by

Tradisi Ngejot, Tradisi Perekat Persaudaraan Warisan Hindu-Islam

Kabar Damai | Selasa, 14 September 2021

Denpasar | kabardamai.id | Pulau Dewata tak hanya dikenal dengan alamnya yang indah, tapi juga dengan kekayaan ragam budaya dan tradisi. Salah satunya adalah  Tradisi Ngejot yang berarti memberi.

“Tradisi Ngejot ini biasa dilakukan masyarakat Bali. Memberi makanan kepada sesama. Ini menjadi bagian dari bentuk pertemanan, persaudaraan bagi sesama,” kata Rektor Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus (UHN IGB) Sugriwa, I Gusti Ngurah Sudiana saat ditemui di kantornya, Senin, 13 September 2021.

Dilansir dari laman Kementerian Agama, di kalangan kaum muslim, lanjut I Gusti Ngurah Sudiana, tradisi Ngejot disebut jalinan silaturahim kepada sesama. Pertemuan Hindu-Islam ini terwujud dalam bentuk mengantarkan makanan kepada sanak saudara maupun tetangga yang berbeda agama, terutama saat hari besar keagamaan, seperti Galungan atau Idul Fitri.

“Tradisi ini sudah tumbuh dan berkembang dalam keberagamaan masyarakat Bali. Saling memberi makanan, kue-kue, buah-buahan antar tetangga terdekat di setiap desa atau lingkungan. Selain bentuk persaudaraan, ini juga bentuk kerukunan, yang sudah terbangun sejak lama sampai sekarang,” terang I Gusti Ngurah Sudiana.

“Saling tolong, saling bantu, baik senang maupun susah, harus tetap dilakukan. Terlebih saat ini, dimana bangsa sedang dilanda Covid-19,” sambungnya.

Cucu tokoh Bali IGB Sugriwa yang bernama IGB Agung Suddhajinedra HS menambahkan, Tradisi Ngejot merupakan persembahan rasa terima kasih. Pada upacara Yadnya, misalnya, keluarga wajib untuk memberikan Pengwales (membalas) kebaikan kepada anggota keluarga atau Banjar yang sudah membantu/memberi kebaikan (Ngejot).

“Ngejot juga bisa diartikan sebagai ikatan persaudaraan. Dalam upacara Galungan misalnya, masyarakat saling memberi makanan. Ini sebagai bentuk rasa kekeluargaan, supaya upacara tersebut dirasakan oleh tetangga atau masyarakat sekitar,” jelas IGB Agung Suddhajinedra HS.

Selain Ngejot, masyarakat Bali juga mengenal “Menyama Braya”. Menurut Ketua Umum Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Wisnu Bawa Tenaya, Menyama Braya merupakan kekayaan yang utama dalam hidup, jalan untuk menggapai kebahagiaan dan keharmonisan hidup (dharma santhi).

 

Menghargai Perbedaan

Menyama Braya mengandung makna persamaan, persaudaraan, serta pengakuan sosial bahwa setiap orang bersaudara atau keluarga. Istilah ini juga mengandung pengertian, menghargai perbedaan dan menempatkan orang lain sebagai keluarga.

“Menyama Braya dalam dinamika dan interaksi masyarakat Bali, berguna untuk terciptanya integrasi sosial di tengah pluralitas agama, etnis, dan budaya. Di sinilah tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang universal, asah, asih, dan asuh kepada sesama, dan bahkan alamnya,” tutur Wisnu Bawa Tenaya.

Wisnu menjelaskan, filosofi dasar yang menjiwai kehidupan sosial masyarakat Bali tertuang dalam Tri Hita Karana. Yaitu, ajaran tentang tiga penyebab kesejahteraan yang bersumber pada keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan sesamanya, serta manusia dengan Tuhan.

Baca Juga: Mewujudkan Toleransi Hindu dan Kristen dengan Tradisi Ngejot

“Konsep ini menciptakan kerukunan dan keharmonisan antar umat beragama. Dengan terciptanya masyarakat yang rukun dan harmoni, maka secara langsung akan terjadi persaudaraan sosial. Dalam tradisi masyarakat Bali, ini terjadi karena adanya kedekatan hubungan persaudaraan yang tertuang dalam konsep Menyama Braya,” pungkasnya.

Saling Bantu Muslim-Hindu

Sebelumnya, potret saling bantu ditunjukkan warga muslim (Islam) dan Hindu saat perayaan Tahun Baru Caka 1943 atau Perayaan Nyepi 2021 di Buleleng.

Tanpa sekat, kedua krama atau warga beda keyakinan di “Gumi Panji Sakti” inipun hidup berdampingan dan harmonis. Mereka saling menghormati satu sama lain dan menjaga tradisi serta budaya yang diwariskan para pendahulu mereka atau leluhur.

Di saat warga Hindu menggelar persembahyangan, tidak jauh dari lokasi persembahyangan, terlihat beberapa pemuda berpakaian loreng berbaur dengan pecalang (pengaman desa adat).

Melansir JawaPos.com (16/3), para pemuda berbaju loreng, itu bukanlah anggota TNI.  Namun, mereka adalah para anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser).

Mereka berbaur akrab meski beda agama atau keyakinan. Bahkan ditengah suasana hujan deras, dengan seragam dan pakaian basah kuyup, mereka tak beranjak dan tetap menjaga warga Hindu yang sedang melaksanakan persembahyangan hingga selesai.

Ketua Pengurus Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Buleleng, Abdul Karim Abraham saat dikonfirmasi, Selasa (16/3) mengatakan, bahwa kegiatan pengamanan yang dilakukan anggota banser dan pecalang saat perayaan hari besar termasuk salah satunya Nyepi sudah sering dilakukan di Buleleng.

“Setiap Hari Raya Nyepi, kami di Buleleng itu sudah terbiasa membantu pecalang untuk pengamanan. Baik sebelum Nyepi dalam satu rangkaian maupun pada saat hari-H Nyepi. Dan begitu juga sebaliknya,” kata Abraham kepada radarbali.com, Selasa (15/3).

Bahkan, kata Abdul Karim, saat Hari Raya Nyepi 2021 ini, ada sekitar 170 anggota Ansor dan Banser di Buleleng yang dilibatkan untuk pengamanan Nyepi di 5 (lima) Kecamatan di Buleleng.

“Pada saat Nyepi, kita menurunkan anggota (Ansor dan Banser) di 17 titik yang ada di 5 (lima) kecamatan. Satu titik ada sekitar 5 sampai 10 orang anggota. Jadi, kita membantu mengontrol keamanan dan pengamanan,” imbuhnya.

Bahkan kata Abdul Karim, kekompakan anggota banser dan pecalang bukan terjadi saat perayaan Nyepi semata.

Melainkan, saat hari besar keagamaan umat beragama lainnya, seperti Hari Raya Natal, Idul Fitri, dan hari besar agama lain, mereka juga selalu bersama menjaga keamanan.

Menurut Abdul Karim, pengamanan bersama antara banser dan pecalang ini awalnya dibentuk untuk menjaga wilayah masing-masing.

Tujuan kedua dan terpenting, pengamanan bersama ini digelar untuk menyampaikan pesan keharmonisan antar umat beragama di Bali khususnya di Buleleng.

“Yang ingin kita sampaikan sebenarnya lebih pada pesan mewujudkan keharmonisannya. Jadi kita melakukan itu untuk saling membantu antar kemanusiaan dan tidak melihat latarbelakang atau perbedaan agama/keyakinan. Dan ini sudah terpupuk sejak lama dan bahkan dari para orang tua terdahulu sudah dilakukan,” terangnya.

Dari kegiatan itu, Abdul Karim ingin menyampaikan pesan, selain pentingnya keharmonisan antar umat beragama, hubungan antara Banser dan Pecalang ini juga sebagai bentuk untuk menjaga warisan budaya leluhur  dan toleransi yang sudah ada dari sejak dulu. [kemenag/jawapos/radarbali]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed