by

Wapres Ma’ruf: Jangan Pertentangkan Agama dan Pancasila

Kabar Damai | Selasa, 8 Juni 2021

Jakarta | kabardamai.id | Wakil Presiden Ma’ruf Amin meminta tak ada pihak yang memerintahkan untuk memilih Pancasila atau Alquran. Ma’ruf menyebut Pancasila dan agama tak boleh dipertentangkan.

“Oleh karena itu, kita tidak boleh mempertentangkan Pancasila dan agama, atau perintah memilih Pancasila atau Alquran,” kata Ma’ruf dalam acara ‘Darul Mitsaq: Indonesia Negara Kesepakatan’ yang digelar Universitas Negeri Jakarta, Senin, 7 Juni 2021.

Dilansir dari CNNIndonesia.com, Ma’ruf menjelaskan sila pertama secara eksplisit menunjukkan Indonesia sebagai negara beragama dan menghormati keberadaan agama.

Dalam kesempatan itu, Ma’ruf turut menyampaikan gagasannya tentang konsep darul mitsaq atau negara kesepakatan.

Ia menjelaskan bahwa perdebatan tentang Islam dan negara juga sudah selesai dilakukan oleh para pendiri negara Indonesia berpuluh-puluh tahun lalu.

“Para tokoh Islam pada saat itu pun sudah memberikan argumentasi tentang penerimaan mereka terhadap NKRI yang berideologi Pancasila ini,” ujarnya.

Meski demikian, Ma’ruf menyatakan ada sebagian umat Islam di Indonesia saat ini masih belum puas dengan penjelasan tersebut. Bahkan, ada juga yang menolak konsep Pancasila.

Menurutnya, kelompok tersebut juga menggunakan cara kekerasan dalam perjuangannya.

“Itu untuk mewujudkan negara Islam atau negara khilafah,” ungkapnya.

Baca Juga: Gubernur NTB: Jangan Pertentangkan Agama dan Pancasila

Ideologi perjuangan yang intoleran dan disertai kekerasan, kata Ma’ruf, turut dipengaruhi oleh gerakan Islam transnasional.

Ia menjelaskan ideologi transnasional memiliki ciri keras dan tidak terlepas dari pemahaman mereka terhadap teks-teks Alquran hingga hadis secara literal dan kaku.

“Sehingga mereka memiliki sikap yang intoleran dan radikal, bahkan sebagian mereka memiliki sikap ekstrem dan pengkafiran terhadap kelompok lain yang berbeda,” ujarnya.

Pancasila Sesuai Ajaran Islam

Dalam kesemoatan yang sama, Kiyai Ma’ruf juga mengatakan, kelima sila yang ada dalam Pancasila sudah sesuai dengan ajaran agama Islam.

Bahkan, kata dia, sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa secara eksplisit menunjukkan, Indonesia adalah negara yang beragama dan menghormati keberadaan agama.

Lebih lanjut menyinggung soal buku, Ma’ruf mengatakan, moderasi beragama dalam bingkai Darul Mitsaq di Indonesia meliputi empat hal.

“Yaitu toleransi, anti kekerasan, komitmen kebangsaan, dan akomodatif terhadap budaya lokal dan perkembangan zaman,” terang Ma’ruf.

Ma’ruf menjelaskan, toleransi merupakan sikap dan perilaku seseorang yang menerima, menghargai keberadaan orang lain. Kemudian tidak mengganggu mereka, termasuk hak untuk berkeyakinan dan mengekspresikan keyakinan meskipun berbeda agama.

“Moderasi beragama tidak membenarkan tindak kekerasan, termasuk penggunaan cara-cara kekerasan atas nama agama untuk melakukan perubahan, baik kekerasan verbal maupun kekerasan fisik,” fandasnya.

Selanjutnya soal komitmen kebangsaan terutama berbentuk pada penerimaan Pancasila sebagai ideologi negara, UUD 1945 sebagai konstitusi, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai pilihan bentuk Negara Indonesia.

Terakhir, soal pemahaman dan perilaku beragama yang akomodatif terhadap budaya lokal atau konteks Indonesia yang multi-kultural dan multi-agama serta perkembangan zaman yang semakin maju.

“Gagasan saya tentang Darul Mitsaq memang didorong untuk memberikan legitimasi keagamaan (Islam) terhadap ideologi dan sistem NKRI karena mayoritas rakyat Indonesia adalah muslim,” ucapnya, seperti dikutip Kompas.com (7/6)

Pertanyaan ‘pilih Pancasila atau Alquran’ muncul dalam tes wawasan kebangsaan (TWK) alih status menjadi aparatur sipil negara (ASN) yang diikuti pegawai KPK. Sejumlah pihak pun mengkritik pertanyaan tersebut ditujukan kepada para pegawai KPK. [CNN/Kompas]

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed