by

UNDIP Disebut Menko Polhukam sebagai Benteng Pancasila

Kabar Damai  | Senin, 25 Oktober 2021

Jakarta | kabardamai.id | Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengaku tahu persis bahwa Universitas Diponegoro (UNDIP) memang benteng Pancasila, karena sejak tahun 2000 dia sudah terlibat aktif di Kampus Universitas Diponegoro sebagai pengajar di Program Doktor Ilmu Hukum.

Dilansir dari laman BPIP, hal ini diutarakan Mahfud pada acara Silaturahmi dengan Senat Akademik dan Dewan Profesor Undip serta Forkopimda Jawa Tengah, di Gedung prof Soedarto, Kamis, 21 Oktober 2021.

“Apa yang dikatakan Rektor Prof Yos Johan bahwa Undip benteng Pancasila yang tidak memberi ruang pada mereka yang intoleran, memang benar,” kata Mahfud MD, dikutip dari bpip.go.id (22/10).

Oleh sebab itu, dalam rangkaian kegiatannya di Undip Mahfud tak mau memberi ceramah atau kuliah tentang Pancasila, namun memilih silaturahim. Mantan Ketua MK ini menegaskan, ideologi Pancasila sudah final karena sudah mengalami berbagai proses dan tantangan dalam berbagai momentum.

Jalan konstitusional saat dibahas di BPUPKI Pancasila disepakati sebagai dasar negara. Upaya memberi kesempatan perubahan konstitusi melalui Pemilu dan membuka ruang bagi partai politik saat BJ Habibie menjadi Presiden, juga berakhir dengan dukungan tetap pada Pancasila.

Baca Juga: Peringati Hari Santri, RK Percaya Santri Mampu Lawan Ideologi yang Mengancam Pancasila

Jalan perang seperti G30S PKI dan NII, juga tidak berhasil menggoyahkan Pancasila. Namun ada fenomena aneh, Presiden di Indonesia jatuh juga karena dianggap tidak bisa melaksanakan, melanggar Pancasila. Semua periode pemerintahan juga dituding tidak melaksanakan Pancasila.

“Apa masalahnya? Implementasi,” katanya, pada acara yang dimoderatori langsung oleh Rektor Undip, Yos Johan Utama.

Dalam acara itu, dia mengajak kalangan perguruan tinggi yang menjadi lembaga pencetak para intelektual, untuk bersama mengkaji dan mencari jawaban bagaimana mengimplementasikan Pancasila dengan cara yang relevan dengan kondisinya.

Beberapa konsep yang perlu dikuatkan di antaranya restorative justice dalam penyelesaian perkara pidana. Kemudian dengan memakai kearifan lokal.

Mahfud menandaskan, bahwa pemerintah harus terbuka dengan kritik dan tidak boleh menghadapi kritik dengan tindakan represif.

Namun harus dipahami, bahwa kritik kepada pemerintah bisa juga dijawab dengan kritik kalau apa yang dilontarkan tanpa didukung data. Jadi, kata dia, tidak bisa kritik yang asal-asalan dibiarkan karena bisa menyesatkan.

 

Limbah Masa Lalu yang Harus Diselesaikan

Mengenai permasalahan yang penting diperhatikan sekarang ini, di antaranya adalah tentang mafia tanah, beberapa pasal di Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronika (ITE), serta masalah yang terkait dengan BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) yang sampai sekarang terus bermunculan.

Mahfud menganggap masalah-masalah tersebut adalah limbah dari masa lalu yang harus diselesaikan tanpa harus saling menyalahkan. Pemerintahan sekarang pun terus berupaya menyelesaikan, namun tidak bisa serta merta selesai.

Kasus mafia tanah, diakui banyak tanah pemerintah yang dikuasai oleh perorangan dan korporasi, namun penyerahannya secara perdata sah, sehingga tidak boleh gegabah menanganinya. Masalah BLBI juga tidak mudah dituntaskan karena undang-undang tentang penyitaan aset belum ada.

“Berdemokrasi itu harus sabar,” ujar tokoh asal Madura ini mengingatkan.

Namun dia optimis bahwa menuju Indonesia Emas 2045 Indonesia akan menjadi negara besar bersama dengan China, Amerika Serikat, India dan Jepang. Prediksi itu diperkuat dengan berbagai kajian, bukan saja oleh lembaga nasional, tapi juga lembaga internasional seperti McKinsey dan PricewaterhouseCoopers.

Adil dan makmur pada akhirnya akan bisa dicapai pada Indonesia Emas 2045 selama tahapan prosesnya yaitu Merdeka, Bersatu, dan Berdaulat bisa dilakukan dengan baik.

Rektor Undip Yos Johan Utama, membeberkan salah satu indikator implementasi Pancasila adalah sejahtera. Karena itu, di lingkungan Undip kesejahteraan mendapat perhatian penting. Termasuk untuk mahasiswanya.

“Pancasila itu, berikan hak kepada yang berhak. Jangan dikurangi. Jangan berbisnis dengan menekan orang lain,” ujarnya.

Cara itulah yang dilakukan Undip di bawah kepemimpinannya mengimplementasikan Pancasila. Dan yang pasti, dia menegaskan, Undip bukan saja sebagai benteng Pancasila, tapi juga banteng Pancasila. Karena itu, tidak ada ruang bagi yang menolak Pancasila dan NKRI di kampus ini. [bpip.go.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed