Wajah Ganda Agama: Spirit Perdamaian atau Kekerasan?

Kabar Utama86 Views

Kabar Damai | Sabtu, 10 April 2021

 

Jakarta I Kabardamai.id I Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) menyelenggarakan dialog dengan tema Wajah Ganda Agama: Menghentikan Kekerasan Atas Nama Agama Sekarang Juga”. Dialog ini dilaksanakan pada Jumat, (9/4/2021) siang.

Adapun pembicara pada dialog ini antara lain Ridwan Al-Makassary (Peneliti Center for Muslim State and Societies, CMSS UWA), Mariana Amunuddin (Komisioner Komnas Perempuan), Dr. Abraham Silo Wilar (Dosen STFT Jakarta) dan Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty (Sekum PGI).

Baca Juga : Bisakah Kita Hidup Tanpa Agama?

Mengawali acara, Sekretaris Jenderal ICRP Johannes Hariyanto menyatakan, adanya acara ini karena keresahan bersama perihal peristiwa bom beberapa waktu lalu yang terjadi di Indonesia.

 “Saya sungguh merasa bersyukur kita bisa bersama-sama bertemu walau virtual. Kita  baru saja menjadi saksi penyerangan bom di Makassar dan Jakarta, kita menyadari bahwa ini meresahkan banyak orang. Namun mengingkari untuk tidak mengaitkan ini dengan agama, terutama agama tertentu. Karena semua agama membawa kedamaian, juga bukan cara menyelesaikan masalah,” ujar Romo Hariyanto.

“Ide bahwa agama menjadi penyelesai masalah dipahami dan diyakini banyak orang saat ini, tapi boro-boro jadi obat, jadi racun malah yang ada. Ini pula yang dipahami orang muda kita, dibalik retorika yang begitu dasyat, ada kemunafikan. Jika ini terus berlanjut, maka kita sama saja bunuh diri masal,” terangnya.

Sekretaris Umum ICRP ini  menambahkan, pemahaman dari konteks beragama yang keliru berdampak pada banyak hal, bahkan dalam praktiknya seperti membenarkan kekerasan.

“ICRP membuka ruang untuk berdiskusi bahwa agama tidak boleh disejajarjakan dengan Tuhan, ini sama saja melampaui batas tauhid. Banyak terjadi alasan melakukan kejahatan karena agama dan membenarkannya atas nama agama itu pula,” tandasnya

 

Perdamaian dalam Perspektif Anak Muda

Isu perdamaian kini kian lekat pada diri anak muda, seperti halnya Ahmad An-Nur dari Madura. Alumi Peace Train ini turut menyampaikan tanggapannya perihal peristiwa bom yang terjadi beberapa waktu yang lalu.

“Terkait dengan peristiwa luar biasa dan mengagetkan bangsa Indonesia, bom bunuh diri di Makassar beberapa waktu lalu jauh sekali dari etika beragama. Melakukan pengeboman atau jihad atas nama agama, itu nalar berfikirnya sangat keliru,” ujar Ahmad.

“Saya dari umat Islam ada sudut pandang dalam peristiwa bom lalu, yaitu agama selalu mengajarkan perdamaian dan cinta kasih. Di Al-quran banyak diturunkan wahyu-wahyu yang mengajarkan kebaikan, namun karena salah menafsirkan lalu mengekspresikan. Jika salah menafsirkan, bisa saja hanya dalam pemikiran, namun jika salah mengekspresikan yang bahaya karena dapat sampai menyebabkan kekerasan dan kekacauan,” jelasnya

 

Terorisme dan Agama

Ridwan Al-Makassary, melihat agama dalam dua aspek tergantung pembawaannya. Bisa ke arah yang baik atau sebaliknya.

 “Agama terutama ajaran-ajarannya bisa diarahkan untuk mendukung perdamaian, kemanusian dan cinta kasih tapi juga dapat dibawa ke arah kekerasan. Dalam beberapa diskusi, disebutkan bahwa agama banyak digunakan untuk kekerasan,” ungkapnya.

Sehubungan dengan banyaknya spekulasi dan pernyataan tidak ada kaitan antara terorisme dan agama, Ridwan mengakui kurang sependapat dengan hal tersebut.

“Secara personal saya tidak setuju jika terorisme tidak disangkutkan dengan agama tertentu. Tidak hanya dalam peristiwa di Makassar dan Mabes Polri, tapi sepanjang sejarah juga sudah ada kekerasan berlatar agama, seperti yang ada sejak dahulu masa Kekaisaran Jerman yang bertikai antar penganut agama yang terjadi. Selain itu, di Indonesia sejak masa reformasi, kita juga melihat konflik bernuansa agama seperti yang terjadi di Ambon,” terangnya

Bukti lain ialah melalui surat wasiat yang ditinggalkan para bomber dalam dua peristiwa yang terjadi di Indonesia tempo hari lalu.

“Dari kasus pengeboman Gereja Katedral dan Mabes Polri ini meninggalkan surat wasiat yang dapat kita lihat sebagai ideologi yang islamis. Dari surat Lukman dan Zakia, terdapat kesimpulan keduanya terpapar ajaran ISIS,” tandas Ridwan.

“Pandangan idilogis yang ditinggalkan sebagai sebuah pembelajaran. Dalam kasus Zakia, anjuran kepada orang tua menarik uang dalam bank yang dianggap tidak berkah, riba dan sebagainya. Pandangan ini akan berbahaya jika dilihat oleh mereka siapa yang berada di belakangnya, dalam konteks ini pemerintah. Pandangan seperti ini pandangan idiologis yang diturunkan dalam pandangan islamis,” imbuhnya.

 

Perempuan dan Terorisme

Pernah tergabung dalam kelompok radikal membuat Mariana Aminuddin paham betul perihal aksi radikalis dan terorisme. Menurutnya, keterlibatan perempuan dalam aksi teror disebabkan oleh banyak hal seperti media dan transformasi dalam keinginan melakukan perjuangan melalui jihad.

“Kenapa perempuan dekat dengan aksi terorisme? Karena dalam gerakan radikal perempuan juga ditempatkan di bagian belakang. Tidak ada bedanya dengan golongan non radikal, jihad perempuan adalah di rumah. Maka seiring dengan perkembangan media, mereka mencari terobosan dan bertansformasi dalam jihad untuk terjun langsung maju dalam aksi terorisme,” jelasnya. [ ]

 

Penulis: Rio Pratama

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *