by

Upacara Adat Mantat Tu’ Mate Suku Dayak Taman di Kalimantan

-Kabar Utama-186 views

Oleh: Rio Pratama

Tradisi dalam kamus antropologi sama dengan adat istiadat, yakni kebiasaan-kebiasaan yang bersifat magsi-religius dari kehidupan suatu penduduk asli yang meliputi mengenai nilai-nilai budaya, norma-norma, hukum dan aturan- aturan yang saling berkaitan, dan kemudian menjadi suatu sistem atau peraturan yang sudah mantap.

Perbedaan Tradisi dan Budaya yaitu : Tradisi adalah kebiasaan yang turun temurun dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Wilayah Kalimantan berbatasan dengan Sabah dan Sarawak, Malaysia – di bagian utara yang berarti juga dekat dengan Brunei Darussalam. Sebutan lama untuk Kalimantan, Borneo, sebenarnya berasal dari Kerajaan Brunei. Pada zaman kolonial, Brunei merupakan kerajaan terbesar di Kalimantan, sehingga orang Eropa yang mengunjungi pulau tersebut kemudian menyebutnya Borneo – sesuai dengan pelafalan lidah Eropa.

Sedangkan nama Kalimantan, menurut pendapat ahli sejarah C. Hose dan Mac Dougall, berasal dari nama enam golongan suku yang terdapat di pulau tersebut yaitu Iban (Dayak Laut), Kayan, Kenyah, Klemantan (Dayak Darat), Murut, dan Punan. Oleh karena itu, meskipun Kalimantan dihuni oleh aneka suku dan etnis seperti Bugis, Makassar, Batak, dan bahkan Jawa, suku Dayak tetap memiliki peran yang dominan dalam perkembangan sejarah Kalimantan.

Kata Dayak berasal dari kata “Daya” yang berarti hulu. Ini mengacu pada tempat tinggal suku Dayak yang sebagian besar berada di pedalaman atau daerah hulu Kalimantan pada umumnya. Ketika ajaran Islam masuk ke Kalimantan, banyak di antara masyarakat suku Dayak memeluk Islam. Kelompok ini berdiam di Kalimantan Barat dan lebih sering disebut sebagai orang Banjar daripada Dayak. Sedangkan suku Dayak yang tidak memeluk Islam, tinggal menyebar di seluruh Kalimantan, kebanyakan di tepi sungai dan hutan, masih memegang teguh ajaran nenek moyangnya.

Masyarakat Dayak tinggal di rumah tradisional yang disebut rumah betang atau rumah panjang. Ini merupakan rumah panggung yang berbentuk memanjang. Panjang rumah ini bisa mencapai 150 meter dan lebarnya hingga 30 meter. Biasanya sebuah rumah dihuni oleh keluarga besar suku Dayak, bisa mencapai 100 orang. Salah satu keunikan dari rumah ini adalah pembangunannya yang harus memenuhi aturan tertentu. Bagian hulu rumah harus dibangun searah dengan matahari terbit, dan bagian hilir rumah menuju ke arah matahari terbenam.

Baca Juga:  Konsep Hak-hak Berkeyakinan dan Pluralitas Nilai-nilai Spritualitas

Ini merupakan metafora dari kehidupan suku Dayak yang harus bekerja keras mulai dari matahari terbit hingga terbenam. Kamar tidur juga diatur berjajar sepanjang bangunan rumah betang. Kamar orang tua harus berada di bagian hulu rumah, sedangkan kamar anak paling bungsu berada di bagian hilir rumah. Ada juga beberapa ketentuan spesifik lain seperti tangga di rumah betang harus berjumlah ganjil dan dapurnya menghadap ke aliran sungai.

Hal yang menjadikan suku Dayak begitu dikenal luas adalah sisi mistisnya. Merupakan hal yang sangat umum di masyarakat Dayak bila terjadi keanehan-keanehan yang tidak dapat dijelaskan oleh akal sehat seperti melukai, bahkan membunuh musuh dari jarak jauh, atau melacak musuh di manapun tempatnya berada. Hal-hal gaib yang sering terjadi di lingkup suku Dayak ini menjadikan masyarakat Eropa zaman dulu menyebut suku ini sebagai kanibal. Padahal hal itu tidak benar sama sekali. Hanya saja dalam pertempuran memang suku Dayak seringkali bertindak kejam dengan mengumpulkan kepala musuh atau anggota badannya guna menakut-nakuti musuh lainnya.

Hingga sekarang, kebudayaan Suku Dayak merupakan salah satu budaya dominan sekaligus populer yang terdapat di pulau Kalimantan dan seringkali menarik minat wisatawan lokal maupun internasional untuk menyaksikannya. Suku Dayak taman dari Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat memiliki upacara khusus untuk mengantar orang yang telah meninggal dunia, namanya upacara adat Mantat Tu’ Mate.

Upacara dilakukan selama tujuh hari berturut-turut dengan iringan musik dan tarian sebelum jenazah dikebumikan. Seperti dalam video itulah prosesi adat Mandaria’i yang merupakan salah satu bagian dari upacara adat Mantat Tu’ Mate Dayak Taman, Kabupaten Kapuas Hulu untuk mengantar orang yang telah meninggal dunia.

Dalam prosesi adat Mandaria’i ini, keluarga dan para pengantar menari memutari peti jenazah dari luar masuk ke dalam rumah sebanyak tiga kali dengan diiringi tetabuhan dengan bunyi khusus. Tarian ini juga diikuti doa dan menebas kayu yang nantinya akan dibuang jauh untuk membuang sial dan membuang semua perasaan di dunia.

Masyarakat adat Dayak Taman melakukan upacara adat ini harus terus dilaksanakan sebagai warisan budaya dan kepercayaan masyarakat adat Dayak Taman. Bagi masyarakat adat Dayak Taman upacara adat Mantat Tu’ Mate memiliki makna bukan lagi dukacita, melainkan pesta memperingati bahwa almarhum telah lepas dari kehidupan duniawi dan berjalan ke kehidupan lain dengan diiringi doa-doa. Setelah upacara selesai,barulah jenazah tersebut akan dimakamkan.

 

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed