by

Yenny Wahid: Kegelisahan, Rasa Ketidakadilan Faktor Pendorong Radikalisme

Kabar Damai | Kamis, 29 Juli 2021

Jakarta | kabardamai.id | Keresahan, kegelisahan, dan perasaan ketidakadilan merupakan faktor terkuat yang mendorong seseorang untuk menjadi radikal. Hal itu dikatakan Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid.

“Bukan faktor agama, namun karena kegelisahannya,” kata Yenny Wahid pada seminar daring bertema Masa Depan Kebangsaan dan Demokrasi Indonesia yang diadakan oleh lembaga think-tank, Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Senin, 26 Juli 2021, dikutip dari Antara.

Yenny menjelaskan bahwa seseorang yang merasa gelisah akan dengan mudah mengalami pencucian otak oleh “oknum-oknum kharismatik” yang dinilai dapat memberi jawaban bagi kegelisahan mereka.

“Oknum-oknum kharismatik” ini, kata Yenny merekrut “orang-orang gelisah” untuk bergabung dalam kelompok-kelompok radikal yang sesuai dengan kepentingan oknum tersebut.

Baca Juga: Yenny Wahid: Jaga Anak dengan Vaksin

Yenny Wahid juga memaparkan terdapat banyak penyebab kegelisahan yang dihadapi oleh masyarakat. Adapun contoh dari kegelisahan tersebut dapat disebabkan oleh agama, politik, bahkan perekonomian.

Ia mengacu pada demonstrasi pro-Donald Trump di Capitol Hill sebagai contoh radikalisme yang disebabkan oleh kegelisahan politik. Di mana orang-orang kulit putih yang merasa terpinggirkan dan semakin terasing ketika era Presiden Obama, memutuskan untuk menjadi pendukung radikal Donald Trump karena merasa Donald Trump memberi ketenangan atas kegelisahan mereka.

Adapun aksi demonstrasi tersebut diakibatkan oleh kekalahan Donald Trump dalam pemilihan presiden di Amerika Serikat ketika melawan Joe Biden.

“Jadi keliru kalau melihat radikalisme hanya berbasis agama,” tutur Yenny Wahid.

Ia juga menambahkan apa saja yang bisa menyentuh sisi emosional manusia dapat menjadi penyebab munculnya radikalisme.

Yenny Wahid menyebut kaum-kaum radikal akan menjadi salah satu alat yang digunakan oleh oknum tertentu untuk menggerakkan propaganda terorisme.

“Semua pelaku terorisme merupakan seseorang yang rentan sekali. (Seperti) orang yang putus asa, orang yang rendah diri, dan orang yang gelisah,” ucap Yenny.

Radikalisme merupakan salah satu tantangan pada demokrasi Indonesia saat ini. Kemunculan kelompok-kelompok teroris, baik yang berlandaskan keinginan untuk memisahkan diri maupun memperjuangkan ideologi agama, tengah mengancam proses demokrasi dan tatanan kebangsaan di Indonesia.

Cegah Anak dari Paparan Ajaran Radikalisme

Sementara itu, ajaran radikalisme telah menyentuh banyak anak-anak. Bagaimana cara agar anak kita tidak terpapar radikalisme?

Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2021 tentang pencegahan dan penanggulangan terorisme di Indonesia.

Namun demikian pemerintah membutuhkan bantuan dari seluruh elemen terkecil masyarakat, salah satunya keluarga, untuk menekan angka terorisme di Indonesia.

Maraknya aksi terorisme terjadi karena masuknya paham-paham radikalisme. Paham ini bisa dicegah dengan pola asuh yang tepat.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Ilham Nur Alfian, bersumber dari laman Unair, menjelaskan jika keluarga merupakan tempat pertama anak mendapatkan pelajaran mereka.

Di dalam keluarga mereka belajar tentang nilai-nilai kerukunan, toleransi dan pengakuan atas keberagaman melalui interaksi yang mereka lakukan dengan anggota keluarga.

Keluarga menjadi garda terdepan untuk mencegah pola pikir radikal yang bisa menimbulkan aksi terorisme. Karenanya keluarga memiliki peran penting untuk mendiskusikan informasi yang saat ini sangat mudah didapatkan.

Ilham juga menuturkan jika orangtua perlu memiliki pemahaman keagamaan yang benar dan utuh sehingga bisa memberikan contoh praktik keagamaan yang baik.

“Jika orangtua sudah menjadi contoh yang baik dalam praktik keagamaan, anak akan dapat percaya dan tidak segan membuka topik pembicaraan seputar paham keagamaan yang telah mereka terima,” jelasnya seperti dikutip dari laman resmi Unair.

Pola Asuh yang Tepat Cegah Paham Radikalisme

Untuk mencegah paham radikalisme masuk dalam lingkungan keluarga terutama pada anak adalah menerapkan pola asuh yang tepat.

Menurut Ilham, pola asuh yang demokratis dan toleran bisa menjadi benteng untuk menghalau ajaran terorisme. Orangtua bisa memiliki kontrol yang tinggi pada anak tetapi tetap terjalin hubungan yang hangat.

“Dengan model pengasuhan ini orangtua akan mampu mengarahkan aktivitas anak, memberikan dorongan, menghargai tingkah laku anak, dan membimbingnya,” jelasnya.

Anak bisa bebas mengurus diri mereka sendiri namun tetap mengedepankan kedisiplinan yang sudah disepakati bersama.

Kunci kesuksesan dalam pola pengasuhan demokratis adalah komunikasi. Jangan membuat konsep bahwa orangtua selalu benar.

Karena orangtua juga merupakan manusia maka Anda juga tidak luput dari kesalahan. Hal ini diperlukan agar Anda bisa menerima masukan dan keinginan buah hati.

Anak menjadi lebih paham dengan perbedaan dan terhindar dari intoleransi karena sudah terbiasa dengan diskusi yang beragam.

Jika pola pikir buah hati sudah terbentuk demokratis, mereka bisa terhindar dari radikalisme, kasar, dan memaksakan kehendak. [antara/unair]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed