by

Yahya Abdul Rasyid: Rentenir Sosial Memanfaatkan Pandemi untuk Keuntungan

Allah Swt. mengharamkan riba sesuai dengan firman-Nya di dalam al-Qur`an,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan,” (QS. li ʻImrân: 130)

Menurut Yahya ‘Abdul Rasyid, Kandidat Doktor Ilmu Al-Qur’an dan  Tafsir Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta dalam khutbahnya yang digelar Majelis Taklim Hilful Fudhul, dia menjelaskan mengenai riba yang diharamkan.

“riba yang diharamkan adalah riba yang sifatnya mengeksploitasi dan atau menzhalimi debitur seperti lintah darat dan Pinjol (pinjaman online) dengan bunga 1%/hari plus teror bila terjadi keterlambatan pembayaran. Ini lebih kejam dari riba Jahiliyah,” ujar Yahya Jumat, (16/07/2021)

Berdasarkan metodologi makhârij fiqhîyyah (solusi hukum Islam), dengan iʼâdah al-nazhar (peninjauan ulang terhadap pendapat terdahulu) dan tahqîq al-manâth (analisa argumen hukum/ʻillah), maka khatib melakukan reinterpretasi pemahaman tekstual terkait riba yang semula hanya dimaksudkan untuk muâʼmalah mâlîyyah kepada pemahaman muamalah lainnya yaitu interaksi politik dan sosial, karena di bidang ini juga terjadi transaksi materi maupun immateri yang efek ribanya bisa lebih dahsyat dari pada riba muâʼmalah mâlîyyah.

Baca Juga: Anil Kumar, Pria Hindu yang Tulis Kaligrafi Alquran di 200 Masjid India

Dua-duanya mempunyai persamaan ʻillah hukum yaitu kezhaliman. Firman Allah Swt. dalam QS. al-Baqarah: 279,

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat [dari pengambilan riba], maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak zhalim (merugikan) dan tidak [pula] dizhalimi (dirugikan),” [QS. al-Baqarah: 279].

Yahya melanjutkan, “Ciri-ciri transaksi yang mengandung substansi riba adalah apabila dalam prosesnya terdapat unsur-unsur: maysir gambling), gharar (penipuan), dharar (curang), risywah (suap), najasy (cornering).”

Menurut data dari KPK tahun 2020, kontribusi terbesar yang memperburuk CPI (Corruption Perception Index) adalah sektor korupsi politik dan korupsi ekonomi (perizinan eksim; perdagangan dan pajak) yang melibatkan 21 orang anggota DPR dan DPRD: 55 orang pejabat/politikus dan 31 orang swasta. Hampir dapat dipastikan dalam setiap kasus korupsi politik ekonomi sosial tersebut mengandung unsur-unsur terlarang dalam proses transaksinya.

“Di antara contoh riba politik adalah deal-deal transaksi politik dalam proses Pilkada yang
menghasilkan materi atau non materi yang merugikan (menzhalimi) negara/rakyat. Deal-deal investor (rentenir) politik dengan partai politik dan atau calon pejabat yang kelak harus dibayar dengan mengambil hak-hak publik, mengeksploitasi sumber alam dan atau merusak ekosistem,” terang Yahya.

Kemudian, contoh riba sosial paling kekinian adalah kasus vaksin dan test PCR Covid-19. Apapun lembaganya, siapapun pelakunya yang memanfaatkan pandemi Covid-19 untuk mengeruk keuntungan secara batil sehingga menzhalimi manusia dan kemanusiaan maka ia adalah rentenir sosial. Ia telah merusak tatanan homo homini socius menjadi the real homo homini lupus.

Dari semua ini, Yahya menegaskan keseimpulan yang dapat ditarik, “bahwa substansi riba politik dan sosial adalah, berbagai bentuk usaha untuk mengeruk keuntungan materil maupun non materil dengan cara menzhalimi dan atau mengeksploitasi kepentingan publik sehingga merugikan masyarakat banyak.”

Allah Swt. Berfirman dalam QS. al-Rum: 41

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar),” (QS. al-Rum : 41)

Syaikh Wahbah al-Zuhaili dalam kitab tafsir “al-Munîr” menafsirkan ayat tersebut di atas sebagai suatu kondisi kacau dan rusak, paceklik, wabah, banjir, kekeringan disebabkan oleh kemaksiatan, kemudharatan (a-sosial), kezhaliman dan dosa-dosa manusia.

“Solusinya dari menghindari semua hal yang saya jeaskan diatas  adalah manusia harus sadar, insaf, meninggalkan perilaku buruk dan bertaubat,” pungkas Yahya.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed