by

Tuhan Itu Diferensiasi, Bukan Diskriminasi

-Kabar Utama-116 views

Oleh Ridwan Rustandi

Apakah keadilan itu? Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Apakah kedzaliman itu? Dzalim berarti menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Apakah keadilan itu?Engkau siramkan air pada pepohonan.

Apakah kdezaliman itu?Engkau siramkan air pada duri

(kutipan Syair Mawlawi dikutip oleh Murtadha Muthahhari dalam buku Keadilan Ilahi)

Tak syak lagi, Tuhan menciptakan setiap ciptaannya hanya dengan satu kehendak saja, satu kedipan mata yang kiranya dengan kedipan mata itu Dia bisa menunjukkan semua keagungan dan kekuasaan-Nya. Dan tak perlu khawatir, kita sebagai hasil ciptaan-Nya telah Tuhan berikan sebuah potensi yang kiranya dengan potensi tersebut kita bisa melaksanakan berbagai pilihan hidup menyangkut alam dan semua isinya. Tinggal bagaimana kita bisa memilih arah kehidupan kita, apakah kerusakan yang akan kita pilih sebagai landasan keadilan kita? Ataukah pemeliharaan bumi yang menjadi pilihan itu? Jawabnya: semua itu sangat tergantung dari keragaman potensi kita dalam mempersepsi makna keadilan Ilahi dalam diri kita.

Murtadha Muthahhari dalam bukunya yang bergenre teologi, ia mengatakan bahwasanya Tuhan tak pernah salah menciptakan segala ragam kehidupan di muka bumi ini. Ia yakin sepenuh hati, sebagaimana keyakinan awam kita dengan ungkapan yang menyatakan bahwa Tuhan adalah Penguasa semesta alam. Artinya, tak pernah ada keraguan dalam diri kita untuk mengatakan bahwa memang Tuhan itu tunggal. Permasalahannya ialah bagaimana setiap diri kita meyakini makna ketunggalan Tuhan. Apakah Tunggal itu satu? Apakah tunggal itu nol, apakah tunggal itu excelent, dan apakah tunggal itu tak hingga? Semuanya tergantung sejauh mana kita mengembangkan potensi ilahiyyat yang tuhan pancarkan dalam diri kita.

Tentunya, konsepsi keadilan itu berbagai ragam dan rupa, tergantung diri kita. Dimana dan kapan kita menggunakan konsep keadilan itu, dan tergantung siapa yang menggunakan konsep keadilan itu. Keadilan bagi seorang petani yang lulusan SD akan berbeda dengan makna keadilan bagi seorang petani lulusan IPB. Makna keadilan bagi seorang komunis akan berbeda dengan makana keadilan bagi seorang kapitalis. Dan makna keadilan bagi seorang RIDWAN akan berbeda dengan seorang lainnya. Semuanya Relatif.

Baca Juga: Satu Tuhan, Banyak Sebutan

Namun, pertanyaannya: apakah memang benar keadilan itu bersifat relatif?

Entahlah yang jelas persepsi keadilan bagi setiap orang, kelompok, kaum ataupun golongan akan berbeda. Dan dari perbedaan itu akan menciptakan sebuah keadaan yang bersifat ada. Artinya, dari sini akan muncul sebuah konsep diferensiasi keadilan.

Diferensiasi ataukah Diskriminasi?

Ada seorang Atheis (baca: orang yang berpura-pura tidak bertuhan padahal bisa saja ia mengakui Tuhan) yang mencoba memudarkan solidaritas kaum muslim dengan mengatakan bahwa Tuhan telah bertindak diskriminasi terhadap ciptaan-Nya sendiri. Lantas kaum Muslim saat itu marah dan menunjukan angra maymunnya (kejahatan atau akal jelek yang bisa menimbulkan perbuatan jahat bagi seseorang), dengan mengatakan: mengapa kau berani menyebut demikian? Lantas dengan tenang si Atheis itu menjawab: buktinya Tuhan ciptakan perbedaan di antara kita. Mengapa ada makhluk yang jelek dan sebagian cantik? Mengapa ada orang yang kaya dan sebagian miskin? Mengapa ada kulit putih dan kulit hitam? Mengapa, mengapa dan mengapa?

Dan apakah yang jelek itu akan jadi cantik? Apakah yang kulit hitam bisa jadi kulit putih, apakah yang berbuat kriminal bisa menjadi ustadz yang berbuat ihsan di muka bumi. Mendengar itu semua sedikitnya keyakinan kaum muslim perlahan mulai goyah, goyah, luntur dan lambat laun pudar.

Apa yang ingin penulis sampaikan ialah bahwa bagi kita yang menerima segala sesuatu secara ta’abuddy tanpa mau bersifat i’thibari akan meyakinai secara taken for granted apa yang menjadi landasan keadilan bagi seorang Atheis yang ia sampaikan tadi. Ia mencoba melihat keadilan ilahi dari sebuah sudut pandang sempit dengan melihat keragaman ciptaan Tuhan di muka bumi ini. Sekonyong-konyong sering kali kita dengan mudah mengatakan bahwa Tuhan tidak adil telah menciptakan perbedaan bagi diri kita. Dan kenapa pula Tuhan menciptakan kelemahan itu pada diri kita yang menjadi pembeda di antara mereka. Kita berani mengatakan bahwa TUHAN ITU DISKRIMINASI, maksudnya Tuhan tak adil pada diri kita.

Padahal, jika saja kita mau sedikit berpikir, maka seyogianya perbedaan yang telah Tuhan ciptakan merupakan konsepsi keadilan-Nya. Seringkali kita mendeskripsikan ukuran keadilan TUHAN dengan ukuran keadilan manusia. Padahal tentunya keadilan manusia sebagai makhluk-Nya jauh berbeda dengan ukuran keadilan TUHAN. Tuhan menciptakan perbedaan supaya kita saling mengenal dan dengan perbedaan itu akan membuat kita ada.

Epilogue…

Ingat : aku berpikir karena aku ada…. dan sekarang ungkapan descartes itu kita ubah dengan ungkapan aku ada karena berbeda… atau aku ada karena diferensiasi pun ada….

Itulah makna keadilan bagi Tuhan, Tuhan itu diferensiasi bukan diskriminasi.

*) Penulis adalah mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang aktif di Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed