by

Upaya Memenuhi Syarat Ketakwaan Sosial-Ekologis

Kabar Damai I Senin, 25 Oktober 2021

Jakarta I kabardamai.id I Model keislaman kita  yang lebih menonjol nuansa fikih dan syariat daripada al-akhlaq al-karimah membawa akibat menurunnya kualitas kesadaran seseorang dalam menjalankan perintah-Nya. Bagaimana  tidak, seorang muslim terpanggil untuk melakukan ibadah lebih karena tahu hukumnya, mendapat pahala, dan jika meninggalkan akan berdosa kemudian masuk neraka, bukan panggilan sebuah kesadaran sebagai seorang hamba kepada pencipta-Nya.

Akibat lebih jauhnya, aktivitas ibadah kita cenderung sekedar untuk ʻmenggugurkan kewajibanʼ perintah

hukum, atau memenuhi syarat fikihnya. Sehingga, selama kewajiban itu selesai dilaksanakan dan sesuai dengan aturan fikih, maka selesai sudah tugas dan kewajiban keagamaan-keislaman kita.

Ust. Eko Cahyono, Peneliti, Pegiat Ekologi dan Pedesaan menekankan bahwa ajaran Islam bukan hanya berurusan dengan persoalan teologis, hukum/syariat dan fikih semata. Ajaran Islam juga berbicara tentang bagaimana praksis sosial, berbuat nyata untuk sesama dan semesta untuk kemaslahatan dan keadilan sosial.

“Artinya, orang yang berpengetahuan agama setinggi apapun belum tentu lebih baik di mata Allah Swt., dibandingkan dengan orang yang sedikit pengetahuan agamanya tetapi praktek ibadahnya lebih banyak,” Ujar Eko, dalam Khutbah Salat Jumat Virtual yang diselenggarakan Public Virtue, Jumat (22/10/2021).

Jika mau menelusuri lebih teliti surat-surat al-Qur`an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., kita akan diperlihatkan bagaimana pesan-pesan awal ketauhidan berhubungan langsung dengan perintah untuk reformasi sosial, mengubah keadaan sosial yang tidak adil untuk kemaslahatanumat, bukan persoalan teologis, hukum,dan fikih semata.

Eko juga kemudai merujuk pada pendapat cendikiawan muslim Djohan Effendi. Menurutnya,  kita bisa menjelaskan hal tersebut secara lebih rinci. Suatu hal yang sangat penting untuk direnungkan adalah, justru pada surat-surat atau ayat-ayat yang diwahyukan Allah Swt. di masa-masa permulaan kenabian Muhammad Saw. tidak terdapat kecaman terhadap penyembahan berhala.

Kecaman terhadap Keserakahan

“Yang ada malah kecaman terhadap keserakahan dan ketidakpedulian sosial. 12 surah masa awal kenabian  sama sekali tidak menyinggung masalah penyembahan berhala. Enam surah di antaranya justru menyinggung masalah keserakahan terhadap kekayaan dan ketidakpedulian terhadap orang-orang yang menderita,” terang Eko.

Dalam surah al-Lahab, yang turun dalam urutan ke-3, disinggung bahwa harta kekayaan dan usaha seseorang sama sekali tidak akan menyelamatkannya dari hukuman di Akhirat.

Surah al-Humazah, yang turun dalam urutan ke-6, dengan keras mengingatkan akan nasib celakabagi mereka yang dengan serakah menumpuk-numpuk kekayaan dan menganggap kekayaannya itu bisa mengabadikannya.

Dalam surah yang turun berikutnya, surah al-Maʼun, orang-orang yang tidak mempedulikan penderitaan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dikualifikasikan/dimasukkan sebagai orang-orang yang mendustakan agama.

Surah berikutnya yang turun dalam urutan ke-8, surah al-Takatsur, memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang asyik berlomba-lomba dalam kemewahan dan kekayaan.

“Kalian menjadi lalai karena perlombaan mencari kemegahan dan kekayaan. Hingga kalian masuk ke pekuburan,” [QS. al-Takatsur: 1 – 2].

Eko kemudia mengeaskan bahwa pesan-pesan al-Qur`an di atas, yang diwahyukan justru di masa yang sangat awal dari kenabian sangat jelas dan sama sekali tidak memerlukan penafsiran. Seluruhnya memperlihatkan betapa dalam al-Qur`an masalah kekayaan, keserakahan dan ketidakpedulian sosial mempunyai perspektif teologis.

Baca Juga: Islam dan Kebebasan Berpikir Menuju Masyarakat Madani

“Tidak sekedar masalah etik dan moral, tetapi langsung menyangkut kebertauhidan kita. Dan karenanya menjadi sangat prioritas bagi iman dan kualitas takwa seorang muslim,” bebernya.

Dari keterangan di atas, dapat kita renungkan lebih jauh, mengapa masalah kekayaan, keserakahan dan

ketidakpedulian sosial mendapat sorotan tajam pada masa yang sangat awal dari kenabian Muhammad Saw., mungkin kita bisa menarik kesimpulan bahwa risalah kenabian terutama untuk mengadakan

reformasi sosial atau merombak/mengubah kondisi yang tidak adil dan berpusat pada kepentingan diri sendiri ke arah kondisi yang mendahulukan kemaslahatan umat di atas kepentingan pribadi.

Penegasan al-Qur`an di atas mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. diutus tidak lain dalam rangka membawa rahmat bagi seluruh alam. Dengan perkataan lain, misi utama Nabi Muhammad Saw. Adalah membantu manusia mewujudkan tata kehidupan yang disemangati nilai-nilai rahmah/kasih-sayang.

Tentu kaitannya sangat jelas, bahwa keserakahan dan ketidakpedulian sosial adalah yang menimbulkan suatu kehidupan yang tidak disemangati dan akan menghilangkan nilai-nilai rahmah. Karena itu reformasi sosial mestilah ditandai, pertama-tama oleh distribusi/pembagian kekayaan yang adil bagi kaum fakir, miskin, anak yatim, petani, nelayan miskin, dan kelompok marjinal yang terzhalimi.

Dan otomatis menjaga kelestarian dan pemulihan beragam krisis ekologis yang menjadi ruang hidup mereka. Itulah prioritas utama yang digumuli Nabi Muhammad Saw. dalam usaha mewujudkan

reformasi sosial di awal penyebaran Islam di Makkah dan dilanjutkan penyempurnaannya pada periode Madinah.

 

 

Islam Rahmatan lil-‘alamin

Maka, Eko kemudia menarik kesimpulan bahwa jika merujuk pada penjelasan di atas, konsep kunci dalam ajaran Islam yang sering disarikan dengan istilah rahmatan li al-ʻalamin (rahmat bagi semesta alam) itu hanya bisa dicapai, pertama-tama, adalah dengan jalan menghilangkan keserakahan dan menumbuhkan semangat kepedulian sosial, sebagaimana termaktub dalam 12 surah awal yang diturunkan di Makkah (ayat-ayat Makiyyah) di atas.

Sebab sikap keserakahan dan ketidak pedulian sosial inilah yang hakikatnya menjadi penghalang utama nilai rahmah dan kasih-sayang, yang merupakan esensi semua agama, menjadi nilai-nilai utama bagi tata kehidupan manusia di bumi.

“Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa keimanan, ketauhidan, dan ketakwaan dalam ajaran Islam tidak hanya bermakna “teologis” tetapi erat terkait dengan praksis sosial,” tegas Eko.

Maka, penting kita renungkian bersama bagaimana spirtit reformasi sosial dan pembesaan dari keislaman model “Makiyyah” menjadi induk ajaran Islam awal dan seyogyanya tidak boleh diluruhkan dengan model keislaman “Madaniyah”

Meski keduanya saling melengkapi dan  menjadi kewajiban yang sama sebagai  uswatun hasanah.

Kedua, yang menjadi akar masalah dari peluruhan nilai dan watak ketakwaan sosial dan lebih kuatnya ketakwaan individual adalah watak dan mazhab tafsir keagaman-keislaman yang belum “kreatif” (transformatif-progresif?).

“Mari kita refleksikan ulang autokritik pemikiran Dr. Kuntowijoyo (intelektual-budayawan Muslim) yang mengajak kita melihat syarat pengetahuan keislaman yang kita miliki, apakah sudah tersedia “teori-teori perubahan sosial” dalam tradisi Islam (di Indonesia)?” tanya Eko.

Berdasarkan pemikiran Kontowijoyo. Eko beranggapan  sulit akan ada gerakan pembaruan sosial Islam yang kuat tanpa dipandu teori-teori perubahan sosial sebagai dasar dudukannya. Maka, Kuntowijoyo mengajak mendekatkan dimensi normatif-teologis Islam dengan teori-teori sosial melalui metode yang disebutnya sebagai “tafsir kreatif”.

Ayat yang dipilih sebagai contoh adalah: QS. Ali Imran: 110,

 

 “Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran (kejahatan) dan beriman kepada Allah.”

 

Tiga Nilai Menurut Kuntowijoyo

Menurut Kuntowijoyo, jika ditafsirkan secara kreatif, terdapat tiga nilai yang bisa diambil dari ayat ini:

 

(1). Amar

maʼruf (menyeru pada kebaikan) yang dekat dengan nilai-prinsip dan konsep tentang “humanisasi/emansipasi” (laku memanusiakan);

 

(2). Nahi munkar

(melarang kemungkaran) yang dekat dengan nilai-prinsip konsep “liberasi” (laku pembebasan). Lalu, apa yang membedakan dengan agenda gerakan pembaruan sosial lainnya yang hampir semua juga berwatak

memanusiakan dan membebaskan nasib sesama dari penindasan dan ketidakadilan? Menurut Kuntowijoyo, ada di nilai yang ketiga, sebagai tujuan akhir, yaitu mencari ridha Allah Swt.;

 

(3).Iman billah (beriman kepada Allah) yang dekat dengan nilai-prinsip dari konsep transendensi (laku berketuhanan).

Dengan dasar ini, perintah-perintah utama dalam Islam semestinya melekat spirit pembaruan sosial

yang berdimensi tiga nilai di atas. Hal inilah yang [di antaranya] menjadi dasar elaborasi canggih keilmuan sosial Kuntowijoyo yang kemudian dikenal dengan agenda “ilmu sosial profetis”.

Terakhir, Eko berharap dengan cara inilah misi rahmatan li al-ʻalamin sebagai misi dan akhlak Nabi Muhammad Saw. kita terjemahkan dalam keseharian kita. Bukan hanya untuk sesama manusia, tetapi juga untuk semesta. Inilah hakikat dari ketakwaan sosial-ekologis itu.

“Semoga dengan cara meneladani semangat perjuangan dan misi utama Kanjeng Nabi Muhammad Saw. di atas, yang kelahirannya (maulidnya) sedang kita rayakan dalam minggu ini, kita termasuk dalam golongan

umatnya yang mendapat syafaatnya di dunia maupun di akhirat kelak. Âmîn yâ Rabbal ʻ lamîn,” pungkasnya

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed