Yuni: Mimpi Perempuan di Tengah Belenggu Patriarki

Kabar Utama553 Views

Kabar Damai I Senin, 20 Desember 2021

Jakarta I kabardamai.id I Industri film di tanah air mengalami cukup banyak kemajuan. Kini topik yang diangkat pun tak hanya seputar kisah percintaan remaja saja, tapi sudah mampu mengangkat isu-isu yang ada di sekitar masyarakat. Salah satu film yang berani dalam hal itu tak lain ialah YUNI.

Sejak sebelum perilisannya, YUNI telah menuai banyak respon yang positif dari berbagai kalangan. Bahkan film ini juga pernah diputar dalam beberapa festival film yang membuat namanya semakin dikenal. Tak lupa juga bahwa YUNI pernah memborong 14 nominasi di Festival Film Indonesia 2021 lalu.

Film ini mendapatkan penghargaan “Platform Prize” di Toronto International Film Festival (TIFF) 2021. Lalu, Yuni juga ditunjuk sebagai film perwakilan Indonesia untuk masuk nominasi “Best International Feature Film” Oscar 2022.

Yuni berkisah tentang seorang anak SMA Banten yang berprestasi di sekolahnya. Menjelang kelulusannya, Yuni malah mendapatkan lamaran dari dua laki-laki.

Topik yang diangkat oleh tontonan satu ini memang sangat relate dengan apa yang terjadi di masyarakat. Kisahnya mengenai seorang gadis bernama Yuni yang harus bimbang antara melanjutkan kuliahnya atau memutuskan untuk menikah saja. Gadis itu mempunyai cita-cita dan ingin mewujudkan cita-cita tersebut.

Kemudian tekanan tersebut semakin meningkat manakala datang lamaran dari pria ketiga yang membuat Yuni semakin kebingungan. Dirinya tidak tahu apakah harus mempercayai mitos yang beredar atau nekad untuk terus meraih cita-cita dan mewujudkan mimpi yang selama ini ada di benaknya.

Baca Juga: Yumi’s Cell: Memahami Perasaan dan Mencintai Diri Melalui Sel-sel Otak

Ia bertanya dan meminta solusi kepada orang tua dan orang yang dikenalnya. Namun, tekanan dari masyarakat tidak mengendur dan membuat Yuni semakin kebingungan. Pada akhirnya apakah gadis tersebut mampu memilih kebebasannya sendiri dan apa keputusan yang akan diambil?

Yuni dituntut untuk mengikuti ‘budaya’ dan ekspetasi lingkungan yang mengatakan bahwa tempatnya wanita hanya sebatas menjadi istri seseorang, tidak perlu pendidikan tinggi dan kebebasan untuk mengejar mimpinya.

Menampilkan Banyak Isu

Yuni dipaksa untuk dewasa dari umurnya. Di sisi lain, ia ingin merasakan kebebasan. Namun, di sisi lain terdapat sebuah mitos bagi perempuan yang menolak lamaran laki-laki hingga lebih dari dua kali, berakibat sulit mendapatkan jodoh ke depannya.

Selain memperlihatkan isu patriarki yang melekat di Indonesia, khususnya di pedesaan. Film ini juga berhasil menampilkan isu pernikahan di bawah umur, pendidikan seks, hingga LGBT secara apik dan halus.

Minimnya pendidikan seks di Indonesia, dalam film Yuni memperlihatkan konsep yang selama ini menetap dalam pikiran kebanyakan orang saat membudayakan pernikahan dini, yaitu dengan dalih untuk mencegah hamil di luar nikah, ekonomi, serta perempuan yang sudah tidak perawan dianggap sebagai aib di keluarga.

Potret Yuni dalam film diceritakan seorang remaja yang memiliki keingintahuan tinggi layaknya yang dirasakan oleh remaja pada umumnya ketika beranjak dewasa.

Sutradara Kamila pernah mengungkapkan bahwa film Yuni terinspirasi dari kisah asisten rumah tangganya yang sudah punya cucu di usianya yang masih muda. Yuni jelas menampilkan premis yang mengangkat isu tentang pernikahan di bawah umur yang masih dianggap lumrah sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya di pedesaan.

Ketika menonton film ini, kamu seperti menonton rekaman kehidupan sehari-harinya seorang gadis desa di Serang bernama Yuni. Ketika muncul konflik, konflik yang ditampilkan pun tidak terasa berlebihan atau dibuat-buat seperti film drama kebanyakan. Walau penggambarannya sederhana, film ini mampu membuat penontonnya bisa merasakan pergolakan batin yang dialami oleh Yuni.

Sebelum tampil di Yuni, Arawinda Kirana terlebih dulu tampil di film Quarantine Tales (2020). Namun fakta mengejutkannya, Yuni sebenarnya adalah proyek pertamanya Arawinda sebagai aktris. Bahkan pada pengalaman pertamanya sebagai aktris, Arawinda langsung mendapatkan penghargaan bergengsi dengan mendapatkan penghargaan “Aktris Terbaik” FFI 2021 lewat perannya di Yuni.

Berperan sebagai Yuni, Arawinda mampu membawakan karakter tersebut dengan begitu sempurna. Arawinda berhasil menampilkan segala emosi dan ekspresinya Yuni secara organik. Kamu dijamin enggak percaya, deh, bahwa aktingnya Arawinda di film ini ternyata merupakan pengalaman pertamanya membintangi film.

Mengangkat Kebudayaan Serang

Film yang mengangkat unsur kebudayaan sudah jadi hal yang biasa. Namun, sutradara Kamila memutuskan memilih kebudayaan dari daerah yang jarang disorot oleh media, yaitu Serang. Lewat film ini, kamu bisa mendengarkan penggunaan bahasa Jawa Serang (Jaseng) di sepanjang filmnya karena Jaseng digunakan sebagai bahasa utama dalam percakapan di Yuni.

Yuni sebenarnya enggak menampilkan kehidupan di pedesaan yang terpencil atau pedalaman. Kondisi yang berada di sekitar Yuni sudah tersentuh oleh teknologi, bahkan dikelilingi oleh industri pabrik. Selain penggunaan bahasa Jaseng, sutradara Kamila juga enggak lupa menambahkan unsur kebudayaan Banten lainnya, sehingga penonton benar-benar merasakan suasana Serang bak aslinya.

Salah satu yang membuat suasana Serang begitu kentara adalah kehadiran adegan yang memperlihatkan Yuni terlibat dalam kegiatan pencak silat. Yuni bahkan ikut tampil mengisi pertunjukkan pencak silat di salah satu pernikahan temannya. Hebatnya lagi, sutradara Kamila juga mengungkapkan bahwa Yuni juga melibatkan aktor yang benar-benar berasal dari Serang.

 

Peresensi: Fitri Nur Hidayah, Anggota LPM Suaka

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *