by

UHN IGB Siapkan Empat Pilar Menuju World Class University

Kabar Damai | Senin, 13 September 2021

Bangli | kabardamai.id | Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus (UHN IGB) Sugriwa dicanangkan menjadi World Class University oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Dirjen Bimas Hindu Tri Handoko Seto menyambut baik pencanangan yang ditargetkan terwujud pada 2033 ini.

Atas pencanangan tersebut Tri Handoko mengingatkan bahwa civitas akademika UHN IGB Sugriwa membutuhkan lompatan besar. Menurutnya, seluruh motor penggerak kampus UHN harus memiliki minimal empat pilar.

“Ini harus dilakukan dan diseriusi,” tegas Tri Handoko usai mendampingi Menag di Kampus UHN IGB Sugriwa, Bangli, Sabtu, 11 September 2021, dikutip dari kemenag.go.id.

Pilar pertama, dilansir dari laman Kementerian Agama, meningkatkan kualitas pengajaran. UHN IGB Sugriwa membutuhkan SDM yang handal dan semangat yang tinggi.

Pilar kedua, meningkatkan kualitas penelitian para dosen.

Baca Juga: Umat Sikh dan Hindu Afganistan di Bawah Rezim Taliban

“Harus ada kualitas penelitian yang bertaraf internasional. Tidak bisa lagi para dosen melakukan penelitian hanya untuk mengejar KUM, atau kredit point, tapi benar-benar berkualitas tinggi. Setidaknya hasil penelitian bisa memecahkan persoalan kemasyarakatan, atau bisa menjadi dasar kebijakan bagi pembinaan umat Hindu di nusantara,” tutur Tri Handoko.

Pilar ketiga, kualitas lulusan. ditambahkan Tri Handoko, lulusan UHN IGB Sugriwa tidak boleh memiliki masa tumbuh kerja yang terlalu lama. Ini akan memengaruhi citra Perguruan Tinggi Agama Hindu.

Oleh karena itu, Tri Handoko mendorong agar, program kewirausahaan benar-benar diseriusi oleh UHN dan Perguruan Tinggi Keagamaan Hindu secara keseluruhan.

“UHN IGB Sugriwa harus menseriusi itu dan semua civitas akademika siap melaksanakannya. Ini akan menjadikan mahasiswa memiliki gambaran, ke depannya akan ke mana setelah lulus. Kalau itu sudah terjadi, antusias umat untuk kuliah di UHN IGB Sugriwa akan semakin meningkat, karena citra lulusannya yang sangat baik,” terang Tri Handoko.

Pilar keempat,  berwawasan internasional. Tri Handoko meminta Rektor UHN IGB Sugriwa, jajaran dan pada dosen dapat meningkatkan kemampuan civitas akademika dalam penguasaan bahasa-bahasa asing.

“Dosen-dosen harus digembleng untuk penguasaan bahasa Inggris, agar percaya diri untuk menjalin komunikasi dengan dunia internasional. Ke depannya, UHN IGB Sugriwa akan lebih diakui dunia internasional,” papar Tri Handoko.

Bagi Tri Handoko, strategi ini harus dipikirkan dengan jitu oleh seluruh civitas akademika UHN IGB Sugriwa.

“UHN IGB Sugriwa harus dapat mengidentifikasi keunikan yang dimiliki. Misalnya, Yoga Bali Kuno, dan Pencak Bali Kuno,” kata Tri Handoko.

“Segera kenali dan identifikasi keunikan yang dimiliki UHN IGB Sugriwa dan promosikan serta kampanyekan demi menarik perhatian dunia untuk datang ke UHN IGB Sugriwa untuk menuju WCU,” tandas Tri Handoko.

 

Universitas Hindu Pertama

UHN I Gusti Bagus (IGB) Sugriwa merupakan universitas Hindu pertama di Indonesia. Tri Handoko menjelaskan bahwa nama tersebut dipilih karena melihat sosok IGB Sugriwa.

Menurutnya, IGB Sugriwa adalah sosok yang sangat dihormati. Selain intelektual Hindu, IGB Sugriwa dikenal memiliki jiwa kejuangan, nasionalisme dan sangat mencintai Bali dan masyarakat Bali.

“Oleh karenanya, kampus Hindu Negeri Pertama di Indonesia ini diberi nama UHN IGB Sugriwa,” kata Tri Handoko usai launching UHN IGB Sugriwa menuju World Class University, di Kampus Bangli, Sabtu (11/9/2021).

“Kita selaku umat Hindu, sangat memahami bagaimana pemikiran-pemikiran IGB Sugriwa, yang melampaui zamannya,” imbuhnya.

Tri menjelaskan, umat Hindu secara keseluruhan sampai saat ini masih bisa merasakan apa yang dipikirkan oleh IGB Sugriwa masa itu. Ternyata, pemikirannya sangat sesuai dengan kondisi zaman saat ini.

“IGB Sugriwa merupakan intelektual Hindu, agawamawan, politikus dan budayawan. Ini harus diteladani umat Hindu. Jangan sampai pemikir-pemikir yang besar seperti itu, kita tidak ambil inspirasinya untuk membangun bangsa,” pesannya.

Tri berharap, civitas akademika UHN IGB Sugriwa dan seluruh umat Hindu di nusantara, bisa mengambil inspirasi yang pernah ditelurkan oleh IGB Sugriwa dengan semangat membangun Hindu Bali, membangun Nusantara ke depan.

“Saya kira, pemikiran-pemikiran IGB Sugriwa, bisa disebut sebagai politikus, agamawan, budayawan dan seorang yang nasionalis. Dan itu telah melekat pada diri IGB Sugriwa,” pungkasnya.

Ambil Peran Tangani Pandemi Covid-19

Dalam kesempatan yang sama, Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Eny Retno Yaqut Cholil Qoumas mengajak anggota DWP Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus (UHN IGB) Sugriwa Denpasar untuk ikut ambil peran dalam penanganan pandemic Covid-19.

Dilansir dari laman Kemenag, Eny Yaqut minta DWP UHN tidak hanya melakukan upaya pencegahan pandemi untuk diri sendiri, tetapi juga mengajak perempuan lain di sekitarnya agar bangkit secara bersama-sama.

“Mari kita sama-sama untuk bangkit ditengah situasi Pandemi,” tambah Eny Yaqut saat berkunjung di Kampus UHN IGB Sugriwa, di Bangli, Sabtu (11/9/2021).

“Ibu-Ibu harus semangat terus dan bisa menularkan semangatnya kepada ibu-ibu lain. Demi menyongsong perubahan yang lebih baik di masa mendatang,” sambungnya.

Ibu yang akrab disapa Simbok Emban ini menjelaskan, pandemi Covid-19 telah berdampak pada hamper seluruh lini kehidupan, baik sosial, agama, budaya, dan ekonomi. Kondisi ini menuntut masyarakat, termasuk DWP Kemenag untuk beradaptasi dan tetap optimis dalam menghadapi pandemi.

“Saya mengajak para Ibu di UHN IGB Sugriwa, untuk bisa beradaptasi dan bangkit dari kondisi ini,” pesan Eny Retno Yaqut.

Dalam kesempatan ini, Eny Yaqut juga turut menyaksikan pelepasan burung ke alam bebasdan menanam pohon Nagasari di halaman Kampus, Bangli.

Menurut Ketua DWP UHN IGB Sugriwa Denpasar, Relin Denayu E, pohon Nagasari dinilai sakral bagi masyarakat Bali. Naga berarti kesuburan dan kemakmuran, Sari diartikan sebagai inti atau pusat.

“Jadi pohon Nagasari ini memiliki makna sebagai pusat kemakmuran atau inti kesejahteraan. Pohon ini hanya bisa tumbuh/hidup di beberapa tempat dan di Bali biasanya tertanam di areal Pura,” tandas Relin Denayu E. [kemenag.go.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed