by

Urgensi Pendamping Orang Tua dalam Pendidikan Damai Untuk Membangun Interaksi Sosial Anak

-Opini-39 views

Oleh: Muhammad Achsin Safi Maulana

Melihat negara Indonesia yang merupakan negara multikultural dimana negara ini memiliki berbagai ras, suku, agama, dan budaya. Seiring berkembangnya zaman dan evolusi budaya pada masyarakat yang menuju modern, banyak hal yang masih belum menyadari bahwa keagamaan merupakan hal yang vital dalam pribadi seseorang. Agama merupakan suatu pandangan hidup dan media untuk mengekspresikan keyakinan seseorang. Indonesia memiliki 6 agama resmi yang telah diakui dan telah disahkan oleh negara, diantaranya adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu.

Mengingat kondisi sosial negara Indonesia yang memiliki berbagai budaya dan perbedaan agama, maka diperlukan rasa toleransi terhadap sesama. Masih banyak ditemukan bahwa masyarakat masih memandang sebelah mata seseorang yang tidak sepaham atau “satu seragam” dengan mereka. Sebagian masih merasa bahwa apa yang mereka yakini adalah benar dan orang yang tidak satu keyakinan dengan mereka dianggap “sesat”.

Namun tidak dengan dewasa ini, dimana hampir semua masyarakat mengkampanyekan toleransi beragama dan konsep “Humanity Above Religion”. Tentunya sudah banyak yang mengkampanyekan hal ini, bahkan beberapa pemuka agama, terutama dari agama Islam mulai menyerukan tentang pentingnya rasa toleransi untuk bekal manusia hidup berdampingan dengan masyarakat yang penuh perbedaan ini. Kampanye ini mulai terlihat ketika terjadinya Insiden Pengeboman Gereja di Surabaya pada tahun 2018, dan berbagai insiden penistaan agama yang banyak terjadi di Indonesia. Melihat ini, masyarakat Indonesia, khususnya pemuda mulai membuka hati berbagai masyarakat bahwa hidup berdampingan bukanlah hal sulit untuk dilakukan, bahkan dengan adanya rasa toleransi, akan tumbuh rasa persaudaraan yang kuat di lingkungan tersebut.

Berjalannya zaman dan berkembangnya teknologi, mengkampanyekan sikap toleransi keagamaan melalui media sosial dan komunikasi dalam jaringan sangatlah mudah dan cepat. Pada dasarnya, komunikasi dalam jaringan atau Bahasa mudahnya adalah Internet, merupakan suatu jaringan yang dapat membagikan sesuatu secara masif dan cepat sehingga banyak dari pengguna internet yang menerima informasi lebih cepat dari media massa konvensional.

Selain itu, hampir semua kalangan saat ini menggunakan media internet sebagai media penerima informasi bagi mereka, dengan demikian, baik anak-anak maupun orang dewasa dapat menggunakan internet sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Akan tetapi, jaringan internet tidak memiliki batasan yang dimana semua kategori akan diterima oleh semua kalangan, bahkan anak-anak sekalipun. Hal ini dibuktikan dengan adanya fenomena langsung dimana terdapat sekumpulan anak-anak yang asik bermain dan bercanda, namun mereka terkadang menyelipkan gurauan mereka dengan kalimat yang sepantasnya tidak diucapkan di sembarang tempat, yaitu “kafir” dan “anak dajjal”.

Baca Juga: Pendidikan Damai Sebagai Pembentukan Karakter Anak di Sekolah

Fenomena ini terjadi pada hari jumat, di depan toko yang saya kelola terdapat anak yang tidak menunaikan ibadah sholat jumat. Setelah ibadah sholat jumat selesai, mereka berkumpul dan mengolok temannya tersebut dengan perkataan kafir hanya karena tidak menunaikan sholat jumat, tidak sampai situ, anak tersebut diejek teman-temannya karena tidak pernah mengaji. Hal ini merupakan bentuk intoleran terhadap teman sepermainannya yang dimana kita tidak mengetahui bagaimana kehidupan keagamaan dalam keluarga anak tersebut. Hal ini cukup tidak mengindahkan pertemanan seorang anak yang dimana mereka seharusnya masih asik bercanda tentang hal yang lucu atau melakukan permainan yang menyenangkan.

Anak-anak merupakan sosok yang suci bagaikan kertas putih yang belum dilukis oleh tinta. Begitu pula dengan tingkah laku mereka yang seperti video and voice recorder, dimana mereka akan melihat dan mengamati perilaku seseorang di sekitarnya dan akan menirukannya. Hal ini merupakan sifat mereka yang masih mengimitasi tingkah laku orang tuanya. Ketika orang tua melakukan aktivitas kebiasaannya maka hal itu akan lumrah bagi anak-anak meski begitu terkadang kebiasaan yang ditiru bukanlah kebiasaan baik. Seorang anak akan cenderung melihat dan mengamati lalu mempraktikkan tingkah laku tersebut.

Dengan demikian, seorang anak yang dapat melontarkan perkataan buruk merupakan bentuk tingkah laku yang telah Ia amati dan tirukan. Dalam hal ini peran orang tua harus mendidik anaknya untuk membatasi dan memberi pemahaman tentang perilaku yang baik dan yang buruk. Namun tidak semua orang tua bisa melakukan seperti itu, terlebih lagi ketika anak-anak di lingkungan pendidikan atau sekolah, dimana mereka bebas mengamati dan melihat hal-hal disekitarnya dan orang tua tidak bisa mengendalikan atau memantau tingkah laku anaknya yang ada disana.  

Melihat cerita tersebut, dapat dikatakan bahwa Pendidikan Damai Agama merupakan hal yang penting untuk dikenalkan pada anak-anak yang masih wajib menjalani pendidikan, baik itu pada sekolah negeri maupun sekolah berbasis agama atau pesantren. Tampaknya ucapan kafir dan sesat merupakan hal yang sederhana namun sangat dalam maknanya, sehingga kata-kata tersebut tidak dapat digunakan di sembarang tempat dan orang.

Sebagai orang tua tentunya kita tahu bahwa beberapa hal yang tidak boleh diterima oleh anak-anak pada usia wajib belajar adalah hal-hal yang memiliki konteks eksplisit dan harus didampingi oleh orang tua agar anak-anak tidak akan salah memahami terhadap konteks yang diterimanya. Selain itu, Pendidikan Damai Agama dapat menjadi pendukung pembelajaran pada kurikulum sekolah dari bidang moral dan spiritual sehingga anak-anak akan mendapatkan pendidikan tentang toleransi dan multikulturalisme.

Titik fokus dalam pendidikan damai agama adalah menciptakan bagaimana seorang anak dapat memahami lingkungan dan merespon gesekan budaya yang ada baik di lingkungan sekitar maupun luas. Selain itu, pendidikan damai agama akan menciptakan generasi muda yang toleran dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan dan moral kehidupan manusia yang dimana toleransi, moral, dan rasa kemanusiaan adalah unsur utama dari perdamaian.

 

Muhammad Achsin Safi Maulana, Mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Sunan Ampel Surabaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed