by

Tugas Istri Hanya Mengurus Suami, Benarkah?

-Kabar Puan-13 views

Jakarta I Kabardamai.id I Hingga saat ini, yang berkembang dan diyakini oleh sebagian besar masyarakat adalah tugas utama istri adalah mengurus suami dan anak. Anggapan tersebut mengakar dalam pikiran masyarakat sehingga istri yang ideal adalah istri yang bisa memegang tugas rumah tangga.

Kita sering melihat perempuan dalam rumah tangga terutama istri selalu bangun lebih pagi dan tidur paling terakhir. Sebelum tidur bahkan sudah memilirkan anak menyiapkan sarapan seperti apa untuk suami dan anak-anaknya esok hari.

Dalam program muslimah talk, Ustadzah Zahrotun Nafisah menjelaskan tentang pernyataan diatas dan hukumnya dalam Islam.

Diawal pemaparannya, ia menyatakan bahwa perempuan selain mengalami lima fase biologis juga kerap mengalami pula lima fase sosial. Ungkapan ini ia kutip dari sebuah buku berjudul nalar kritis muslimah.

“Dalam buku nalar kritis muslimah menjelaskan perempuan selain mengalami lima pengalaman biologis yaitu menstrusi, hamil, melahirkan, nifas  dan menyusui juga mengalami lima pengalaman sosial berupa sub koordinasi, marjinalisasi, kekerasan, stigmastisasi dan beban ganda,” ungkapnya.

Beban berat akan semakin dipanggul para perempuan pada permasalahan ini jika perempuan tersebut juga bekerja diluar rumah.

Baca Juga: Penyebab Buku Malala Yousafzai Dilarang Beredar di Pakistan

“Jika dilihat dari pengalaman perempuan dalam hal ini hanya dianggap sebagai sosok yang hanya mengurus suami, perempuan mengalami beban ganda terlebih jika ia seorang pekerja perempuan,” tambahnya.

Pada permasalahan semacam ini pula, pola patriarki menjadi salah satu penyebab yang menempatkan perempuan secara spesifiknya istri menempati posisi bawah dalam rumah tangga.

“Selain itu, perempuan juga mengalami subkoordinasi. Saat posisi istri hanya mengurus dan melayani suami disini ada situasi yang tidak seimbang antara suami dan istri. Posisi istri berada dibawah dan dianggap sebagai istri yang tidak ideal jika tidak memenuhi tugasnya,”  tuturnya.

Permasalahan ini juga semakin parah dengan adanya stigma terhadap isri yang juga harus ditanggung.

“Ketiga, istri mengalami stigmatisasi dengan mendapat label sebagai istri yang tidak bisa mengurus suami,” tambahnya.

Hal semacam ini haruslah ditinggalkan, terlebih karena Rasul yang merupakan manusia pilihan juga kerap membantu istri.

“Padahal, Rasulullah yang merupakan utusan Allah, yang ikatannya langsung dengan Allah dan juga mengurus umat masih sempat melakukan pekerjaan rumah tangga untuk membantu istrinya,” kata ia.

Sebagaimana keterangannya dalam sebuah hadist yang artinya ‘Dari Al-Aswad berkata, aku bertanya pada Aisyah. Apa yang Nabi lakukan ketika berada ditengah keluarganya?. Aisyah berkata: Jika sudah tiba waktu sholat beliau akan berdiri dan segera menuju sholat. (HR. Bukhari). Ini menunjukkan sikap kerendahhatian Nabi yang juga menunjukkan nilai dalam rumah tangga kepada umatnya.

Oleh karenanya, mulai sekarang mari berhenti beranggapan bahwa keahlian dalam bidang domestik harus dimiliki oleh perempuan saja. Hanya karena kelak perempuan menjadi istri yang mengurusi suami, atau mengatakan kepada laki-laki untuk cepat-cepat menikah agar nanti bisa diurus oleh istrinya yang padahal laki-laki dan perempuan harus memiliki kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri baik sebelum atau sesudah menikah sebagai tanggungjawab atas dirinya sendiri.

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed