by

Umat Sikh dan Hindu Afganistan di Bawah Rezim Taliban

Kabar Damai I Kamis, 09 September 2021

Jakarta I kabardamai.id I Umat Sikh dan Hindu di Afganistan hadapi ketidakpastian masa depan tinggal di bawah pemerintahan Taliban. Meski Taliban telah menjanjikan keamanan bagi kaum minoritas, tetapi pengalaman masa lalu membuat mereka waspada.

Berminggu-minggu sudah umat Sikh dan Hindu Afganistan berlindung di Gurdwara Dashmesh Pita, sebuah kuil komunitas Sikh, di wilayah Karte Parwan dekat ibu kota Kabul. Mereka berasal dari berbagai bagian negara.

Runtuhnya pemerintah sipil Afganistan dan pengambilalihan negara oleh Taliban pada bulan lalu telah mengombang-ambing kehidupan kelompok agama minoritas di sana.

Dilaporkan sekitar 250 orang umat Sikh dan Hindu tetap bertahan di Afganistan. Sebelumnya, sekitar 140 orang dari mereka gagal menumpang pesawat evakuasi militer India di bandara Kabul menyusul insiden bom bunuh diri di dekat bandara. Masa depan mereka pun kini berada di bawah bayang-bayang kendali rezim Taliban.

India telah mengevakuasi hampir 600 orang dari Kabul. Sebanyak 67 orang di antaranya adalah ukmat Sikh dan Hindu, termasuk angota parlemen Anarkali Kaur Honaryar dan Narender Singh Khalsa.

 

Siapakah kaum Sikh dan Hindu di Afganistan?

Kaum Sikh dan Hindu di Afghanistan sudah ada berabad-abad yang lalu, bahkan sebelum keberadaan negara itu, jelas Inderjeet Singh, penulis buku Afghan Hindus and Sikhs: History of a Thousand Years.

“Sejarah Sikh di Afghanistan saat ini dapat ditelusuri kembali ke zaman Guru Nanak di wilayah tersebut, yang bertepatan dengan munculnya agama itu sendiri pada abad ke-16,” kata Singh kepada DW, merujuk pada pendiri agama Sikh. “Akar kepercayaan Hindu bahkan lebih jauh ke belakang.”

Tetapi pihak yang berkuasa – terlepas siapa pun rezimnya – telah menggambarkan umat Sikh dan Hindu sebagai pendatang atau orang asing, menurunkan status mereka di negara nenek moyang mereka sendiri.

“Sikh dan Hindu adalah penduduk asli, bukan orang luar,” kata Puja Kaur Matta, antropolog Sikh Afganistan, yang sekarang tinggal di Jerman.

Banyak dari mereka bermigrasi ke Eropa saat Taliban mengambil alih negara tersebut pada pertengahan tahun 1990-an. Kini, jumlah mereka telah berkurang drastis yang tadinya sebanyak 60.000 orang pada tahun 1992 menjadi tersisa hanya 300 orang.

 

Ancaman segregasi dan pelecehan

Sempat muncul harapan akan persamaan hak ketika Afganistan dipimpin pemerintahan sipil. Namun, harapan itu pupus setelah terjadinya dua serangan besar-besaran di negara itu. Ayah anggota parlemen Khalsa tewas dalam insiden bom bunuh diri tahun 2018 dan sedikitnya 25 umat Sikh tewas dalam serangan kuil Gurdwara tahun 2020. Kelompok “Negara Islam Khorasan” (IS-K), mengaku bertanggung jawab atas kedua serangan tersebut. Kelompok tersebut jugalah yang baru-baru ini bertanggung jawab atas serangan bunuh diri di Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, di mana sedikitnya 182 orang tewas.

Di bawah rezim baru Taliban, umat Sikh dan Hindu takut kembali ke era di mana mereka dipaksa untuk memakai turban kuning untuk menunjukkan status non-Muslim mereka.

Baca Juga: Tokoh Muda Sikh: Kebebasan Beragama di Indonesia Belum Sepenuhnya Terwujud

“Sikh dan Hindu telah menjadi sasaran karena keyakinan mereka,” kata Kaur. “Satu generasi anak-anak tidak bisa pergi ke sekolah karena takut dilecehkan. Mereka bahkan tidak diizinkan untuk mengkremasi orang yang mereka cintai tanpa ancaman dilempari batu di depan umum.”

Inkonsistensi kebijakan India menempatkan kaum Sikh dan Hindu dalam kesulitan

Saat India ingin menyambut orang Sikh dan Hindu dari Afganistan, kebijakan India yang tidak konsisten terhadap pencari suaka dan pengungsi telah membuat ratusan orang dalam kesulitan. Kebijakan pemerintah terhadap pencari suaka sangat berbeda, baik berdasarkan hubungan dengan negara asal mereka maupun setelah mempertimbangkan kondisi politik dalam negeri.

Bulan lalu, pemerintah di New Delhi mengatakan akan memberikan suaka kepada warga Afganistan dari semua agama, lebih dari sekadar membantu umat Hindu dan Sikh Afganistan. Tetapi apa yang dikatakan pemerintah mungkin tidak mencerminkan apa yang terjadi di lapangan. Dengan tidak adanya kebijakan suaka, hanya ada sedikit transparansi tentang bagaimana orang-orang diberikan visa.

Selain itu, kehidupan di India juga tidak mudah. Delhi, yang menampung sebagian besar diaspora Afganistan, terkenal dengan biaya hidupnya yang mahal. Kebanyakan orang Afganistan di sana juga tidak memiliki izin kerja.

Impian hidup yang stabil
Umat Sikh dan Hindu yang berhasil melarikan diri dari Afganistan tentunya berharap untuk memulai hidup baru, kehidupan yang stabil, dan memastikan masa depan yang cerah bagi anak-anak mereka.

Namun, ketika umat Sikh dan Hindu meninggalkan Afganistan dalam jumlah besar, beberapa keluarga telah memutuskan untuk tinggal kembali di negara itu sebagai penjaga tempat ibadah mereka.

“Kami tidak punya rumah,” kata Puja Kaur Matta.

“Di Afganistan, orang menyebut kami orang India. Di India, kami orang Afganistan. Yang kami minta hanyalah tempat yang aman di mana kami dapat menjalani hidup kami tanpa rasa takut, tempat di mana kami dapat mempraktikkan agama kami, mengikuti adat istiadat kami, mendapatkan pekerjaan, membesarkan anak-anak kami tanpa rasa takut akan penganiayaan,” pungkasnya.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed