by

Wu Lun dan Persahabatan dalam Khonghucu

Wu Lun atau Lima hubungan Kemasyarakatan atau Lima hubungan dalam Jalan suci (Tengah Sempurna XIX:8) yaitu: Hubungan antara raja dengan menteri, ayah dengan anak, suami dengan isteri, kakak dengan adik dan antara kawan dengan sahabat itu telah mulai diajarkan dan dikembangkan oleh raja suci Yao dan Shun pada abad ke 23 S.M.

Hubungan antar kawan dan sahabat bentuknya sangat berlainan dengan keempat hubungan lainnya. Setiap orang tentu mempunyai ibu, ayah, saudara kandung, sepupu, suami, isteri, kakek, nenek, dan lainnya yang jumlahnya terbatas. Berbeda dengan jumlah kawan dan sahabat. Kita boleh punya kawan hanya seorang, dua orang, atau sepuluh orang, misalnya, dan jumlah kawan kita ini terkadang dapat mencapai ratusan orang, tergantung bagaimana kita memelihara hubungan yang akrab dengan mereka. Sehingga, boleh dikatakan hubungan antara kawan inilah yang terluas di antara kelima hubungan tersebut.

Pertemanan dapat kita bedakan dalam dua golongan. Pertama, kawan sekampung. Yakni, teman sekumpulan, atau teman kerja. Ini dinamakan teman sepergaulan sesama hidup. Kedua, teman sekolah, teman belajar atau kursus, baik musik, olah raga, atau lainnya. Ini dapat dikatakan teman yang  bersamaan dalam tujuan. Kalau kedua jenis teman atau kawan itu kita gabungkan menjadi satu, maka hasilnya inilah yang dinamakan sahabat.

Bersahabat atau dalam persahabatan bagi seseorang, sangat luas artinya. Sehingga untuk hal ini perlu kita ketahui, bagaimana cara bersahabat yang baik, agar hubungan ini dapat terjalin dengan erat dan akrab.

Marilah kita lihat, apakah yang dibimbingkan Nabi Kongzi. Dalam Kitab Sabda Suci jilid XII: 24,  Zengzi berkata: “Seorang Junzi (luhur budi/susilawan) menggunakan pengetahuan kitab untuk memupuk persahabatan dan dengan persahabatan mengembangkan cinta kasih.”

Dalam ayat ini, jelas tercermin, bahwa seorang yang benar-benar ingin belajar menjalankan ajaran Nabi, akan menggunakan apa yang mereka dapatkan, ilmu  pengetahuan, untuk bersama hidup benar. Digunakannya pengetahuan kitab itu untuk saling mengasihi (asah asih asuh) dalam bersahabat, dan bukan digunakan untuk yang sebaliknya, misalnya: kepandaian yang dimilikinya justru digunakan untuk menyusahkan orang lain atau bahkan  untuk mencelakai teman sendiri. Jika itu yang dilakukan, mudah diterka, apa yang bakal terjadi dalam hubungan persahabatan yang sudah dipupuk.

Kalau dalam hal yang pertama saja sudah menemui kegagalan, mungkinkah dapat merasakan rasa persahabatan itu untuk mengembangkan cinta kasih, sedangkan apa yang sudah dilakukan justru bertentangan dengan cinta kasih?

Sebagai seorang sahabat, kita wajib memberikan teguran atau peringatan. Untuk ini pun kita harus memiliki pedoman, agar teguran itu dapat diterima dengan senang hati. Janganlah sampai hubungan yang sudah kita jalin, menjadi berantakkan, dari bersahabat berbalik menjadi permusuhan, dan seterusnya.

Mari lihat pesan Zigong tentang bersahabat, dalam kitab Sabda suci jilid XII: 23. Nabi bersabda,
“Bila kawan bersalah, dengan Satya berilah nasehat agar dapat kembali ke Jalan suci. Kalau dia tidak mau menurut, janganlah mendesaknya, itu hanya akan dapat memalukan diri sendiri.”

Perlu kami jelaskan, bahwa Zigong adalah salah seorang murid Nabi Kongzi, yang memiliki kepandaian cukup, tetapi masih juga ingin mengetahui lebih jauh tentang cara bersahabat.
Dari kedua ayat di atas, kita dapat mengetahui, betapa penting arti persahabatan. Bahwa dalam hidup, kita membutuhkan sahabat, tidak lain hanyalah untuk mengembangkan cinta kasih, membantu kita dapat membina diri menempuh Jalan suci.

Sebenarnya kita harus bangga dan mengucapkan banyak terima kasih, bila ada kawan yang berkenan memberikan teguran atau peringatan. Sebab,  dengan adanya hal-hal demikian, banyak sekali manfaat yang kita peroleh, di dalam membina diri dan menempuh jalan suci. Kita semua sebagai layaknya manusia, tentu pernah melaksanakan sesuatu, yang mungkin menurut pandangan kita benar, padahal secara tidak sadar kita telah melaksanakan sesuatu yang justru bertentangan dengan tujuan.

Baca Juga: Moderasi Beragama Solusi dari Polemik Perayaan Hari Besar Keagamaan

Umumnya orang merasa penasaran atau lekas naik pitam, kalau perbuatannya ditegur oleh orang lain. Lebih-lebih kalau cara memberikan teguran itu, di luar batas kesusilaan. Agar jangan sampai terjadi putusnya hubungan persahabatan, maka di dalam hal ini, Nabi Kongzi menekankan, janganlah terus-menerus ditegur, dikhawatirkan akan berbalik menjadi malu sendiri. Kita dalam bersahabat harus mengutamakan saling pengertian, bukan banyak bicara tetapi kurang dalam pelaksanaannya. Lebih-lebih bila kata tidak sesuai dengan perbuatan, akhirnya timbul perselisihan. Kalau itu kian meningkat, kemungkinan besar dapat meningkat pada permusuhan, perkelahian, dan seterusnya.

Mungkin masih segar dalam ingatan kita, bagaimana waktu kita mulai berkenalan dahulu, saling memberikan salam, saling memberi hormat, dan lama-kelamaan meningkat menjadi bersahabat. Dari sikap berhati-hati, karena sudah dianggap menjadi sahabat, kemudian  menganggap boleh berbuat sesuka hati. Mulailah sikap semau gue. Dan prilaku yang terakhir inilah kemungkinan besar timbul rasa permusuhan.

Agar jangan sampai hubungan persahabatan mencapai titik akhir seperti itu, baik bagi kita , untuk merenungkan sabda Nabi Kongzi, dalam kitab Sabda Suci jilid V:17. Nabi bersabda: “Sungguh pandai bergaul Yan Ping Zhong, semakin lama semakin menumbuhkan rasa hormat.”

Jelas, ayat ini menganjurkan bahwa dalam bergaul, kita semua jangan seenaknya, tetapi kian lama justru harus menumbuhkan sikap hormat, seperti saat-saat kita mulai berkenalan. Dalam hidup, kita sudah selayaknya saling maaf-memaafkan, saling mengoreksi diri, dan sebagainya.

Ingatlah kalau kita luka, dan luka itu segera diobati, rasanya mungkin nyeri, tetapi akan segera sembuh. Lain lagi kalau luka itu tidak segera diobati, apa yang akan terjadi, sudah dapat kita terka sebelumnya, jangan-jangan jiwa juga akan dibuat melayang dibuatnya, demikian juga halnya dengan diri kita.

Di dalam Kitab Sabda Suci jilid XVI:3, Nabi bersabda, “Ada tiga macam sahabat yang membawa faedah dan ada tiga macam sahabat yang membawa celaka. Seorang sahabat yang lurus, yang jujur dan berpengetahuan luas, akan membawa faedah. Seorang sahabat yang licik, yang lemah dalam hal2 yang baik dan hanya pandai memutar lidah, akan membawa celaka.”

Untuk inilah kita wajib memilih sahabat-sahabat yang baik dan kemudian kita pupuk dan pelihara untuk selamanya. Umumnya orang lebih suka memilih sahabat, yang di luar kelihatan ramah tamah, padahal sebenarnya licik. Mengapa hal ini dapat terjadi, tidak lain disebabkan karena banyak yang berbuat keliru dalam memilih seorang sahabat, bahwasanya orang lebih mudah ditipu atau diselubungi kata-kata yang manis hanya dibibir saja.

Maka dianjurkan agar baik-baik dalam memilih sahabat. Bila sudah mendapatkan sahabat, janganlah mudah memutuskan hubungan yang sudah terjalin dengan baik.

Xs.Tan Tjoe Seng  (Rohaniwan Khonghucu)

Sumber: https://kemenag.go.id/read/wu-lun-dan-persahabatan-dalam-khonghucu-q9pnp

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed