by

UNESCO Adakan Kampanye Kesadaran Tentang Kekerasan Online Terhadap Jurnalis Perempuan

-Kabar Manca-111 views

Paris | kabardamai.id | Building peace in the minds of men and women (membangun perdamaian di pikiran setiap orang, laki-laki dan perempuan) merupakan slogan The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization atau biasa disebut UNESCO yang tercantum di laman online resminya, unesco.org.

Salah satu upaya untuk menanamkan perdamaian sejak dalam pikiran, seperti tahun lalu, UNESCO mengadakan lagi kegiatan kampanye kesadaran akan kekerasan online terhadap jurnalis perempuan (online violence against women journalists campaign) secara daring yang berlangsung mulai 8 Maret hingga 10 Mei nanti.

Rangkaian kampanye dengan #JournalistsToo merupakan acara khusus untuk memperingati Women Interntional Day pada 8 Maret lalu dan Hari Kebebasan Pers Sedunia pada 3-4 Mei nanti. Di tengah kampanye nanti akan ada sajian klip video pendek (sekitar 2 menit) yang membingkai masalah kekerasan online jurnalis perempuan, yang diharapkan dapat ‘berbicara’ dan menghubungkan masalah ini dengan masyarakat umum secara emosional.

Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah kekerasan online terhadap jurnalis perempuan, memperkenalkan temuan/rekomendasi utama studi global UNESCO yang dilakukan pada September-November 2020 lalu, tentang praktik-praktik yang baik dalam menangani kekerasan online terhadap jurnalis perempuan, dan sekaligus untuk meningkatkan visibilitas upaya-upaya UNESCO di bidang ini secara umum.

Survey global tersebut melibatkan lebih dari 900 responden dari 125 negara. Survei ini menunjukkan bahwa kekerasan online terhadap jurnalis perempuan adalah fenomena global. Beberapa temuan studi ini, diantaranya:

  1. 73% responden jurnalis perempuan pernah mengalami kekerasan online selama bekerja,
  2. 25% pernah menerima ancaman kekerasan fisik,
  3. 18% pernah diancam dengan kekerasan seksual,
  4. 20% melaporkan diserang secara offline sehubungan dengan kekerasan online yang mereka alami,
  5. Facebook adalah platform yang paling sering dilaporkan oleh responden terkait serangan online (39%), Twitter menarik keluhan sebanyak 26%, Instagram (16%), YouTube (7%), WhatsApp (6%).

Di kutip dari laporan survey global di atas, berikut rekomendasi untuk mengkonter kekerasan online terhadap jurnalis perempuan:

  1. Negara harus memastikan bahwa undang-undang dan hak yang dirancang untuk melindungi jurnalis perempuan secara offline diterapkan sama secara online, seperti yang didesak oleh Resolusi PBB yang menyerukan kepada negara-negara di dunia untuk mengamati kekhususan ancaman online dan pelecehan terhadap jurnalis perempuan melalui: “Mengumpulkan dan menganalisis data kuantitatif dan kualitatif yang konkret tentang serangan online dan offline atau kekerasan terhadap jurnalis, yang dipisahkan oleh, antara lain, jenis kelamin “dan“… secara publik dan sistematis mengutuk serangan online dan offline, pelecehan dan kekerasan terhadap jurnalis dan pekerja media. ”
  2. Aktor politik harus berhenti menyerang (online dan offline) terhadap jurnalis perempuan.
  3. Jurnalis perempuan tidak boleh disalahkan atas kekerasan online yang mereka alami, dan mereka juga tidak boleh diminta untuk memikul tanggung jawab untuk mengelola atau memberantas kekerasan yang dialaminya sendirian.
  4. Jurnalis perempuan harus didorong dan dibantu untuk melaporkan kekerasan online ke atasan dan platform komunikasi internet mereka.
  5. Perusahaan komunikasi internet harus memastikan bahwa sistem pelaporan kekerasan dan pelecehan online mereka memungkinkan pengaduan dari jurnalis perempuan ditindaklanjuti secara tepat waktu dan efektif sesuai dengan kerangka hak asasi manusia internasional yang dirancang khusus untuk melindungi jurnalis.
  6. Perusahaan komunikasi internet harus merinci dalam laporan transparansi mereka terkait jenis dan pola laporan yang mereka terima, dan tindakan yang mereka ambil sebagai tanggapan atasa laporan yang mereka terima.
  7. Organisasi berita perlu menetapkan prosedur dan sistem formal sensitif gender untuk mengidentifikasi, melaporkan, dan memantau kekerasan online terhadap staf mereka.
  8. Perusahaan pemberi kerja jurnalis harus didorong untuk memberikan dukungan keamanan online (memadukan psikologis, keamanan digital, keamanan fisik, dan tanggapan hukum) kepada staf, sekaligus dengan pendidikan dan pelatihan yang ditargetkan.
  9. Respon kolaboratif yang melibatkan organisasi masyarakat sipil, jaringan jurnalis dan peneliti diperlukan untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih rinci tentang serangan, mengembangkan respon kolektif untuk menjaga keselamatan jurnalis perempuan, dan menawarkan dukungan yang memadai. Survei ini menunjukkan bahwa kekerasan online terhadap jurnalis perempuan adalah fenomena global. Iklim impunitas atas serangan online menimbulkan pertanyaan yang perlu dieksplorasi lebih jauh karena impunitas memberanikan pelaku, menurunkan moral korban, mengikis fondasi jurnalisme, mempertinggi ancaman keamanan jurnalisme, dan melemahkan kebebasan berekspresi. Berdasarkan temuan tersebut, maka tindakan untuk mengatasi masalah kekerasan online terhadap jurnalis perempuan secara lebih efektif, sangat segera disarankan dilakukan.

Hasil survey secara keseluruhan tersedia dapat diakses publik di https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000375136 dan tersedia dalam bahasa Inggris, Arab, Prancis, dan Spanyol. [HH/unesco.org]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed