by

Vaksinasi Menurut Ajaran Buddha

Kabar Damai I Selasa, 27 Juli 2021

Jakarta I kabadamai.id I Vaksinasi dapat dianggap sebagai sebuah pencapaian terhebat di bidang kesehatan masyarakat pada abad 20. Vaksinasi tidak saja membantu mencegah penyebaran penyakit menular, tapi telah menyelamatkan jutaan manusia dan membentuk masyarakat sehat di dunia.

Namun sayangnya, persepsi terkait boleh tidaknya vaksin dilakukan masih menjadi perdebatan. Penolakan terhadap vaksinasi umumnya didasari pandangan keagamaan atau alasan filosofis lainnya.

Tak jarang orang tua menggunakan tameng agama sebagai alasan untuk menolak vaksin bagi anak-anaknya. Beberapa studi ilmiah telah menunjukkan peningkatan kasus penolakan vaksinasi atas dasar alasan agama.

Di India, peneliti mengidentifikasi agama sebagai faktor utama penolakan vaksin pada anak (Shrivastwa dkk. 2015). Penelitian mereka menemukan bahwa dibandingkan anak-anak Hindu, anak-anak Muslim memiliki potensi besar tidak divaksin di India.

Di lain tempat, lain pula statusnya. Penolakan vaksin tidak hanya ditemui di kalangan umat Hindu atau Muslim saja, tetapi di semua agama di dunia termasuk agama Buddha.

Baca Juga: Menag: Saya Optimis Borobudur Jadi Pusat Ibadah Umat Buddha Dunia

Ketua Umum Majelis Agama Buddha Mahayana Tanah Suci Indonesia YM.Dr.(H.C) Maha Bhiksu Dutavira Sthavira.

Suhu Dutavira Sthavira mengajak masyarakat, khususnya umat Buddha untuk mengikuti program vaksinasi yang sedang digalakkan pemerintah. Menurutnya, jika seseorang sehat, maka keluarganya pun akan ikut terjaga kesehatannya.

“Vaksin merupakan jalan keluar untuk memutuskan pandemi Covid-19,” tegasnya.

Sementara itu, Suhu Dutavira mengingatkan untuk tetap menerapkan protokol kesehatan dan disiplin 5M. Yaitu, memakai masker, menjaga kebersihan dengan mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menghindari kerumunan, serta mengurangi mobilitas.

“Semoga semua makhluk hidup beruntung dan berbahagia,” katanya.

Ajaran Buddha dikenal sebagai ajaran cinta kasih. Salah satu prinsip dasarnya adalah mencintai kehidupan, bahwa semua kehidupan saling bergantungan satu sama lain dan memiliki esensi yang sama.

Ajaran Buddha menolak keras pembunuhan. Untuk mencapai tujuan utama umat Buddha yaitu Nibbana, semua umat Buddha harus secara waspada melatih diri dalam menjalankan Jalan Mulia Berunsur Delapan dan termasuk sila/aturan moral buddhis. Sedemikian penting ajaran menghargai kehidupan ini, sila pertama buddhis adalah menghindari pembunuhan.

Berkenaan dengan hal ini, apabila vaksin yang diproduksi berasal dari makhluk hidup yang sengaja dibunuh untuk mendapatkan vaksin, maka dapat menjadi perdebatan. Ajaran Buddha secara umum meminta penganutnya untuk merawat kehidupan sebaik-baiknya.

Kekinian, umat Buddha meyakini bahwa vaksin dipergunakan untuk mendorong dan mendukung kesehatan. Para peneliti biomedis buddhis yang melakukan eksperimen menggunakan makhluk hidup umumnya percaya bahwa tujuan eksperimen mereka adalah untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa sehingga pengorbanan ini diperlukan. Dengan kata lain, niat atau kehendak dari peneliti ini adalah baik.

Di sisi lain, kita juga perlu memeriksa bagaimana sampel atau bahan vaksin itu diperoleh. Apakah berasal dari donasi, pembelian tak langsung, atau pembunuhan langsung, termasuk apakah makhluk hidup itu diperlakukan secara hormat atau tidak.

Semua ini tentu memiliki bobot karmanya sendiri-sendiri. Namun penekanan ajaran Buddha modern lebih difokuskan untuk menyelamatkan kehidupan daripada melenyapkannya.

 

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed