“Tuhan Alam” dan “Tuhan Budaya”, Apa Bedanya?

Kabar Utama131 Views

Kabar Damai | kamis, 25 Maret 2021

 

Jakarta | kabardamai.id | Perbincangan tentang Tuhan memang selalu menarik dan tak akan ada habisnya. Selalu menarik dan kadang menggelitik.

Kali ini Sumanto Al Qurtuby, Co-founder and director Nusantara Institute yang juga

Dosen dan antropolog budaya, King Fahd University membahasnya dari sudut yang berbeda.

Menurutnya, banyak umat agama yang tidak bisa membedakan mana “Tuhan (Semesta) Alam” dan mana “Tuhan Budaya (Dunia)”.

“Tuhan (Semesta) Alam” adalah “Dzat” yang diasumsikan (oleh kaum teis) sebagai pencipta dan penguasa alam jagat raya beserta isinya. Tidak ada umat manusia dan umat agama – para orang suci sekalipun – yang mengetahui siapa “Dia” sebenarnya. Dia tetap menjadi “Maha Misteri”, tulisnya, Selasa (23/3) lalu.

Ulasan yang diunggah di Esoterika – Forum Spiritualutas itu, Sumanto menjelaskan, yang dimaksud dengan “Tuhan Budaya (Dunia)” adalah konsep atau nama Tuhan hasil kreasi dan imajiniasi oleh umat manusia atas sang pencipta dan penguasa alam jagat raya itu sehingga muncullah ribuan nama Tuhan. Masing-masing umat agama di jagat raya ini mempunyai nama Tuhan andalan mereka.

Baca juga: Konsep Ketuhanan dalam Aliran Kebatinan Perjalanan

“Sayangnya atau ironisnya, masing-masing umat agama – agama besar maupun kecil, agama lokal maupun transnasional – overdosis dalam menganggap dan meyakini nama “Tuhan Budaya (Dunia)” mereka yang diyakininya sebagai “nama yang sebenarnya” dari Tuhan (Semesta) Alam itu. Apakah “Dia” mempunyai nama?,” terangnya.

Akibatnya, kata dia, mereka sering adu mulut sampai lambene jontor dan kewer-kewer untuk membela dogma, nama, dan konsep Tuhan dalam agamanya sementara melupakan “esensi” dari Tuhan alam itu.

“Seandainya mereka menyadari bahwa nama-nama Tuhan yang mereka yakini itu adalah “Tuhan Budaya (Dunia)”, mereka akan lebih rileks, santai, dan toleran dalam beragama serta menjadi penjaga keharmonisan sosial di masyarakat tidak “mrekungkung” kayak bangkong lagi mupeng qiqiqi,” pungkas dosen yang kini bermukim di Jabal Dhahran, Jazirah Arabia.

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Editor: –

Sumber: Esoterika – Forum Spiritualitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *