by

Waria di Pesantren Al-Fatah Tenang dalam Menjalankan Ibadah

-Kabar Puan-28 views

Yogyakarta I Kabardamai.id I Pesantren sejatinya menjadi tempat untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Tempat untuk meningkatkan spritualitas dan memperdalam ilmu agama.

Di Indonesia, pesantren biasa diidentikkan dengan putra-putri yang sedang menempuh pendidikan. Namun, terdapat pesantren yang unik di Yogyakarta yaitu Pesantren Al-Fatah yang mana santrinya ialah para waria atau transpuan.

Dilansir dari boombastis.com, Pesantren Al-Fatah terletak di Celenan, Kotagede, Yogyakarta dan berdiri sejak tahun 2008 lalu. Pesantren ini didirikan oleh Shinta Ratri bersama dengan dua orang rekannya. Tidak ada perbedaan pesantren Al-Fatah dengan pesantren lainnya. Kegiatan beribadah dan belajar ilmu agama menjadi kegiatan yang lumrah sehari-hari. Pesantren ini juga sekaligus menjadi tempat bagi para waria yang kesulitan mencari tempat untuk beribadah.

Kenyamanan dalam Beribadah

Shinta Ratri, Ketua Pesantren Waria Al-Fatah menyatakan bahwa kebutuhan rohani adalah kebutuhan semua orang, termasuk waria.

“Kami ini bukan waria yang begitu saja, kami juga punya kebutuhan yang sama dengan orang lain. Kebutuhan makan, kebutuhan rumah, kebutuhan hiburan, bahkan kebutuhan rohani untuk beribadah. Karena memang dorongan dorongan spiritual itu maka kenyamanan sangat diperlukan,” ujarnya.

Baca Juga : Para Waria Belajar Agama di Pesantren Al-Fatah Yogyakarta

Ia menambahkan bahwa waria kerap tak mendapatkan ruang dalam ranah publik. Apalagi dalam fasilitas umum peribadahan.

“Fenomena yang ada itu ketika waria beribadah diruang publik disana timbul ketidaknyamanan. Baik itu yang tidak nyaman para warianya atau bahkan jamaahnya sendiri. Terjadi bulliying, bisik-bisik dikerumunin anak-anak dan sebagainya,” tambahnya

Perihal kenyamanan beribadah, waria di Pesantren Al-Fatah diberikan kebebasan atas dasar kenyamanan.

“Perlu diketahui juga, waria ini ada dua fenomena, ada yang tetap memilih memakai sarung ketika beribadah dan ada yang memakai mukenah. Kebanyakan waria disini masih memilih menggunakan sarung dengan alasan-alasannya sendiri. Disini semuanya kita bebaskan atas dasar kenyamanan,” jelas Shinta/

Rully Malay, Santri Pesantren Al-Fatah menyatakan bahwa kadar keimanan seseorang tidak dilihat dari satu aspek sehingga menjaga ibadah sangat penting untuk dilakukan.

“Tentunya nilai dari manusia itu tidak ditentukan oleh pakaiannya atau orientasi seksualnya tapi bagaimana dia menjaga perilaku hidupnya dan dari ibadah-ibadahnya baik terhadap Tuhan maupun terhadap sesama manusia dan alam semesta,” terangnya.

Sementara Arif Muhammad Safri, Pendamping Pesantren Al-Fatah membenarkan pernyataan tentang kenyamanan dalam beragama. Stigma harus dikesampingkan karena kebutuhan dalam beragama adalah kebutuhan dari masing-masing orang yang bebas.

“Saya ingin menekankan bahwa agama itu harus membawa kenyamanan bagi siapapun, termasuk teman-teman transpuan. Sudahlah jauhkan dulu stigma,” jelasnya,

 

Penulis: Rio Pratama

Sumber: boombastis.com I VOA

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed