by

Tren Radikalisme Naik Pesantren/Madrasah Muhammadiyah Kuatkan Moderasi

Kabar Damai I Kamis, 2 September 2021

Jakarta I kabardamai.id I Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafiq Mughni menilai tren pemahaman agama yang cenderung keras naik seiring dengan perkembangan teknologi. Atas masalah ini, ia mendorong lembaga pendidikan Muhammadiyah menguatkan pemahaman tengahan atau moderat.

“Ada tantangan pemahaman agama, ada ekstrimisme atau dalam bahasa Arab dikenal dengan al ghuluw atau at tatharuf, pemahaman yang sangat ekstrim melihat bahwa orang selain kelompoknya sesat dan salah semua dan akan masuk neraka. Ini merupakan tantangan bagi harmoni seluruh umat beragama.

Padahal Islam menghendaki kita berada di posisi wasathiyah. Islam mengajarkan la taghlu fi dinikum (An-Nisa 171),” pesan Syafiq, dikutip dari Muhammadiyah.or.id (31/8).

Menyampaikan pidato kunci dalam forum forum webinar Internasional Leimena Institute, Sabtu (28/8) Syafiq mengungkapkan bahwa sebenarnya pemahaman ekstrim beragama itu dilakukan oleh kelompok yang kecil namun aktif menyebarkan narasi permusuhan di media sosial.

Melansir laman PP Muhammadiyah, selain karena perkembangan teknologi, Syafiq mencatat bahwa naiknya tren radikalisme beragama itu juga dipicu oleh masalah sosial dan ekonomi.

“Kedua, kita mellihat gangguan itu dilakukan oleh sekelompok kecil yang punya asosiasi dengan pikiran-pikiran ingin melakukan kekerasan untuk mencapai tujuannya. Kita juga melihat suasana media sosial digital pada umumnya yang memuat narasi-narasi negatif yang mengganggu kerukunan di antara kita,” ujarnya.

“Perkembangan dunia global juga seringkali mendorong atau menginspirasi bagi tindak kekerasan atau disharmoni pada kita semua. Melihat situasi semacam ini maka Muhammadiyah perlu melakukan beberapa langkah yang sangat penting dalam menghadapi tangantan-tantangan itu dan kemudian melahirkan situasi yang harmonis dan damai antar seluruh anak bangsa ini,” imbuhnya.

Baca Juga: Cegah Radikalisme di Kampus Sedini Mungkin

Muhammadiyah sendiri menurut Syafiq perlu lebih menguatkan promosi pemahaman Islam wasathiyah sebab apresiasi terhadap paham keberagamaan Muhammadiyah telah dikenal oleh berbagai masyarakat dunia.

Syafiq lalu mengisahkan pengakuan seorang tokoh Evangelis Amerika ketika bertemu denganya dalam sebuah forum internasional sepuluh tahun lalu.

“Katanya Muhammadiyah adalah organisasi yang sangat aktif menyelenggarakan pendidikan Islam tapi pada saat yang sama mendorong kehidupan yang harmonis, damai di atas perbedaan. Ini saya pandang sebagai apresiasi bahwa dunia melihat Muhammadiyah sebagai organisasi yang sangat penting, on the right track dalam perjuangannya,” ungkap Syafiq.

 

Perekat Persatuan Indonesia

Dalam webinar tersebut juga mengemuka bahwa Pondok pesantren dan madrasah, sejatinya berperan besar dalam merawat keberagaman dan toleransi di tengah masyarakat. Lembaga pendidikan ini juga berperan penting dalam membendung paham radikal dan ekstrimisme beragama. Sayangnya, peran seperti ini kurang terelaborasi oleh berbagai media.

“Kita tahu fungsi madrasah dalam literatur Kementerian Agama berfungsi untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan ajaran agamanya dan atau menjadi ahli agama. Dalam istilah masyarakat majemuk, nilai yang diamalkan harus disesuaikan dengan kemajuan itu, yakni mengedepankan sifat inklusif dan nalar kritis, bukan sebaliknya,” kata Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah Abdulrahman Ghazali, Sabtu (28/8).

Dalam forum forum bertema “Kontribusi Madrasah dalam Kerukunan Umat Beragama” yang digelar oleh Institut Leimena bersama Ma’arif Insitute, Majelis Dikdasmen dan Lembaga Pengembangan Pesantren (LPP) PP Muhammadiyah itu Ghazali menyebut madrasah dan pesantren telah menjalankan peran ideal.

Pondok pesantren dan madrasah menurutnya berhasil membentuk pribadi yang berprinsip namun menghargai perbedaan sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia yang plural.

“Dari kesadaran inilah materi yang disiapkan bagi para santri dan siswa dalam madrasah seyogyanya diselaraskan dengan semangat keterbukaan, refleksi perspektif budaya dan agama yang majemuk untuk mendukung kehidupan yang rukun dan damai,” terangnya.

Menyambung Ghazali, Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho menilai pesantren sejatinya memang memiliki peran besar menerjemahkan ajaran Islam yang sebenarnya.

“Saya sebagai non muslim, ini penting untuk meningkatkan pemahaman bersama dan mengembangkan masa depan pluralitas yang lebih kompleks. Saya percaya bahwa Islam sejatinya bertujuan rahmatan lil alamin. Dan pesantren punya peran yang besar untuk merekat kerukunan itu,” tandasnya.

Di acara yang sama Sekretaris Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah Alpha Amirrachman berharap posisi strategis pesantren dan madrasah ini terus diperkuat, terutama oleh lembaga pendidikan milik Muhammadiyah.

“Kerjasama antar agama bukan hal yang baru bagi Muhammadiyah terutama di Indonesia bagian timur. Bahkan lulusannya banyak yang menjadi pemimpin di daerahnya masing-masing. Dengan demikian amal usaha pendidikan Muhammadiyah sejak awal sudah berkontribusi pada kerukunan antar umat beragama. Tapi ini perlu diperluas karena tantangan ekstrimisme dan globalisasi masih nyata,” paparnya.

 

Jejak Moderasi Muhammadiyah

Dalam acara tersebut, Syafiq Mughni juga menilai jejak toleransi, moderasi, dan prinsip beragama Muhammadiyah menghadirkan Islam yang rahmat untuk seluruh alam terdokumentasi secara runut dan jelas lewat dokumen resmi dan kiprah organisasi.

Karena itu, ia mengajak warga Persyarikatan untuk lebih percaya diri mempromosikan sikap dan kiprah Muhammadiyah kepada masyarakat luas yang belum mengenal Muhammadiyah.

“Muhammadiyah telah mengembangkan pikiran-pikiran yang dalam dokumen-dokumen dari awal sampai sekarang ada benang merah yang bisa kita tangkap tentang hubungan antar umat beragama,” tuturnya.

Syafiq menyebut dokumen organisasi seperti Kepribadian Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), Ideologi Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah dan berbagai macam pernyataan Persyarikatan hingga rumusan Tanwir dan Muktamar telah memberikan pedoman hidup ala Muhammadiyah yang moderat, toleran, inklusif, bersahabat dan konstruktif dengan siapapun.

“Ini saya kira dokumen-dokumen penting yang perlu dieksplorasi lebih luas dan dalam supaya kita bisa menghayati setiap tarik nafas, denyut nadi Muhammadiyah terutama dalam persoalan-persoalan pemikiran yang sudah jadi karakteristik Muhammadiyah,” tegasnya.

Lebih lanjut Syafiq menuturkan bahwa dokumen-dokumen di atas tidak hanya berhenti sebagai tulisan, tetapi menjadi pedoman bergerak Muhammadiyah yang terimplementasi lewat pengabdian dan pelayanan terhadap umat dan bangsa.

“Muhammadiyah tidak terbatas pada teks-teks dokumen-dokumen itu tapi juga aksi yang sesungguhnya telah dilakukan. Bagaimana teologi Al-Ma’un memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan, kaum lemah dan miskin telah dilakukan tanpa melihat siapa yang harus ditolong. Dan Muhammadiyah sangat terlibat dalam humanitarian action, bahkan menjadi salah satu penggerak humantiarian group kelompok-kelompok agama untuk berpartisipasi,” terangnya.

“Muhammadiyah juga terlibat dalam resolusi konflik internasional. Misalnya antara pemerintah Filipina dan bangsa Moro yang telah terlibat (konflik) selama 40 tahun, sampai pada akhirnya tandantangan damai. Muhammadiyah sangat berperan di sana, menjadi anggota International Contact Group dan itu menjadi salah satu contoh saja dari apa yang telah dikakukan Muhammadiyah,” imbuhnya.

“Muhammadiyah telah ikut melakukan berbagai pertolongan, resolusi konflik dan lain sebagainya bukan hanya di Asean, tapi juga di tempat lain, ini saya kira merupakan pelajaran yang sangat penting. Dan Muhammadiyah secara internal perlu menjadikan ini sebagai aset pengalaman yang sangat berharga dan ke depan memberikan peran yang lebih kuat lagi untuk mewujudkan kehidupan yang harmoni antar seluruh umat beragama,” pesannya. [Muhammadiyah.or.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed