by

Workshop De Cultuurtuin dan Jejak Budaya Indonesia di Belanda

Kabar Damai | Jumat, 6 Agustus 2021

Amsterdam | kabardamai.id | Sebanyak 100 anak Diaspora Indonesia yang berusia 6-12 tahun mengisi liburan sekolah dengan mengikuti ‘Workshop De Cultuurtuin’ (Taman Budaya) pada hari Jumat – Minggu, tanggal 30 – 31 Juli dan 1 Agustus 2021 di Amsterdam.

Melansir laman Kementerian Luar Negeri RI, selama 3 hari tersebut, Workshop Taman Budaya dilaksanakan dengan 3 tema berbeda, yaitu menari kuda lumping, bermain angklung, dan membuat layang-layang.

Dalam siaran pers KBRI Den Haag yang diterima Kamis, 5 Agustus 2021, workshop Taman Budaya dilaksanakan dengan tiga tema berbeda, yaitu menari kuda lumping, bermain angklung, dan membuat layang-layang.

Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Mayerfas ikut hadir dan melihat bagaimana anak-anak diaspora Indonesia berlatih Tari Kuda Lumping dan memberikan sertifikat kepada para peserta secara simbolis.

Workshop Taman Budaya mendapatkan sambutan hangat dari para Diaspora Indonesia. Antusiasme tersebut terlihat dari banyaknya anak-anak Diaspora Indonesia yang mendaftar.

Workshop Taman Budaya merupakan hasil kerja sama KBRI Den Haag dengan Stichting Matahari Media dalam rangka memeriahkan Peringatan HUT ke-76 Kemerdekaan RI tahun 2021.

Workshop ini bertujuan untuk mengajarkan dan melestarikan warisan budaya, bahasa, dan sejarah Indonesia kepada anak-anak Diaspora Indonesia dan juga orang tuanya dengan cara yang menyenangkan.​

Pamerkan Warisan Budaya Indonesia di Jantung Belanda

Akhir tahun 2020 lalu, keindahan Borobudur yang dibasuh matahari senja terpampang nyata dalam pigura di Yunus Emre Institute, Amsterdam, Belanda. Berjajar dengan Komodo, Tari Bali, Tari Saman dan seni membatik, total 15 warisan budaya Indonesia yang telah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO dipamerkan di jantung kota Amsterdam, Belanda.

Sumber Foto: kemlu.go.id

Pameran foto bertajuk “Unity in Diversity” ini merupakan kolaborasi kedutaan besar negara-negara anggota MIKTA, yaitu Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia di Belanda. Pameran yang dibuka mulai tanggal 9 hingga 30 Desember 2020 dan dihadiri oleh 5 Duta Besar negara anggota MIKTA ini mempertunjukkan warisan budaya berwujud dan tak berwujud negara anggota MIKTA yang tercatat oleh UNESCO.

“Pameran ini bukan hanya sekedar mempertunjukkan kekayaan budaya semata. Semangat persatuan dan perdamaian yang diusung 5 negara yang memiliki budaya yang berbeda-beda, justru menjadi pesan utama kegiatan ini.” pesan Dubes Mayerfas pada pembukaan pameran, yang dikutip dari kemlu.go.id.

Forum kerja sama MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia) pertama kali digagas pada pertemuan informal Menteri Luar Negeri G20 di Los Cabos, Meksiko, bulan Februari 2012.

Pada 2013, MIKTA resmi berdiri setelah berlangsungnya pertemuan pertama MIKTA Foreign Ministers’ Meeting di sela-sela Sesi ke-68 Sidang Majelis Umum (SMU) PBB. Sebagai forum ‘middle power’, MIKTA berperan sebagai ‘consensus maker’ dan ‘bridge builder’ antara negara-negara berkembang dan maju.

Pada pameran foto kali ini menampilkan 75 foto warisan dunia yang terdapat di 5 negara anggota MIKTA yang menggambarkan 75 tahun Perserikatan Bangsa-Bangsa. Masing-masing negara menampilkan 15 foto yang mewakili warisan dunia yang terdapat di negaranya.

Keindahan Borobudur yang dibasuh matahari senja terpampang nyata dalam pigura di Yunus Emre Institute, Amsterdam, Belanda. Berjajar dengan Komodo, Tari Bali, Tari Saman dan seni membatik, total 15 warisan budaya Indonesia yang telah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO dipamerkan di jantung kota Amsterdam, Belanda.

Pameran foto bertajuk “Unity in Diversity” ini merupakan kolaborasi kedutaan besar negara-negara anggota MIKTA, yaitu Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia di Belanda. Pameran yang dibuka mulai tanggal 9 hingga 30 Desember 2020 dan dihadiri oleh 5 Duta Besar negara anggota MIKTA ini mempertunjukkan warisan budaya berwujud dan tak berwujud negara anggota MIKTA yang tercatat oleh UNESCO.

“Pameran ini bukan hanya sekedar mempertunjukkan kekayaan budaya semata. Semangat persatuan dan perdamaian yang diusung 5 negara yang memiliki budaya yang berbeda-beda, justru menjadi pesan utama kegiatan ini.” pesan Dubes Mayerfas pada pembukaan pameran, 10 Desember 2020 lalu.

Forum kerja sama MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia) pertama kali digagas pada pertemuan informal Menteri Luar Negeri G20 di Los Cabos, Meksiko, bulan Februari 2012. Pada 2013, MIKTA resmi berdiri setelah berlangsungnya pertemuan pertama MIKTA Foreign Ministers’ Meeting di sela-sela Sesi ke-68 Sidang Majelis Umum (SMU) PBB. Sebagai forum ‘middle power’, MIKTA berperan sebagai ‘consensus maker’ dan ‘bridge builder’ antara negara-negara berkembang dan maju.

Pada pameran foto kali ini menampilkan 75 foto warisan dunia yang terdapat di 5 negara anggota MIKTA yang menggambarkan 75 tahun Perserikatan Bangsa-Bangsa. Masing-masing negara menampilkan 15 foto yang mewakili warisan dunia yang terdapat di negaranya.

Menemukan Indonesia di Belanda

Cerita menarik disampaikan  Bisma Aditya, contributor laman indonesiamengglobal.com, bersama teman-temannya dalam mencoba tarian Indonesia di Belanda untuk pertama kalinya, tampil di hadapan penonton mancanegara.

“Saya berangkat ke Eropa saat lelucon soal cara berkomunikasi anak Jakarta Selatan yang kebarat-baratan lagi ramai dibahas; saat party dan berbagai kehidupan malam sudah menjadi hal yang lumrah; dan saat berbagai kesenian barat lebih mudah ditemui dibanding yang tradisional.  Terbiasa di lingkungan seperti ini membuat saya yakin bahwa saya pasti survive di Belanda. Setidaknya saya sudah familiar dengan budaya mereka,” ujarnya.

Betul saja, ungkap Bisma, tidak terlalu sulit baginya untuk berbaur dengan lingkungan baru ini. Kondisi kehidupan Jakarta yang kebarat-baratan membuat semuanya menjadi lebih mudah. Ditambah dengan kebiasaan senyum ramah ala Indonesia ia berhasil masuk ke berbagai pergaulan yang ada. Menurutnya, asal masih pada koridornya, kita bisa banyak belajar dengan bergabung dengan orang-orang dari kebudayaan lain.

“Ditengah keberhasilan berbaur dengan budaya barat, suatu hari saya diajak untuk ikut ke sebuah workshop tari Jawa tradisional oleh teman saya. Berhubung tempatnya tidak jauh, dan sebagai anggota PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) yang baik, saya pun memutuskan untuk ikut. Tanpa ekspektasi dan persiapan apapun, saya berangkat ke acara yang ternyata akhirnya menjadi awal dari salah satu pengalaman yang paling berharga yang saya dapatkan di Belanda,” terang Bisma.

Workshop tari jawa itu diisi oleh Ibu Clara, orang Belanda peneliti di Leiden University yang sudah lama mempelajari kebudayaan Indonesia khususnya seni musik dan tari Jawa. Ia adalah pendiri grup tari Kuwung-kuwung yang sudah sejak tahun 1980 konsisten melestarikan kesenian tari Jawa lewat pertunjukan dan workshop. Beliau adalah murid langsung dari maestro tari jawa S. Ngaliman Condropangrawit.

Selama acara workshop itu Bisma mengaku berulang kali merasa tertampar. Ibu Clara jauh lebih banyak tahu soal kebudayaan Indonesia dibanding kita yang orang Indonesia. Bukan cuma soal keseniannya saja, tapi juga soal sejarah dan berbagai hal terkait adat istiadat Jawa.

“Kontribusi beliau dalam melestarikan kebudayaan pun jauh lebih konkret dibandingkan kebanyakan pemuda Indonesia yang hanya menyatakan janjinya melestarikan kebudayaan ketika daftar beasiswa atau daftar untuk menjadi duta wisata daerah saja yang entah kapan akan direalisasikan. Sedangkan Ibu Clara sudah dengan konsisten melestarikan kesenian Jawa lewat grup tarinya dan dengan menerbitkan beberapa buku soal kebudayaan Indonesia. Malu,” aku Bisma.

Sinden dan Pemain Gamelan banyak Orang Eropa

Seakan belum cukup sampai di sana, sorenya Bisma diajak oleh beberapa teman untuk ke KBRI di Den Haag untuk ikut di acara buka puasa bersama sambil ngabuburit nonton wayang kulit. Lagi-lagi, belum sembuh tamparan dari grup Ibu Clara, ternyata sinden dan pemain gamelan di grup Dalang Ki Joko Susilo diisi juga oleh banyak orang Eropa. Suara sindennya dan musik gamelannya  tidak beda dari orang Jawa asli.

Hebatnya, imbuh Bisma, grup dalang ini sedang dalam rangkaian tur keliling Eropa untuk mempertunjukkan kesenian wayang. Bukankah ini yang dinamakan pelestarian budaya? Jika begitu, bukankah orang Eropa ini yang justru melestarikan kebudayaan Indonesia?

Baca Juga: Kesenian Wayang Mendunia, Sukses Dipentaskan di Belanda

“Malam itu saya berpikir. Ternyata ada banyak sekali orang Eropa yang mencurahkan waktu dan tenaganya untuk melestarikan kebudayaan Indonesia, disaat orang Indonesianya justru seakan acuh tak acuh. Bukankah kita sebagai orang Indonesia yang seharusnya lebih bersemangat dalam melestarikan kebudayaan Indonesia? Apakah saya masih patut bangga dengan mudahnya beradaptasi di Belanda karena Indonesia sudah sangat kebarat-baratan? Sepertinya tidak. Justru saya harusnya malu,” tutur Bisma yang tak dapat menyembunyikan rasa malunya.

Pengalaman Bisma terlibat di berbagai acara kebudayaan itu membuka mata dia tentang nyatanya ungkapan bahwa kita baru akan menghargai sesuatu ketika kita sudah mengalami kehilangan.

Bagi orang Eropa yang tidak memiliki kebudayaan seberagam Indonesia, kebudayaan kita sangatlah luar biasa. Bagi mereka, budaya Indonesia bukan hanya milik negara lain melainkan milik seluruh umat manusia sehingga perlu dilestarikan. Itulah yang membuat mereka rela mengorbankan banyak hal demi melestarikan kebudayaan yang mereka sukai tersebut. Ketidakpunyaan itulah yang membuat mereka lebih mudah mencintai kebudayaan lain.

Bagi orang Indonesia di Belanda termasuk dirinya, setelah jauh dari Indonesia dan merasakan kebudayaan barat yang sesungguhnya (bukan melalui TV atau media lain), barulah kita sadar bahwa budaya mereka tidak sekeren apa yang kita miliki. Ditambah dengan melihat betapa orang barat mengapresiasi kebudayaan kita, selain rasa malu, muncul rasa bangga yang teramat sangat yang membuat kita merasa tertantang untuk lebih mencintai dan untuk sebisanya melestarikan kebudayaan kita dibanding mereka, meski memang sulit untuk mencintai jika sudah memiliki.

“Malu dan bangga. Dua rasa yang mengubah pandangan saya akan identitas saya sebagai orang Indonesia. Dua rasa yang akhirnya membuat saya tertantang untuk lebih mencintai kebudayaan bangsa sendiri. Dua rasa yang membuat saya akhirnya menemukan Indonesia di Belanda,” pungkas Bisma mengakhiri ceritanya. [ ]

Penulis: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed