Transgender: Another Perspective

Opini1108 Views

Oleh: Ashalina Zaina

Membicarakan kehidupan, tentu bukan suatu hal yang dapat dilakukan hanya dengan satu sesapan kopi dan anggukan kepala tanda setuju. Begitu banyak kompleksitas di dalam kehidupan makhluk bernama manusia, selain kompleksitas yang ada pada diri manusia itu sendiri. Kompleksitas itu beragam wujudnya, salah satunya adalah jenis manusia yang dianggap menyimpang, nyeleneh, aneh, maupun berbagai label lainnya, yaitu transgender.

Transgender? Ya. Transgender, satu kata yang tidak jarang membuat seseorang mengernyitkan dahi, memberikan tatapan sinis, atau sekadar ekspresi yang tidak dapat ditebak makna dibaliknya.Seperti disinggung pada awal tulisan ini, membicarakan isu mengenai transgender tidak dapat diselesaikan dengan secangkir kopi dan diskusi sesaat. Sebelum membicarakan isu ini lebih lanjut, coba kita renungkan sebuah pertanyaan yang cukup mudah berikut.“Apakah seorang laki-laki ‘normal’ maupun perempuan ‘normal’ pernah walaupun sekali dalam hidupnya, merencanakan atau meminta untuk terlahir menjadi seorang laki-laki normal (bagi laki-laki) maupun menjadi perempuan normal (bagi perempuan)?”

Jawabannya tentu saja TIDAK. Sebuah pertanyaan yang cukup aneh dan nyeleneh untuk ditanyakan, dan tidak butuh waktu lebih dari satu detik untuk menjawabnya. Namun, pertanyaan tersebut akan menjadi sebuah kontroversi tersendiri ketika kemudian pertanyaan itu diubah:

“Apakah seorang individu transgender pernah walaupun sekali dalam hidupnya, merencanakan atau meminta untuk terlahir menjadi seorang transgender?”. Dari sebuah pertanyaan singkat di atas, kita tidak sedang berbicara mengenai para laki-laki yang dianggap tulen ataupun perempuan yang dianggap tulen yang menjadikan ‘transisi’ gender tersebut sebagai ladang penghasil uang, maupun untuk commiting illicit acts, namun lebih kepada individu yang memang terlahir “kurang beruntung”.

Yang sering orang awam pahami – yang tidak jarang pemahaman tersebut keliru, adalah bahwa transgender adalah sebuah pilihan. Suatu pemahaman yang kurang tepat, tetapi tidak sepenuhnya dapat disalahkan, karena individu transgender tidak dapat selalu dijumpai dalam kehidupan pribadi masing-masing, dan hanya dapat diketahui melalui media massa maupun kabar miring berantai.

Tidak jarang pula transgender dimaknai sebagai tindakan operasi penegasan kelamin, atau disamakan dengan perbuatan homoseksual. Ini adalah hal yang perlu diluruskan, karena makna transgender itu sendiri adalah individu yang memiliki IDENTITAS GENDER atau EKSPRESI GENDER yang berbeda dengan sex biologis (alat kelaminnya) yang ditentukan pada saat individu tersebut lahir.


Dari deskripsi di atas, yang menjadi penekanan dan penentu apakah seseorang diidentifikasi sebagai individu transgender atau bukan adalah identitas gendernya, yaitu bagaimana pikiran dan rasa seseorang menghayati terhadap gendernya, yang pada tahap selanjutnya, dimanifestasikan dalam ekspresi gendernya. Individu transgender, juga tidak selalu berarti seorang homoseksual, karena identitas gender tidak berkaitan sama sekali dengan orientasi seksual, yaitu ketertarikan individu terhadap jenis kelamin atau gender tertentu. Itu berarti, seorang individu transgender bisa saja menjadi seorang homoseksual (bagi transgender perempuan / male to female / transwoman / waria yang menyukai perempuan dari segi sex biologis atau gendernya, atau bagi transgender laki-laki / female to male / transman / priawan yang menyukai laki-laki dari segi sex biologis atau gendernya), menjadi heteroseksual (menyukai lawan jenisnya dari segi sex biologis atau gendernya), biseksual (menyukai kedua sex biologis atau gender), panseksual, aseksual, dan sebagainya.

Selain itu, makna transgender yang dikaitkan dengan operasi penegasan jenis kelamin juga agaknya kurang tepat. Hal ini dikarenakan, tidak semua individu transgender memandang operasi tersebut sebagai suatu hal yang memang dia butuhkan, dan sebagian yang lain lebih memilih untuk fokus pada ekspresi gendernya semata. Transgender terlahir dengan latar belakang kondisi yang berbeda-beda, sehingga rasanya kurang layak untuk langsung menghakimi tanpa memahami kondisi mereka terlebih dahulu, terlebih melakukan generalisasi bernada negatif.

Hingga saat ini, masih belum ditemukan penyebab pasti apa yang menyebabkan seorang individu dapat terlahir sebagai seorang transgender. Meskipun diyakini bahwa adanya masalah pada struktur otak, keseimbangan hormon, gen, paparan hormon ketika masih berbentuk janin dalam kandungan, maupun pola asuh yang dianggap salah, terlalu prematur rasanya untuk mengaminkan hal tersebut secara universal. Mengapa demikian? Karena tidak menutup kemungkinan terdapat faktor lain yang mungkin masih belum menunggu untuk ditemukan yang berpengaruh dalam pembentukan diri individu transgender tersebut.

Selain itu pula, teori bahwa pola asuh yang salah menyebabkan seorang individu menjadi transgender terpatahkan oleh fakta medis dari bayi kembar dari Amerika Serikat, dimana salah satu dari bayi tersebut mengalami kecelakaan medis pada saat sunat, sehingga penisnya terbakar seluruhnya, dan orang tuanya kala itu memutuskan untuk mengubah anak mereka menjadi seorang anak perempuan – yang pada perkembangannya, si anak sama sekali tidak menghayati peran gendernya sebagai seoarang perempuan sebagaimana ditetapkan orang tua dan tim dokter atas dirinya, walaupun dia diasuh sebagai seorang anak perempuan. Sebaliknya, si anak selalu meyakini bahwa ada yang salah dengan dirinya, dan ketika dia menginjak usia remaja, dalam sesi terapinya dengan psikolognya dia mengatakan ingin menjadi seorang laki-laki.

Baca Juga: Kemendagri Buatkan KTP dan KK Transgender di Tangsel

Lantas, pernahkan terbersit suatu pikiran untuk mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan oleh para individu transgender tersebut?. Transgender adalah individu yang sangat rentan untuk mengalami depresi. Depresi muncul karena adanya ketidaknyamanan atas dirinya. Depresi tersebut dapat diperparah dengan kondisi lingkungan yang kurang dapat menerima ekspresi gender yang ditunjukkan, maupun penghakiman yang dilakukan atas ketidaktahuan, pengetahuan instan yang dipaksakan, maupun tindakan kekerasan – baik lisan maupun perbuatan, dengan dalih agama.

Tidak jarang pula, individu transgender dihadapkan pada persoalan relasi orang tua dan anak, dimana masyarakat awam mengatakan bahwa individu transgender tersebut lebih mementingkan diri mereka sendiri. Pada umumnya individu transgender sudah merasakan ketidaknyamanan pada diri mereka sejak kecil.  Pada beberapa individu transgender, ketidaknyamana tersebut memunculkan konflik tersendiri di dalam dirinya, suatu penyangkalan atas kenyataan bahwa individu tersebut memiliki identitas gender yang berbeda, yang biasa dikenal dengan istilah denial. Namun, walaupun seseorang individu dapat berbohong kepada orang lain mengenai kondisinya, atau berpura-pura bahwa everything’s fine, individu tersebut tidak akan pernah bisa melakukan satu hal yang mustahil untuk dilakukan : berbohong pada dirinya sendiri.

Perasaan tidak nyaman maupun denial tersebut, seiring berjalannya waktu akan memiliki efek gunung es, yang mana ketika pada suatu titik tertentu, individu tersebut tidak dapat lagi menjaga kewarasannya untuk tetap dapat berakting bahwa dia baik-baik saja. Pilihan yang sering akhirnya dipilih oleh kebanyakan individu transgender adalah dengan cara bertransisi secara medis, menjadi jenis kelamin yang sesuai dengan identitas gender mereka.

Untuk beberapa transgender yang memang beruntung, baik dari segi finansial maupun dari segi lingkungan, dapat dengan mudah melalui transisi medis tersebut dan dapat memulai lembaran hidup baru dengan perasaan yang sangat lega. Akan tetapi, untuk sebagian individu transgender yang tidak seberuntung itu, harus menghadapi konsekuensi yang tidak mudah. Ancaman diusir dari rumah, sulit mendapatkan pekerjaan di sektor formal, sampai penghakiman dengan dalil-dalil ayat suci seringkali dijumpai. Gosip tidak sedap dan fitnah turut pula memperpanjang daftar rentetan persoalan-persoalan yang ada.

Mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya, “lo enggak kasihan sama nyokap bokap lo?” atau “lo egois banget sih jadi orang”. Tidak jarang pula orang menggunakan hadits riwayat Bukhari no 5885, 6834 “Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki”. Suatu pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab, karena sebagai individu yang juga memiliki akal dan perasaan, tentunya rasa kasihan terhadap kedua orang tua juga ada. Lho, kok?.

Terlahir sebagai seorang transgender itu ibarat buah simalakama. Kenapa demikian? Dikarenakan pilihan yang harus dia ambil, yang mana apabila pilihan tersebut diberikan kepada orang lain, mereka pun pasti tidak akan ada yang mau mengambilnya. Bagi sebagian individu transgender, efek gunung es dari ketidaknyamanan atas kondisi yang berbeda bermuara menjadi depresi yang selanjutnya mendorong seorang individu transgender untuk mengakhiri hidupnya. Sisi positif dari tindakan bunuh diri tersebut adalah mereka dapat menyelamatkan martabat keluarga mereka ditengah-tengah masyarakat, serta dapat me-lock rapat-rapat rahasia bahwa mereka adalah individu yang berbeda.

Di sisi lain, ketika individu transgender itu bertransisi secara medis, penghakiman dan celaan bahwa mereka egois dan tidak sayang terhadap orang tuanya karena dianggap lebih mementingkan diri mereka sendiri seperti derasnya tetesan air di musim hujan, tanpa masyarakat sadari, bahwa itu menjadi beban tersendiri bagi individu transgender tersebut, bahwa individu transgender tersebut juga sama teriris hatinya ketika melihat raut sedih dari orang tuanya, dan tidak jarang pula ikut meneteskan air mata.

Penghakiman dari segi agama juga tidak jarang dilakukan, dengan semangat yang memburu dan ketergesa-gesaan dalam menggunakan hadits di atas, tanpa menyadari bahwa yang dimaksud di dalam hadits di atas adalah bagi para laki-laki dan perempuan yang memiliki gender yang sesuai dengan sex biologisnya yang menyengaja menyerupai lawan jenisnya.

Sebaliknya, di tahun 2008, seorang Syeikh dari Kuwait, yaitu Syeikh Rashid Sa’ad al Alaymi menyatakan bahwa “sexual reassignment surgery should be allowed in cases where gender identity disorder is diagnosed. His statement claimed ‘It was a mistake to accuse those with GID of imitating a member of the opposite sex because they did not choose this of their own will or because it gives them pleasure, but it is something that comes from God in His infinite wisdom”. Operasi penegasan kelamin seharusnya diperbolehkan dimana (seseorang) didiagnosa dengan Gender Identity Disorder/GID. Dia menyatakan “itu merupakan suatu kesalahan ketika menuduh orang-orang dengan GID bahwa mereka menyerupai lawan jenis karena mereka tidak memlilih untuk mengalami GID, atau karena hal tersebut memberikan mereka kepuasan (seperti ketika mengikuti hawa nafsu), tetapi itu (GID) adalah sesuatu yang berasal dari Tuhan dengan ke-Maha Bijaksanaan-Nya.

Sebagai penutup, terlepas dari berbagai kontroversi yang ada, perlu dipahami bahwa setiap orang memiliki persoalannya masing-masing. Kita sebagai sesama insan manusia, alangkah baiknya apabila dapat bersikap dan berbuat baik kepada siapapun, termasuk kepada para individu yang memang terlahir sebagai transgender atau individu yang berbeda, dan mengambil hikmah serta bersyukur karena diciptakan Allah tanpa mengalami kondisi yang demikian. Apabila kita tidak bisa mengatakan hal-hal yang baik kepada mereka, alangkah lebih utama kalau kita memilih diam daripada mengucapkan sumpah serapah maupun menyebarkan kabar miring yang tidak jelas asal-usulnya, karena setiap kata-kata yang keluar dari mulut seorang manusia ada perhitungannya dan balasannya di hadapan Tuhan YME kelak.

 

Oleh: Ashalina Zaina

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *