Ukhuwah Kauniyah

Opini141 Views

Oleh. Mukti Ali Qusyairi

Apakah sedekah hanya untuk manusia saja? Tentu saja tidak. Bukankah Nabi sendiri mempraktikan suka ngasih makan minum binatang? Bukankah dengan menyirami pepohonan dan tumbuhan itu artinya kita sedang menyantuninya? Abu Hurairah julukan seorang sahabat yg suka menyantuni dan memelihara kucing. Julukan ini disematkan oleh Nabi Muhammad SAW sebentuk ekspresi apresiatif pada sahabatnya itu.

Dalam satu riwayat, Nabi pun membiarkan cucunya Hasan dan Husein sedang bermain-main dengan seekor anak anjing.

Kita punya konsep ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah insaniyah/basyariyah. Dan menurut saya, ada satu ukhuwah lagi yang perlu ditambah yaitu ukhuwah kauniyah (persahabatan dengan semesta).

Tiga ukhuwah pertama tersebut seluruhnya terkait dengan persaudaraan satu spesies manusia meski berbeda identitas. Sedangkan ukhuwah kauniyah adalah persaudaraan semesta yang meliputi seluruh makhluk Tuhan, yaitu; kosmos, binatang, dll. Intinya perahabatan dengan semesta.

Baca Juga: Menjadi Pemuda yang Progresif dan Inovatif

Ukhuwah kauniyah relevan untuk dikembangkan agar dapat merumuskan sikap kita yang lebih arif dan bijaksana kepada semesta. Barangkali atau boleh jadi, persoalan-persoalan gempa, longsor, banjir, perubahan iklim, pemanasan global terjadi–atau bertambah parah–lantaran manusia memposisikan dirinya sebagai subyek dan semesta sebagai obyek. Relasi yang timpang, asimetris.

Sah saja manusia memanfaatkan alam untuk kelangsungan hidup, surveval, asalkan penuh tanggungjawab, terukur, dan tidak berpotensi kerusakan yang efeknya lebih banyak dan sumrambah. Selayaknya ukhuwah, persahabatan, ada timbal balik, saling memberi manfaat, saling menjaga, saling menyayangi, saling memberi perhatian.

Persahabatan dengan alam semesta banyak dipraktikan oleh Nabi Muhammad SAW: memberi makan dan minum pada binatang, melarang menggunduli hutan dan rerumputan sekalipun dalam keadaan perang, perhatian penuh pada pertanian, pengairan, dll. Rahmat bagi semesta, rahmatan lil-‘alamin.

KH. Mukti Ali Qusyairi, Ketua LBM – PWNU DKI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *