by

Wali Kota Canangkan Masjid Terapung Sebagai Landmark Kota Pontianak

Kabar Damai I Rabu, 19 Mei 2021

Pontianak I Kabardamai.id I Berada diantara tiga anak sungai, Kota Pontianak yang juga merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Barat melalui pemerintah kotanya selalu berupaya memperbaiki dan membangun berbagai insfratruktur yang ada, terlebih bagian-bagian yang ada dipinggiran sungai. Apalagi mengingat bahwa Wali Kotanya kini, Edi Rusdi Kamtono merupakan seorang arsitek yang tersohor dengan slogan Arsitek Bangun Kota sehingga membuat tata kota Pontianak kian hari kian rapi dan terstruktur.

Melalui instagram pribadinya, Edi Rusi Kamtono mengunggah rancangan konsep masjid terapung yang akan dibangun ditepian Sungai Kapuas. Masjid ini nantinya akan semakin mempercantik Kota Pontianak dan merupakan konsep yang digagas langsung oleh dirinya. Walaupun baru sebatas pada konsep, Edi mengungkapkan harapan besarnya agar pembangunan masjid ini akan segera terealisasi.

“Saya ingin ada tambahan karya arsitektur yang bisa menjadi salah satu landmark kota di tepian Sungai Kapuas berupa masjid terapung,” ujarnya, Jumat (14/5/2021).

Menyatu dengan Lingkungan

Sungai Kapuas yang membentang luas di empat belas kabupaten dan kota di Kalimantan Barat tidak hanya sebagai sumber mata air dan mata pencaharian serta ciri khas yang tidak dimiliki oleh provinsi lain. Namun, dilain sisi juga kerap menjadi permasalahan tersendiri melalui aktifitas masyarakat sehingga tercemar oleh sampah yang ada.

Baca Juga: Meriam Karbit, Tradisi Menyambut Lebaran di Pontianak

Menurut Edi, gagasan konsep pembangunan masjid I tepian sungai merupakan bentuk implementasi menyatu dengan lingkungan. Selain itu, diharapkan dapat membawa ikatan yang kuat antara manusia dengan pencipta-Nya. Kini, Edi dan pemerintah Kota Pontianak sedang mengkaji titik mana yang paling cocok untuk dibangun masjid tersebut.

“Berdirinya masjid terapung membawa filosofi yang dalam, utamanya habluminannas dan habluminallah,” ucap dia.

Dilansir dari pontianakkota.go.id, masjid terapung tersebut memiliki desain arsitektur yang menarik dan berbeda dari lainnya. Desainnya tidak terlepas dari kehidupan di sepanjang tepian Sungai Kapuas dengan keberadaan rumah-rumah tepian sungai, aktivitas kapal bandong dan lainnya. Dinding-dinding didesain dengan celah-celah sedemikian rupa sehingga cahaya menembus di deretan saf tempat bersujud. “Untuk desainnya kita menyerahkan pada arsitek Pontianak yang punya inovasi dan kepedulian terhadap ekowisata,” ungkap Edi.

Dalam unggahan diakun instagram, Edi memperlihatkan secara visual bangunan masjid terbuat dari kayu berdiri megah di atas tepian sungai. Bagian-bagian tertentu pada dinding memiliki celah untuk masuk cahaya. Sementara jendela menggunakan jendela nako. Sedangkan bagian atapnya berbentuk kerucut dengan atap sirap. Sementara bagian teras masjid menghadap ke sungai, di mana bagian depannya bertangga-tangga.

Respon Masyarakat

Tepian Sungai Kapuas kini menjadi tempat masyarakat untuk menghabiskan waktu bersantai melalui dibangunnya waterfront, konsep ini bahkan mendapatkan apresisasi dari juga Menteri Pariwisata, Sandiaga Salahudin Uno.

Melalui pembangunan masjid terapung dengan konsep lokal yang menyatu dengan lingkungan serta berada ditepian Sungai Kapuas tentu tidak hanya bermanfaat sebagai tempat ibadah semata, namun juga secara lebih luas akan berdampak baik bagi masyarakat.

Rencana pembangunan masjid di tepian Sungai Kapuas ini mendapat berbagai respon positif dari masyarakat. Banyak yang menyatakan dan mengapresasi rencana Wali Kota Pontianak dan berharap agar proses pembangunannya segera dilaksanakan.

Masjid Terapung di Indonesia

Konsep masjid terapung jauh sebelumnya sudah ada ditemukan dibeberapa wilayah di Indonesia. Tidak hanya sebagai tempat beribadah, keberadaannya juga kemudian menjadi daya Tarik tersendiri bagi masyarakat untuk datang berkunjung.

Jika di Pontianak pembangunan masjid terapung masih dalam tahap konsep perencanaan, maka dibeberapa wilayah lainnya sudah ada. Misalnya Masjid Amirul Mukminin di Timur Laut Pantai Losari, selain itu ada pula Masjid Arkam Babu Rahman di Makassar, Masjid Al-Munawaroh di Ternate, Masjid Terapung Amahami di Bima, NTT dan Masjid Al-Aminah di Lampung.

Keberadaan masjid terapung menjadi refleksi bagi kita bahwa berdoa dan beribadah serta mendekatkan diri kepada pencipta dapat dilakukan dimana saja. Tidak hanya di darat, namun juga di atas air sekalipun.

Sumber : Pontianakkota.go.id I KumparanTravel

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed