by

UHN IGB Sugriwa dan UIN Surabaya Kolaborasi Penguatan Moderasi Beragama

Kabar Damai I Minggu, 26 September 2021

Bangli I kabardamai.id I Dalam rangka memperkuat mderasi beragama Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus (UHN IGB) Sugriwa menjalin kerjasama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Surabaya.

Dilansir dari laman Kementerian Agama, kolaborasi dua kampus ini terkait pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dan penguatan Moderasi Beragama.

“Saya berharap dengan menjalin kerjasama UHN Sugriwa-UIN Sunan Ampel, menjadi jembatan dalam meningkatkan mutu dan pelayanan universitas melalui dunia pendidikan,” kata I Gusti Ngurah Sudiana, di Bangli, Sabtu, 25 September 2021, dikutip dari kemenag.go.id.

“Ini bagian dari upaya penguatan Moderasi Beragama. Terlebih, UHN Sugriwa sudah memproklamirkan sebagai kampus Kerukunan tahun 2019,” imbuhnya.

Rektor UIN Sunan Ampel, Surabaya, Masdar Helmy menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas sambutan civitas akademika UHN IGB Sugriwa.

“Saya bertekad, agar kedua lembaga ini bisa saling berkolaborasi dalam menerapkan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan Moderasi Beragama,” ujar Masdar.

Baca Juga: UHN IGB Siapkan Empat Pilar Menuju World Class University

Selain itu, lanjut Masdar, kerjasama kampus lintas iman ini juga akan ada pertukaran mahasiswa dan dosen, kolaborasi penelitian, KKN bersama, Percepatan BLU dan PTBH, dan perkembangan kampus di bidang agama dan ekonomi.

“Yang tak kalah penting adalah, UIN Sunan Ampel, Surabaya, mendukung dan mendorong percepatan UHN IGB Sugriwa menuju World Class University,” tandas Masdar.

Kegiatan juga diisi dengan pemaparan materi tentang Moderasi Beragama dari perwakilan UHN IGB Sugriwa I Gede Sutarya.

Selanjutnya, penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) antara Rektor UHN IGB Sugriwa Denpasar dengan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya. Lalu di bagian Dharma Wanita UHN IGB Sugriwa dengan UIN Sunan Ampel juga mengadakan kerjasama dan silahturahmi.

Tampak hadir dari UHN IGB Sugriwa Sugriwa, Ketua Senat, para Wakil Rektor, Kepala Biro, Ketua LPPM, dan pejabat lainnya. Sementara dari UIN Sunan Ampel terlihat, Ketua senat, Wakil Rektor III, Ketua Komisi Pendidikan, Kepala Biro, jajaran LPPM, sejumlah Dekan, dan pejabat lainnya. Kegiatan ini, tetap dengan Protokol kesehatan yang ketat.

 

Mahasiswa Harus Jadi Katalisator dan Dinamisator

Sementara itu, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi berharap mahasiswa perguruan tinggi, terutama Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) bisa menjadi katalisator dan dinamisator dalam penguatan moderasi beragama.

Pesan ini disampaikan Wamenag saat menberikan sambutan pada pembukaan Kuliah Perdana Institut Agama Islam (IAI) As’adiyah, Sengkang Sulawesi Selatan, 15 September 2021.

“Perguruan Tinggi adalah lembaga akademis. Mahasiswa Perguruan Tinggi diharapkan menjadi katalisator sekaligus dinamisator yang mampu mengedukasi masyarakat dalam penguatan moderasi beragama,” terang Wamenag.

“Publik perlu mendapat pencerahan mengenai pentingnya untuk memiliki pemahaman adil dan seimbang, demi merawat keharmonisan masyarakat, dan relasi harmonis antara agama dan negara dalam konteks keindonesiaan,” sambungnya

Wamenag menerangkan, pemahaman keagamaan yang adil dan seimbang seharusnya lebih mudah hadir pada mereka yang berada dalam atmosfer lingkungan akademis. Sebab, lingkungan ini mengutamakan dialog inklusif dan terukur dalam menghadapi perbedaan.

“Mahasiswa mesti mampu merawat nilai-nilai yang merupakan hakikat agama dan ilmu pengetahuan. Yaitu, nilai-nilai yang sesungguhnya untuk kemanusiaan, dan untuk menjawab permasalahan kemanusiaan,” tuturnya.

“Dalam konteks moderasi beragama, nilai-nilai kemanusiaan itu termanifestasi pada komitmen kebangsaan, toleran, beragama tanpa kekerasan, dan menghormati kearifan lokal,” sambungnya.

Wamenag melihat saat ini ada kesalahpahaman sementara orang dalam memaknai tugas dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Yakni, jika melaksanakan amar ma’ruf itu dengan cara yang lembut, bijak dan penuh kemadamaian, sementara jika melaksanakan nahyi munkar itu harus dengan cara-cara kekerasan. Hal tersebut tidak tepat dan tidak sesuai dengan akhlak Rasulullah.

Rasulullah, kata Wamenag, mengajarkan untuk melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar dengan penuh kebijakan, contoh yang baik dan berdiskusi dengan cara yang lebih baik. “Mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, ramah bukan marah-marah dan menasihati bukan memaki-maki. Sekarang ini banyak ahlul makky alias ahli maki-maki,” terangnya.

Kepada para mahasiswa, Wamenag berpesan tentang tiga hal ini agar mereka tidak mudah terbawa arus ekstremisme dan intoleransi. Pertama, mahasiswa tidak boleh kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis. Sebab, sikap kritis adalah salah satu ciri khas insan akademik. Sikap ini melahirkan cara pandang yang terbuka (open minded)

Kedua, mahasiswa harus memiliki pemahaman tentang relatifitas kebenaran pandangan keagamaan. Sehingga tidak mudah terjebak pada klaim-klaim kebenaran yang cenderung mempersalahkan pandangan lain yang berbeda.

“Ketiga, carilah ilmu dari sumber yang otoritatif. Hal ini bisa dilihat dari sisi kualifikasi akademik dan sanad keilmuan. Mahasiswa agar tidak mencukupkan dirinya semata belajar dari Mbah Google,” tandasnya. [kemenag.go.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed