by

Wacana Feminisme di Era Modern

-Opini-14 views

Oleh: Ai Siti Rahayu

Perempuan sudah memperoleh ranah pendidikan yang telah diperjuangkan oleh beberapa pergerakan perempuan di era Kartini yang menamakan komunitasnya “Kartini Fonds”, kemudian disusul beberapa pergerakan perempuan dari berbagai daerah di Indonesia.

Perempuan saat ini juga sudah memperoleh tuntutan yang telah diajukan ketika kongres perempuan pertama di Yogyakarta pada 22-26 Desember 1928, sehingga tanggal 22 Desember dijadikan landasan sebagai Hari Ibu.

Pemerintah juga sudah menetapkan Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang batas minimal usia pernikahan, dan beberapa tuntutan yang dahulunya perempuan tidak mendapatkannya. Termasuk masalah hak pilih bagi perempuan sebagai anggota badan-badan perwakilan. Lantas apalagi yang diperjuangkan perempuan saat ini?

Perjuangan perempuan untuk masalah seperti yang disebutkan mungkin sudah tuntas untuk era saat ini. Pun jika kita melihat dengan tidak kasat mata memang seperti itu adanya. Okelah mungkin beberapa perjuangan kaum perempuan tersebut hingga saat ini sudah terpenuhi, tetapi masih ada beberapa hak perempuan yang masih terampaskan.

Misalnya masih ada beberapa pabrik yang memberi upah kepada perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. Tidak hanya itu, sekarang juga masih marak poligami yang dilakukan oleh laki-laki. Kalau kita meninjau dari berbagai dalil Al-Quran memang hal itu diperbolehkan, tapi saran saya kajilah ulang alasan ayat tersebut turun.

Dan perlu dilihat pula, para penafsir itu apakah berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Dan lebih parahnya lagi, diskriminasi gender sangat dirasakan di daerah yang amat kental budaya patriarkinya, khususnya daerah pedesaan yang menuntut perempun harus mengekor keberadaannya ke laki-laki.

Okelah, saat ini kita hilangkan dikotomi identitas jenis kelamin laki perempuan. Karena berbicara soal feminis bukanlah berbicara soal jenis kelamin, tetapi bicara feminis itu adalah bicara perjuangan.

Baca Juga: Sejarah Gerakan Feminisme di Indonesia

Perjuangan yang dilakukan oleh mereka baik laki-laki maupun perempuan yang SADAR atas diskriminasi yang terjadi saat ini. Toh hal yang kita kritisi pun sama, sistem kapitalis, sistem yang mendiskreditkan salah satu jenis kelamin, sistem yang melakukan pelanggaran HAM.

Feminisme memiliki artian yang sangat luas. Secara maknawi, pengertian tersebut kemudian diserap dan dipahami oleh kebanyakan orang. Hanya saja, untuk pengertian yang lebih konkret dan jelas belum dapat dipastikan. Dr. Suzie Handajani, dosen Antropologi UGM yang berfokus mengenai media, pop culture, dan gender, memberikan alternatif definisi feminisme.

“sama dengan –isme yang lain, feminisme merupakan sudut pandang dimana ada kondisi untuk memahami kondisi tersebut. Dalam sejarah manapun perempuan selalu menjadi subkoordinasi di dalamnya. Dari hal tersebut muncullah pikiran untuk menghadirkan sudut pandang supaya perempuan ini dalam kedudukan sama”

Feminisme merupakan sebuah konsep yang memiliki tingkatan penyerapan yang berbeda bagi setiap orang. Oleh karena keberagaman tersebut, kemungkinan feminisme untuk bergeser pada setiap era lebih besar terjadi. Pemaknaan konsep yang berbeda dapat menjadi penyebab gelombang pemaknaan feminisme dari satu orang ke orang lain menjadi dari satu kelompok ke kelompok yang lain.

Sayangnya terdapat sekelompok yang memaknai feminisme secara radikal dan membuat feminisme dilabeli oleh kelompok yang lain sebagai bentuk pemberontakan dan jauh dari kodrat perempuan yang seharusnya. Namun perlu dipahami bahwa kegiatan feminisme yang radikal bukan representasi dari gerakan feminisme secara umum. Mereka menuntut lebih dari sekedar kesetaraan namun sebuah dominasi yang harus dimiliki perempuan.

Hak Perempuan dan HAM

Perempuan pun manusia. Manusia memiliki hak konkret yang melekat pada dirinya semenjak dilahirkan ke bumi. Hak itu disebut hak asasi manusia. Berbicara mengenai hak perempuan tidaklahsama dengan hak asasi manusia yang sudah lama terkandung di dalam diri. Jika memang harusnya disamakan, lantas kasus-kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual nyatanya lebih banyak mengincar kaum perempuan.

Jika memang harusnya disamakan, seharusnya pemerkosa dan pelaku kekerasan seksual tidak boleh pandang bulu menilai gender korbannya. Jika harus disamakan, seharusnya perempuan dibolehkan memimpin suatu negara tanpa ragu. Tidak hanya itu, HAM lebih bersifat umum sehingga kurang adanya kemantapan untuk hak perempuan dileburkan disana. “justru ketika mereka bilang mengenai hak asasi manusia itu, hak perempuan menjadi tertutup,”tutur Suzie.

Persoalan kesetaraan gender ini semakin dipertanyakan dari waktu ke waktu. Tidak mudah memperjuangkan diri sebagai perempuan untuk dapat diakui dan diyakini setara dengan gender lain. Anti feminisme sendiri didasarkan pada pandangan mengenai hak perempuan yang tidak usah dipertanyakan lagi karena sudah diatur oleh agama ataupun pemerintah. Hanya saja, jika hal itu benar terjadi, maka seharusnya perempuan yang berkualitas tidak dihalang jalannya sebagai seorang pemimpin. Maka dari itu, perlu kejelasan lebih lanjut hak perempuan dalam hak asasi manusia.

Tapi tak apalah bagi mereka yang beranggapan bahwa perjuangan kawan-kawan feminis itu adalah hal yang sia-sia, yang rela berbusa-busa meneriakkan tuntuttannya waktu memperingati hari perempuan se-duni. Buktinya masih ada pelanggaran Perda terhadap sisi kemanusiaan manusia. Jika mau berbicara soal revolusi, revolusi berawal dari perjuangan kecil. Apa masih mau bertanya lagi untuk kerelevansian perjuangan kawan-kawan feminis untuk saat ini?

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed