by

Wujud Toleransi, Warga Katolik Wakafkan Tanah untuk Sekolah Muhammadiyah NTT

Kabar Damai | Senin, 11 Oktober 2021

Maumere | kabardamai.id | Sejumlah warga Desa Walangsaawa, Kecamatan Omesuri, Maumere, NTT, mewakafkan tanahnya untuk pembangunan SMK Muhammadiyah. Tanah yang dimiliki 6 warga, termasuk 3 warga beragama Katolik, tersebut nantinya akan digunakan untuk pembangunan lab school IKIP Muhammadiyah.

Informasi tersebut dikonfirmasi langsung oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Maumere Ihsan Wahab. Dia menyebut tanah seluas 2 hektare tersebut dimiliki oleh 3 warga beragama Katolik dan 3 warga beragama Islam.

“Tanah 2 hektare tersebut terdiri atas enam pemilik tanah, yang tiganya dari warga Katolik, sedangkan tiga yang lain dari warga muslim,” kata Ihsan saat dihubungi detikcom, Sabtu, 9 Oktober 2021.

Dilansir dari detik.com, Ihsan mengatakan atas tanah tersebut nantinya akan dibangun sekolah Muhammadiyah. Tak hanya itu, kata dia, rencananya lab school IKIP Muhammadiyah Maumere juga akan dibangun di atas tanah tersebut.

“Di atas tanah tersebut akan dibangun SMK dan sekolah tersebut akan dijadikan lab school IKIP Muhammadiyah Maumere,” ujarnya.

Dia mengatakan proses penyerahan tanah tersebut dilakukan pada Jumat (8/10) lalu. Rektor IKIP Muhammadiyah yang menerima langsung tanah tersebut dari keenam warga.

Ia pun berharap setelah lahan dihibahkan proses perizinan sekolah dan pembangunan SMK Muhammadiyah bisa berjalan cepat. Masyarakat merindukan kehadiran sekolah setingkat menengah atas demi pendidikan anak-anak.

 

Tempat Mengabdi Kelak

Yang membuat ia bangga bahwa lahan itu untuk pembangunan sekolah itu diberikan secara hibah oleh keluarga Katolik.

“Saya berikan apresiasi  kepada keluarga yang sudah menghibahkan tanah mereka. Ini sangat Luar biasa dan unik sebab baru kali ini saya temukan ada saudara kita beragama Katolik menghibahkan tanah untuk Muhammadiyah,” ungkap dia, dikutip dari mediaindonesia.com (9/10).

Untuk itu, ia mengucapkan banyak terima kasih kepada warga.

Baca Juga: Dirjen Bimas Katolik Ajak Tokoh Agama Katolik Perkuat Moderasi Beragama

“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Kita akan tindaklanjuti secepatnya pembangunan SMK Muhammadiyah di Kabupaten Lembata,” tandasnya.

Ketua Panitia Pembangun SMK Muhammadiyah, Ridwan Weleng mengaku ada tiga kepala keluarga yang menghibahkan tanah seluas dua hektare itu.

Mereka mendukung karena di Kecamatan Omesuri belum ada sekolah menengah atas dan sederajat.

“Lahan pembangunan SMK Muhammadiyah ini diberikan cuma-cuma oleh jemaat Katolik dari tiga kepala keluarga. Mereka bertiga berikan dengan iklas dan tulus kepada panitia pembangunan SMK Muhammadiyah. Total keseluruhan ada sekitar dua hektare,” papar Ridwan.

Menurut pengakuan mereka, tanah dihibahkan agar kelak anak-anak di wilayah desa tersebut bisa melanjutkan sekolah ke tingkat atas. Selanjutnya, apabila anak-anak mereka yang sudah tamat di perguruan tinggi bisa mengabdi kembali di SMK Muhammadiyah.

 

Diminati Orang Kristen

Hubungan Kristen-muslim di Indonesia sering kali dihubungkan dengan konflik, ketidakharmonisan dan permusuhan. Mungkin cukup mengejutkan bagi banyak orang kalau ternyata sekolah-sekolah semacam itu ada di berbagai tempat di Indonesia.

Di beberapa wilayah kantong Kristen, seperti diwartakan sloops.com (28/12/12), Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, telah mendirikan sejumlah sekolah di mana, tak jarang, 50%-75% siswanya beragama Kristen.

Fenomena menarik ini bisa dijumpai di beberapa pulau kecil di Indonesia, misalnya di daerah Ende di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, yang mayoritas penduduknya beragama Katolik, dan di daerah Serui di Pulau Yapen, Papua, yang mayoritas penduduknya beragama Protestan.

Hal ini menjadi sorotan Dr Abdul Mu‘ti, dosen senior di Institut Agama Islam Negeri (kini UIN) Walisongo Semarang, yang sudah mengadakan riset lapangan di beberapa wilayah kantong Kristen tersebut.

Temuan-temuannya dipaparkan dalam International Research Conference on Muhammadiyah yang belum lama ini diadakan di Universitas Muhammadiyah Malang.

Orangtua yang beragama Kristen sering kali lebih memilih menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah Muhammadiyah lantaran mutunya dan rendahnya biaya sekolah, di samping karena sekolah-sekolah Muhammadiyah ini juga memberikan mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen.

Mereka lebih memilih untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak mereka untuk berinteraksi dengan muslim, meskipun sekolah-sekolah Kristen di daerah mereka juga ada–seperti di Ende misalnya.

Ini menandaskan bahwa komunitas Kristen di sana sangat memercayai lembaga-lembaga pendidikan ini. Mereka tak khawatir kalau-kalau belajar di sekolah muslim akan mengancam keyakinan agama anak-anak mereka. Mereka bahkan tidak memandang perbedaan agama sebagai suatu masalah dan malah mengedepankan kemiripan agama-agama.

”Islam dan Katolik memiliki banyak kesamaan. Keduanya untuk kebaikan orang,” kata seorang wali siswa Katolik taat di Ende.

 

Guru Agama Kristen di Sekolah Islam

Sebagian orangtua memandang interaksi antaragama, sekaligus ciri keislaman sekolah-sekolah Muhammadiyah di sana, sebagai sesuatu yang positif yang tidak bisa dijumpai di sekolah-sekolah negeri atau sekolah-sekolah swasta lainnya.

Baik SMA Muhammadiyah Ende maupun SMP Muhammadiyah Serui memberi para murid Kristen mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen yang diajarkan oleh seorang guru beragama Kristen pula.

Bahkan, di sekolah Muhammadiyah Ende, mata pelajaran ini sudah diberikan sejak 1971, jauh sebelum undang-undang yang mengharuskan adanya pelajaran agama yang sesuai dengan agama masing-masing siswa dikeluarkan pada 2003.

Di kedua sekolah, tidak saja kita bisa menemukan para guru Kristen yang mengajar kelas Pendidikan Agama Kristen, namun juga guru-guru Kristen yang mengajarkan mata pelajaran lain kepada siswa Kristen maupun muslim.

Para guru ini merasa pengalaman bekerja di sekolah-sekolah muslim membantu mereka memahami Islam dan muslim, pandangan yang juga dimiliki oleh sebagian besar siswa.

Seperti diungkap oleh penelitian Mu‘ti, siswa Kristen maupun siswa muslim memandang pengalaman di sebuah lingkungan multi-agama sangat membantu untuk membina kerukunan beragama.

Alih-alih menjadi sumber ketegangan antaragama, keberadaan sekolah-sekolah yang dikelola oleh organisasi-organisasi muslim seperti Muhammadiyah telah terbukti bisa menjembatani berbagai komunitas agama yang berbeda dan berfungsi sebagai ruang yang aman bagi perjumpaan antaragama.

Dengan adanya anak-anak muda yang tumbuh di sebuah lingkungan yang dicirikan oleh kohabitasi keagamaan yang damai di sekolah-sekolah organisasi Islam di daerah-daerah kantong Kristen dan di tempat lain, kita bisa mengharapkan terwujudnya dunia yang lebih damai, inklusif dan toleran–tempat hidup yang lebih baik buat semua. [detik/mediaindonesia/solopos]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed