by

Virus Berbahaya itu Manusia!

-Opini-13 views

Oleh Albertus Patty

Tiba-tiba kota Bandung kehabisan oxygen. Berbagai rumah sakit pun mengalaminya. Mereka menjerit tidak berdaya. Kita tidak tahu apa penyebabnya. Bisa saja karena stock yang ada memang habis. Ada yang berpendapat, mafia mulai bermain dengan menumpuk tabung dan oxygennya karena ingin mempermainkan harga.

Bila yang terakhir ini yang terjadi, entah manusia macam apa para mafia ini. Yang pasti mereka sudah kehilangan moral dan spiritual. Terlepas dari itu semua, kita tahu bahwa ada banyak orang yang sekarat dan bahkan mati akibat situasi ini.

Ada vaksin palsu yang dijual dimana-mana. Ada tenaga kesehatan yang menyuntik orang tanpa memasukkan vaksinnya. Ada pabrik obat yang kadang berubah menjadi mafia obat yang menggunakan kesempatan untuk mempromosikan keampuhan obatnya tanpa didukung data yang kuat dan menaikkan harga obat.

Baca Juga: Kunci Melawan Virus Radikalisme adalah Solidaritas Antar Sesama

Ada masker yang direcycle yang dikumpulkan dari tempat sampah. Ada yang menggunakan kesempatan untuk memeras yang sakit dan bahkan yang mati. Harga kremasi dibuat melambung puluhan kali. Entah manusia macam apa mereka ini?

Di tengah jutaan korban yang sakit dan mati akibat pandemi covid-19 ini, ada juga pimpinan agama yang justru gembar-gembor sana sini bahwa Covid itu tidak ada. Ada yang mengakui bahwa Covid memang ada tetapi, tanpa menjelaskan dan mendefinisikan makna “takut’, mereka berteriak bahwa kita harus lebih takut kepada Allah daripada takut kepada Covid. Mereka ribut besar ketika PPKM membatasi umat untuk beribadah.

Oknum pemerintah pun tidak mau kalah. Ada yang menghambur-hamburkan dana Pandemic tanpa tanggungjawab dan transparansi. Ada yang memainkannya untuk kepentingan dan keuntungannya. Ada juga yang tidak menggunakan sama sekali dana pemerintah, seolah-olah tidak ada persoalan apa pun.

Ada yang sibuk dengan politisasi karena mendorong masyarajat untuk membantu bangsa lain, tetapi mengatakan tak ada dana saat membantu rakyatnya sendiri yang mengerang kesakitan.

Kita semua berada dalam kerapuhan. Kita berada dalam situasi dimana orang justru memainkan dan menyalahgunakan kerapuhan kita untuk keuntungan politik, ekonomi dan kekuasaan. Mereka adalah setan-setan besar yang ada di sekitar kita.

Apa yang mau dikatakan di sini adalah bahwa di tengah pandemi covid ini muncul pandemi yang lebih dahsyat yaitu virus immoralitas, minimnya spiritualitas dan hilangnya virtue alias kebajikan.

Dan virus-virus berada di dalam diri manusia itu sendiri. Singkatnya, manusialah virus yang jauh lebih berbahaya daripada Covid-19. Virus ini jauh lebih menyakitkan dan mematikan. Waspadalah karena jangan-jangan, kita adalah salah satunya.

 

Pdt. Dr. Albertus Patty, Pendeta dari Gereja Kristen Indonesia (GKI), aktivis lintas-agama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed