by

Tular Nalar Summit 2021: Kolaborasi Praktisi dan Akademisi dalam Mengasah Berpikir Kritis

Kabar Damai I Jumat, 12 November 2021

Jakarta I kabardamai.id I Melalui dukungan Google.org, konsorsium beranggotakan MAARIF Institute, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) dan Love Frankie menyelenggarakan Tular Nalar Summit, perhelatan berskala internasional yang merupakan puncak program Tular Nalar.

Tular Nalar Summit adalah acara virtual yang mempertemukan ide, gagasan dan berbagi pengalaman dari para akademisi, jurnalis, relawan dan organisasi yang memiliki kepedulian yang sama dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis untuk melawan misinformasi dan disinformasi, terutama di masa pandemi.

Acara yang diselenggarakan dari Command Center PUSAKA GEMILANG Kabupaten Magelang menampilkan beberapa pembicara yaitu Nadiem A. Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia; Nizam, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia; Semuel A. Pangerapan, Direktur Jenderal Penerapan Teknologi Informasi & Komunikasi, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia; Ryan Rahardjo, Head of Public Affairs Southeast Asia, Google Asia Pacific; Irene Jay Liu, Google News Lab Lead, Asia Pacific; Masato Kajimoto, Associate Professor of Practice at The Journalism and Media Studies Centre, The University of Hong Kong; Theresa M. Senft, Senior Lecturer, Macquarie University, Sydney Australia and WHO Consultant for Infodemic Management dan Lisa Reppell, Global Social Media & Disinformation Specialist, International Foundation for Electoral System (IFES).

Guna menciptakan ruang diskusi dan berbagi pengalaman, Tular Nalar Summit dibagi menjadi 3 sesi utama yaitu Seminar Internasional, Tular Nalar Talks, dan Tular Nalar Symposium. Sesi Seminar internasional menghadirkan pembicara dari berbagai negara untuk mendiskusikan tantangan dan terobosan kurikulum literasi digital untuk mengasah berpikir kritis.

Baca Juga: MAARIF Institute Mencari Peneliti Muda Lewat MAARIF Fellowship

Tular Nalar Talks diisi oleh para dosen, relawan, dan perwakilan asosiasi yang akan berbagi pengalaman dalam berpartisipasi dan berkolaborasi saat menyampaikan kurikulum Tular Nalar kepada komunitas, siswa dan masyarakat umum.

Tular Nalar Symposium menjadi ajang berbagi gagasan dan pemikiran untuk mengimplementasikan keterampilan berpikir kritis di masyarakat, terutama di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar). Terdapat lebih dari 51 karya ilmiah yang dihasilkan para akademisi, jurnalis, praktisi, dan aktivis yang terseleksi untuk dipublikasikan dalam prosiding dan jurnal nasional terkemuka.

Nadie Makarim
Sumber Foto: MAARIF Institute

Nadiem A. Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia menyampaikan harapannya kepada para peserta didik di Indonesia untuk dapat berpikir kritis dan kreatif. Beliau menyambut positif kontribusi MAARIF Institute, Mafindo dan Love Frankie dan dukungan Google.org dalam menghadirkan kurikulum literasi media. “Pada kesempatan yang baik ini kami menyampaikan apresiasi kepada MAARIF Institute, Mafindo, Love Frankie dan dukungan Google.org dalam menghadirkan kurikulum literasi media, Tular Nalar, dan menerapkannya melalui pelatihan guru, dosen dan mahasiswa.

Upaya yang dilakukan oleh MAARIF Institute, Mafindo dan Love Frankie sangat sejalan dengan visi Merdeka Belajar, mewujudkan generasi pelajar Pancasila yang cerdas dan berkarakter dan saya yakin langkah yang diambil MAARIF Institute, Mafindo dan Love Frankie akan mendukung upaya kita meningkatkan daya pikir kritis para pendidik dan peserta didik di Indonesia khususnya, dalam menyikapi informasi yang beredar di dunia maya. Besar harapan saya agar gagasan yang didiskusikan dalam pertemuan ini dapat melahirkan inisiatif-inisiatif baru yang lebih efektif dan efisien  untuk terus meningkatkan daya pikir kritis kita.”

Semuel A. Pangerapan, Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Repubik Indonesia juga memberikan apresiasi positif dengan kehadiran acara Tular Nalar Summit ini. Beliau  menambahkan “Harapannya program ini terus bisa berkembang, agar kemampuan digital literacy masyarakat terus meningkat khususnya bagi para generasi penerus bangsa agar dapat menyaring dan memverifikasi informasi sesuai fakta dan menggunakan digital skill dengan baik, beretika dan berbudaya.”

Ryan Rahardjo, Head of Public Affairs Southeast Asia, Google menambahkan “Kami menggunakan pendekatan multiaspek dalam melawan mis-disinformasi. Selain melindungi dan membantu pengguna menemukan informasi yang terpercaya serta mendukung jurnalisme yang berkualitas, kami juga bermitra dengan para pakar literasi media dalam mengembangkan pelatihan literasi digital untuk membantu masyarakat memahami cara memverifikasi informasi.

Program Tular Nalar yang didukung oleh Google.org adalah salah satu contohnya dimana kami berkolaborasi bersama dalam menyediakan materi pembelajaran yang dapat memperkuat cara berpikir kritis pengajar dan pelajar dalam menghadapi tantangan yang mereka hadapi di lingkungan pembelajaran. Dengan mengedepankan praktik-praktik terbaik dan kolaborasi dengan para ahli, kami harap dapat bersama sama melawan mis-disinformasi di Indonesia.”

Abd. Rohim Ghazali, Direktur Eksekutif MAARIF Institute menyebut “Program Tular Nalar yang telah diselenggarakan sejak Mei 2020 telah berhasil menjangkau di 238 kota, lebih dari 1.400 dosen, 7.500 guru dan 14.000 mahasiswa. Keberhasilan pencapaian ini berkat kerjasama yang baik dengan para pemangku kebijakan, komunitas, asosiasi guru, dosen dan relawan. Tular Nalar tidak berhenti sampai di sini. Tular Nalar di bawah tangan para agen yang terliterasi digital, akan terus dikembangkan agar kemampuan berpikir kritis masyarakat bisa terus meningkat.

Informasi yang diterima dapat diverifikasi sesuai fakta, kapasitas literasi digital dapat terus diasah menggunakan kurikulum sambil memanfaatkan tools digital dengan baik. Sehingga, kita semua dapat berkontribusi menciptakan atmosfer informasi yang sehat, optimal, produktif dan bermanfaat. Dengan semakin cepat dan mudahnya penyebaran informasi di era digital ini, mari kita bekerja sama untuk memberantas hoax dengan menciptakan warga negara yang lebih kritis dan makin arif berdigital.”

Di kesempatan ini, konsorsium Tular Nalar juga memberikan penghargaan kepada guru, dosen, mahasiswa dan relawan yang telah menularkan cara berpikir kritis dalam menerima informasi di dunia maya yang mereka dapatkan dari pelatihan Tular Nalar kepada pelajar, komunitas maupun masyarakat umum. Para penerima penghargaan tersebut adalah Primi Rohimi, dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus; Lusi Ayudaningsih, mahasiwa Universitas Putra Indonesia Cianjur, Jurusan Ilmu Komunikasi; Sunarsih, dosen Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Lampung dan Farid Supriadi, guru SMK Muhammadiyah Pontang Kab. Serang, Banten

Dengan diselenggarakannya Tular Nalar Summit, diharapkan masyarakat umum dan pembuat kebijakan memperoleh pengetahuan terbaru dan reflektif terkait dengan literasi media dan digital. Dan dapat menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang dapat meningkatkan gerakan literasi media dan digital khususnya bagi kelompok rentan diantaranya anak-anak, lansia, perempuan, kelompok disabilitas dan masyarakat yang hidup di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar).

 

Tentang Google.org

Google.org adalah organisasi filantropi Google yang mendukung organisasi-organisasi non profit yang berupaya mengatasi masalah-masalah kemanusiaan dan menerapkan inovasi berbasis data yang bisa diskalakan untuk memecahkan tantangan-tantangan terbesar di dunia. Kami membantu mereka dengan menyediakan akses terhadap kombinasi dukungan yang unik yang mencakup pendanaan, produk, dan keahlian teknis dari para relawan di Google. Kami bekerja sama dengan para pembawa perubahan ini, yang membawa dampak signifikan bagi komunitas mereka, dan yang karyanya berpotensi untuk menghadirkan perubahan bermakna. Kami menginginkan dunia yang ideal bagi semua orang—dan kami yakin bahwa teknologi dan inovasi bisa mentransformasi empat area penting ini: pendidikan, ekonomi, peluang, inklusi, dan respons terhadap krisis.

 

Tentang MAARIF Institute

MAARIF Institute didirikan pada 2002 dan memiliki komitmen dasar sebagai gerakan kebudayaan dalam konteks Islam, kemanusiaan, dan kewarganegaraan. Sebagai LSM terkemuka sekaligus lembaga Think Tank terkait masalah Pluralisme-Toleransi dan Mencegah/Melawan Ekstremisme Kekerasan di Indonesia sejak 2010, MAARIF Institute memiliki dua ruang lingkup kerja yakni; penelitian dan intervensi sosial. Hal tersebut tertuang dalam program terkait toleransi dan pencegahan ekstrimisme kekerasan, kewarganegaraan, inklusivitas, intervensi pendidikan bagi guru dan siswa, serta pluralisme dan media. MAARIF Institute didirikan oleh Ahmad Syafii Maarif, mantan ketua organisasi Islam terkemuka di Indonesia; Muhammadiyah. Sejak 2016 hingga sekarang, dengan dukungan YouTube Creators for Change dan Google.org, MAARIF Institute mengadakan program literasi media untuk membangun ketahanan masyarakat berbasis sekolah.

 

Tentang MAFINDO

MAFINDO adalah komunitas anti hoax yang resmi berdiri sebagai organisasi nonprofit legal pada 2016. MAFINDO saat ini memiliki lebih dari 85 ribu anggota online dan 17 cabang di seluruh Indonesia. MAFINDO melaksanakan berbagai kegiatan untuk melawan “infodemik” atau epidemi hoaks melalui pemberantasan hoaks, edukasi masyarakat, seminar, workshop, melakukan advokasi ke berbagai kalangan, menghadirkan berbagai teknologi anti hoaks, menjalin keterlibatan di akar rumput, mengadakan berbagai penelitian, dll. Sebagai komunitas yang telah disertifikasi oleh IFCN, MAFINDO telah bekerjasama dengan berbagai komunitas, akademisi, CSO, tokoh masyarakat, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, WHO, Unicef, CDC, Google, Facebook, dan pihak-pihak lainnya.

 

Tentang Love Frankie

Love Frankie adalah agensi perubahan sosial yang merancang dan menerapkan penelitian inovatif serta inisiatif komunikasi untuk menangani berbagai masalah sosial kritis di seluruh Asia Pasifik. Kami mendukung organisasi-organisasi progresif di bidang sosial untuk merancang dan menciptakan kampanye sosial berbasis bukti serta strategi komunikasi guna mencapai tujuan perubahan sosialnya. Kami memadukan pemikiran kreatif yang unik dengan wawasan lokal yang mendalam untuk membuat kampanye tepat sasaran yang sesuai dengan budaya dan menciptakan dampak nyata.

 

Tentang Program Tular Nalar

Tular Nalar adalah sebuah inisiatif yang dibuat oleh Maarif Institute, Mafindo, Love Frankie, dan didukung oleh Google.org. Inisiatif ini berfokus pada penyediaan materi pembelajaran tentang berpikir kritis dan literasi media, serta membantu audiens menavigasi tantangan yang dihadapi di lingkungan pembelajaran online selama pandemi ini.

Tular Nalar menyediakan kurikulum online dan sumber belajar yang menarik dan mudah digunakan bagi dosen, calon guru, dan siswa untuk membangun ketahanan diri terhadap intoleransi, berita palsu, ujaran kebencian, dan hoax melalui pemikiran kritis dan pendidikan literasi media. Kunjungi www.tularnalar.id untuk keterangan lebih lanjut.

 

Kontak Media:

  1. Santi Indra Astuti, Mafindo, +62-85794671508
  2. Juli R. Binu, Love Frankie, +62-81932891595
  3. Deni Murdani, Maarif Institute, +6281394245906

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed