by

Yudhi Latief: Puasa Jadi Landasan dalam Etika dan Moralitas

Kabar Damai | Senin, 19 April 2021

 

Jakarta I Kabardamai.id I Nurcholish Madjid Society melalui official akun instagram resminya menyelenggarakan bincang dengan tema Puasa dan Moralitas Politik pada Kamis, (15/4/2021). Yudhi Latif, Dewan Pembina dari Nurcholish Madjid Society hadir sebagai narasumber dalam bincang tersebut.

Yudhi memaparkan puasa pada hakikatnya tidak hanya sebatas menahan lapar dan haus. Lebih dari itu terdapat moralitas yang mana pertanggungjawabannya dilakukan langsung oleh masing-masing individu kepada Tuhan-Nya.

“Seperti sudah dikemukakan oleh para ahli, bahwa dalam negara yang beradab hukum harus berenang di atas samudera etika. Ketidakkecukupan aturan ditutupi oleh kecukupan moralitas. Tapi di dalam masyarakat yang beradab justru hukum itu berenang di landasan tuna etika jadi semakin undang-undang dibuat justru semakin banyak celah maling masuk atas nama hukum,” papar Yudhi.

Hal ini membuat kita frustasi sejak puluhan tahun reformasi yang sudah banyak bergulir, konstitusinya sudah banyak diubah, berbagai undang-undang sudah dibuat namun tidak membuat kita lebih tertib, bermoral dan beradab. Yang terjadi bukan rule of law tapi rule by low.

Ia juga menambahkan dan memberikan contoh tentang permasalahan diatas dengan konteks yang ada di Amerika.

Yudhi melanjutkan, “Katanya jika kita ingin mengerti konstutusi Amerika kita harus baca federalis paper, kumpulan surat-surat, tulisan antar pendiri Amerika yang saling bertanya satu sama lain apa yang di inginkan dengan dibentuknya negara ini (Amerika-red).

Baca Juga : Puasa dan Transformasi Sosial

Jawabannya ingin bahagia. Lalu tidak ada kemerdekaan tanpa kebebasan, tidak ada kebebasan kecuali kita mampu memerintah diri kita sendiri, lalu tidak ada pemerintahan jika kita tidak mendirikan konstitusi dan terakhir tidak ada konstitusi tanpa adanya moral.”

Terdapat kaitan antara tertib politik dan tertib moral, yang terbagi dalam tiga fase. Pertama, apa yang dimaksud dengan organisasi pemerintahan dan politik yang bersifat impersonal, bukan seperti negara patrimonial yang menganggap negara adalah milikku, bersifat pramodern karena bertumbuh hanya karena kekuatan perseorangan.

Kedua rule of law, dibawah aturan hukum. Intinya aturan-aturan itu berlaku pada siapapun tanpa pandang bulu termasuk kalangan superior sekalipun. Ketiga, negara tertib atau beradab itu adalah negara yang memiliki democratic akuntability terhadap publik, bagaimana kekuasaan melindungi siapa saja tanpa pandang bulu.

Menurut Yudhi etika dan moralitas berkaitan dengan berpuasa.

“Pertama, ibadah puasa ini jantungnya dari impersonalitas, karena didalam puasa orang tidak tau apakah kita benar puasa atau tdk puasa, Kedua, dalam puasa itu mau raja, rakyat, atau siapapun aturan tentang puasa itu sama, ketiga, puasa melatih tentang akuntabilitas. Kita diwajibkan nantinya untuk berzakat fitrah belajar, berani berbicara dengan jujur dengan nuraninya sendiri,” terang Yudhi.

Puasa sangat cocok dalam dijadikan sebagai upaya untuk membudayakan moralitas. Oleh karena itu, komponenanya harus dipahami secara benar. Tidak sekedar hanya untuk tahu, namun juga untuk berbuat.

“Bagaimana moralitas itu bisa dibudayakan, menanam dari nilai-nilai moralitas. Hidup bermoral adalah hidup yang excellent namun bukan dalam konteks mengetahui dan membuat saja secara skil namun dalam konteks ini dalam berbuat atau bertindak. Dalam sistem pendidikan kita termasuk dalam pelajaran agama, sebatas hanya learning to know tapi jarang kita membudayakan untuk learning to do dalam arti berbuat,” jelas Yudhi Latief lebih jauh.

Menutup pemaparan, Yudhi Latief memperjelas tiga elemen berbuat dalam puasa yang ketiganya mengajarkan tentang ajaran etis, bukan sebatas pada menahan lapar dan haus semata.

“Ada tiga elemen berbuat , pertama ialah belajar bertingkah laku benar. kedua dalam berbuat itu ada yang namanya memilih. ketiga adalah setting the goals untuk mengetahui moral purpose dalam hidup kita dan dalam hidup bersama. Caranya dengan melalui training-training, selama ini salah satu training dalam membudayakan moral itu saya kita adalah lewat puasa, sayang sekali selama ini puasa hanya dilihat dalam menahan lapar,” pungkasnya.

 

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed