by

Workshop Lintas Agama: Penguatan Kolaborasi Lintas Agama untuk Mempromosikan Toleransi dan Pencegahan Ekstremisme Kekerasan

Kabar Damai I Jumat, 13 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I  MAARIF Institute bekerjasama dengan P3M, menyelenggarakan Workshop Lintas Agama; Penguatan Kolaborasi Lintas Agama Untuk Mempromosikan Toleransi Dan Pencegahan Ekstremisme Kekerasan. Kegiatan yang dilakukan melalui Webinar ini dilaksanakan pada 09 Agustus 2021 dengan menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya: Prof. Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin (UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta), dan Erin Gayatri (Srikandi Lintas Iman). Acara ini dimoderatori oleh Hijroatul Maghfiroh dari P3M.

Abd. Rohim Ghazali, Direktur Eksekutif Maarif Institute, dalam pengantarnya mengatakan bahwa kegiatan workshop Lintas Agama ini amat sangat bermanfaat bagi para peserta, untuk meningkatkan toleransi, saling menghormati/menghargai, memperkuat kerjasama baik intern maupun antar umat beragama, guna memelihara kerukunan beragama,  sehingga mampu hidup bersama dalam keberagaman menuju kehidupan yang damai. “Menciptakan suasana kehidupan beragama yang kondusif dalam rangka memantapkan pendalaman dan penghayatan agama serta pengamalan agama yang mendukung bagi pembinaan kerukunan hidup intra dan antar umat beragama merupaka sebuah keniscayaan”, jelas Rohim.

Baca Juga: Doa Lintas Agama untuk Bangsa #PRAY FOR INDONESIA

Dalam paparannya, Ruhaini, mengatakan bahwa moderasi beragama menjadi bagian tak terpisahkan dari revolusi mental dan pembangunan kebudayaan. Konsep manusia moderat memiliki pandangan keyakinan yang egaliter, bertindak inklusif, serta berkehendak responsif afirmatif yang terbuka untuk berbagi di ruang publik. “Dalam konteks kemajemukan di alam demokrasi, perbedaan keyakinan menjadi niscaya selama keadilan, kemakmuran dan jaminan perlindungan terhadap pelaksanaan ibadah dan aktivitas keagamaan terpenuhi.  Kesetaraan  pendidikan  dan  keterbukaan informasi  keagamaan  telah  mendewasakan  umat  Islam  dalam  melaksanakan kewajiban  agama  tanpa  tergantung  sepenuhnya  pada  pemimpin.  Kalaupun kepemimpinan  agama  masih  diperlukan,  keberadaan  organisasi  keagamaan seperti Muhammadiyah dan NU dapat menjadi rujukan”, terang Ruhaini.

Sementara Gayatri, dari Srikandi Lintas Iman, mengatakan bahwa toleransi adalah sikap mau menerima dan menghargai segala perbedaan. Dalam toleransi beragama, dapat kita lakukan dengan cara saling menghargai antar penganut agama lain. “Yang dapat kita lakukan yaitu saling menjaga silaturahmi dan saling berkomunikasi antarumat beragama agar tidak saling curiga satu sama lain. Dengan demikian, cita-cita luhur bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang aman dan damai dapat sama-sama kita wujudkan”, ujarnya.

Workshop ini secara khusus didesain untuk memperkuat kapasitas tokoh agama dan kepemudaan di lingkungan organisasi dan aktivis lintas agama agar menjadi penangkal tumbuhnya ekstremisme atas nama agama, politik, ras atau apa saja yang didasari perbedaan. Kegiatan ini dilakukan secara online, dan akan diikuti oleh 50 orang peserta dari organisasi lintas agama di lima kota (Bandung, Bogor, Malang, Makassar dan Surakarta), yang terdiri dari: GP Anshor, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Fatayat, Pemuda Kristen, Pemuda Katholik, Pemuda Hindhu, Pemuda Budha, Pemuda Konghuchu, dan Interfaith institutions/organizations/communities.

 

Jakarta, 09 Agustus 2021

Salam hormat,

MOH. SHOFAN

Direktur Riset / Pimred Jurnal MAARIF

Hp. 081-388 719 217

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed