musik dengan keras yang menggangu kekhidmatan temanku non-muslim yang sedang beribadah.

Fenomena ini membuat penulis berpikir bahwa pendidikan tinggi bukanlah jaminan untuk memiliki rasa toleransi yang tinggi terhadap pemeluk agama lain.

Kesadaran diri sangatlah diperlukan. Bukan hanya keegoisan diri yang diunggulkan, akan lebih baik rasa memahami dan toleransilah yang ditonjolkan. Kita ketahui agama di Indonesia bukan hanya satu. Banyak pemeluk dari masing-masing agama. Dengan mengenal satu sama lain akan memberikan pemahaman dan rasa toleransi. Untuk itu diperlukan peran pemuda dalam meminimalisir kejadian serupa di atas.

Baca Juga: Tionghoa dan Perdamaian

Pemuda merupakan aset yang berharga pada suatu bangsa. Berbagai gebrakan dan perubahan didominasi oleh peran pemuda. Pemuda menurut WHO merupakan orang dengan usia 10-19 tahun, dimana usia 10-24 tahun sebagai young people dan usia 10-24 tahun sebagai adolescenea.

Sedangkan menurut International Youth Year yang diselenggarakan tahun 1985, menyebutkan orang dengan usia 15-24 tahun sebagai kelompok pemuda. Kita butuh sosok- sosok pemuda yang bukan hanya sadar akan toleransi namun harus aplikatif serta implementatif.

Pemuda adalah pemimpin di masa mendatang. Pemuda saat ini akan menjadi aktor- aktor di berbagai bidang pada masanya. Hal ini, dapat diprediksikan bagaimana keadaan perdamaian di Indonesia di masa depan dengan melihat pemuda di masa sekarang. Pemuda yang sadar akan kebhinekaan dan memiliki rasa toleransi akan menciptakan kerukunan dan kehidupan yang damai di masa sekarang dan mendatang.

Berdasarkan pengalaman penulis dengan semakin banyak mengenal dan mengetahui berbagai perbedaan yang ada, penulis semakin memiliki rasa tenggang rasa. Ini penulis rasakan dan sadari bahwa hal ini terjadi karena penulis sudah mengenal mereka, bukan hanya dari tampilan dan melihat apa yang mereka lakukan. Jika hanya itu yang terjadi akan menimbulkan banyak spekulasi dalam diri. Kita ketahui manusia dianugerahi otak untuk berpikir.

Namun, terkadang karena data yang diserap oleh otak sangatlah terbatas, maka dapat menimbulkan salah penilaian. Adanya fenomena itu menimbulkan keengganan untuk mengakui dan menghormati perbedaan yang ada. Untuk itu sebagai pemuda haruslah dapat bersikap toleran dan menyebarkannya.

Studi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa 98% dari anak-anak dan remaja tahu tentang internet dan 79,5% diantaranya adalah pengguna internet. Pada era disrupsi ini fenomena di depan mata kita diwarnai dengan orang-orang lebih baik diam dan tidak inisiatif untuk bertanya terlebih dahulu dengan ketidaktahuannya. Hal itu dapat diilustrasikan sebagai berikut.

“Aku belum terbuka dan mau untuk menerima informasi itu. Walaupun begitu, aku bisa menilai mereka tanpa aku tahu dulu apa dan siapa sebenarnya mereka”. Padahal dari pernyataan ini akan menimbulkan berbagai dugaan-dugaan yang mereka dugakan dan belum teruji keberannya.

Sungguh ironis. Ditambah lagi pemuda yang kurang kritis akan informasi yang didapatkan, dengan mudahnya percaya dengan informasi yang disebarluaskan. Penyebabnya karena minimnya pengetahuan akan cara dan strategi memperoleh informasi yang valid. Beberapa orang dengan mudahnya percaya begitu saja dengan informasi apa saja yang tersaji di internet, tanpa melakukan analisa terlebih dahulu terhadap sumber informasi tersebut. Melihat fenomena ini, urgensi akan peran pemuda dalam isu perdamaian di masa kini dan mendatang perlu dibahas lebih luas. Pemuda diharuskan bukan hanya bisa membaca berita yang tersaji namun bisa membaca akan kebenaran berita tersebut.

Saling mengenal akan membuat satu sama lain menjadi tahu. Dengan saling tahu dengan pikiran yang terbuka akan membuat individu tidak menghakimi antara satu dengan yang lain. Untuk itu pemuda harus belajar dan diajarkan agar mengenal dan duduk bersama untuk saling bertukar informasi.

Pemuda membutuhkan mentor yang mengarahkan untuk memperhatikan perdamaian. Dengan pengetahuan itu, pemuda dapat menjadi pelopor perdamaian melalui kreativitas mereka guna meningkatkan perdamaian di Indonesia.

Ditambah lagi dengan dekatnya pemuda dengan teknologi dan internet, peran mereka dapat berdampak lebih luas. Untuk itu, kita membutuhkan lebih banyak pemuda lagi yang ambil peran dalam kampanye perdamaian.

 

 Lina Lutfiana, Peserta Sekolah Kepemimpinan Pemuda Lintas Agama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed