by

21 Bait untuk ICRP

-Sastra-18 views

Oleh: Gayatri

Dua puluh satu tahun jejak-jejak cahaya dan harapan masih dapat kutelusuri sambil bersulang untuk Frangky:

Kembang cempaka putih di barat dari benih-benih Pancasila yang disemai Gus Dur dari berbagai-bagai agama dan kepercayaan,

Kukagumi taman yang dipupuk Johan Effendy membangkitkan Bhinneka Tunggal Ika begitu menawan meski dalam pengucilan,

Hujan dari doa Hariyanto menyirami setiap butir asa dengan sejuk meski guruh menggelegar mengerikan,

Berbunga-bunga cantik mempesona dalam sentuhan jiwa Musdah Mulia meski dalam hujatan bak erupsi dan gempa bumi.

Kupandangi saujana kembang cempaka putih di barat bersemi dengan kedalaman kasih Michael,

Tangan-tangan Sudhamek, Haris, dan Chandra yang murah hati berkebun bersama Gede dan Najib meski di bawah langit mendung

Tiada ada yang perlu dicemaskan karena Sylvana memayungi dengan berkat dari segenap cintanya.

Betapa kembang-kembang cempaka putih di Barat merimbun menyerlah meski bencana menyerang,

Meski petir menyambar dari musuh-musuh Tuhan menyerang untuk membungkam menguburkan kita.

Ah, sungguh, Gayatri merindukan kebun yang telah dirawat Monib dengan tawa dan airmatanya,

Hidangan yang pernah disajikan dengan kehangatan hati Ridwan dan siapa saja yang pernah sepanjang hari tulus melayani,

Kurasa mereka yang telah mendahului kita mungkin sekarang makan sate dan gorengan di kahyangan melihat kita,

Seraya menghadiahkan harapan indah dalam suram badai korona sebagai kado ulang tahun.

Walau Nurcholis Ahmad dan anak-anak muda belianya telah datang dan pergi memeriahkan pesta-pesta kali ini,

Namun tetap terkenang suara Atik, Lusi, Bobi, Mukhlisin, dan Chris saling bertelingkah memecah sunyi dan berenang dalam banjir.

Alangkah syukur kupanjatkan karena kumiliki saudara-saudara baru satu kemanusiaan dari kelas-kelas Sekolah Agama,

Begitu juga mereka yang ikut naik kereta dan melakukan perjalanan beranjang sana ke rumah-rumah

Tuhan dan manusia.

Betapa elok tenteram semua bagai kelopak-kelopak kembang cempaka putih di Barat yang menyemarakkan Indonesia dan dunia,

Di taman cempaka putih ini kita telah menjadi keluarga di bumi dan di bawah langit dalam gelap maupun terang benderang:

Ayah, ibu, paman, bibi, kakek, nenek, kakak, adik, semua meriung intim dan mesra di dalam rumah

Konfrensi Indonesia untuk Agama-agama dan Perdamaian.

19 Juli, 2021.

Gayatri Muthari, Generasi Hijrah Indonesia

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *