Tradisi Imlek dalam Pandangan Iman Kristen

Opini1149 Views

Oleh: Pdm.Ferry Mahulette, S.Th

Imlek atau Sincia merupakan perayaan Tahun baru bagi masyarakat Tionghoa. Menurut National Geographic Indonesia kata imlek sendiri berarti Im=bulan, Lek = penanggalan yang berasal dari dialek Hokkian. Dalam bahasa Mandarinnya Yin Li yang berarti kalender bulan (Lunar New Year). Pada tahun ini dirayakan pada hari Selasa, 1 Febuari 2022 dengan tahun shio Harimau Air.

Tahun Baru Imlek dirayakan pada tanggal 30 bulan ke 12, yaitu pada saat malam tahun baru imlek yang dikenal sebagai Chuxi yang berarti ‘Malam pergantian tahun’. Kemudian dari hari pertama bulan pertama di penanggalan tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh pada tanggal 15.

Menurut legenda yang ada, dahulu kala Nian merupakan seekor raksasa pemakan manusia dari pegunungan, yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan panen, ternak, dan bahkan penduduk desa. Untuk melindungi diri para penduduk menaruh makanan di depan rumah supaya Nian memakannya lalu pergi.

Pada suatu waktu, penduduk melihat Nian ketakukan ketika melihat seorang anak kecil yang berpakaian berwarna merah. Sehingga sejak saat itu Nian tidak pernah kembali ke desa dan setiap tahun baru penduduk menggantungkan lentera dan gulungan kertas merah serta menyalakan kembang api untuk menakuti Nian.

Tradisi tersebut kemudia turun-temurun dilakukan dengan mengadakan perayaan dengan mengenakan ornamen berwarna khas merah, disertai pertunjukan Barongsai dan Liong. Tak lupa terdapat acara sembahyang pada malam tahun baru, berkunjung, makan bersama dan membagikan Angpao. Perayaan Imlek sendiri tidak hanya dinikmati oleh masyarakat Tionghoa melainkan menjadi perayaan bagi masyarakat luas.

Banyaknya tradisi di Tahun baru Imlek tida bisa lepas dari  Kebijakan Presiden Abudarahman Wahid yang menjujungi tinggi Pluralisme di Indonesia. Terdapat juga tradisi Sembahyang yaitu Sembahyang Chuxi pada malam Tahun baru, yaitu kepada Thien dan kepada leluhur serta ada juga sembahyang King Thi Kong,  pada tanggal 8 malam tanggal 9 bulan 1 imlek, tepat jam 12 tengah malam dan ditutup dengan Sembahyang Cap Go Meh.

Tradisi sembahyang ini sudah turun temurun dilalukan hingga sekarang. Dalam tradisi terdapat meja yang digunakan sebagai meja Altar untuk sembahyang kepada Tuhan dan meja Abu yang diperuntukan untuk leluhur, meja altar akan lebih tinggi dibanding meja abu.

Baca Juga: Tionghoa di Bumi Pertiwi

Diatas meja abu sendiri terdapat papan nama dalam huruf cina dan foto dari leluhur mereka. Terdapat juga hidangan yang dipersembahkan saat sembahyang yang menu utamanya ialah daging babi, ayam dan ikan serta hidangan persembahan kepada leluhur yang merupakan kesukaan mereka.

Secara sekilas dapat dilihat mengenai tradisi Imlek yang merupakan bentuk ucapan syukur pada Tuhan dan penghormatan kepada leluhur mereka. Hal inilah yang menjadi dilematis bagi orang Tionghoa Kristen yang mana tradisi tersebut bertentangan dengan Iman Kristen. Seorang Tionghoa Kristen sendiri merupakan seorang etnis Tionghoa yang berkeyakinan terhadap Iman Kristen sehingga kedua hal ini tidak dapat dipisahkan begitu saja. Lalu bagaimana Iman Kristen melihat Tradisi Imlek etnis Tionghoa ?

Dalam hal ini penulis mengajak pembaca melihat dalam sebuah 2 realitas sebagai seorang Tionghoa Kristen yaitu dalam realitas budaya serta realitas Spiritualitas.

Dalam realitas budaya, etnis tionghoa tidak bisa dipisahkan dengan identitas mereka sebagai seorang “Tionghoa”. Tindakan diskriminasi dan represif pemerintah orde baru tidaklah menghilangkan identitas serta semangat kekeluargaan mereka sebagai etnis Tionghoa.

Tradisi tionghoa sendiri merupakan sebuah warisan kebudayaan yang sarat akan nilai-nilai luhur, seperti kesenian Barongsai, Liong dan wayang potehi ada juga batik khas Lasem yang merupakan akulturasi antara Tionghoa dan Jawa. Selain itu terdapat juga tradisi berkunjung diantara keluarga Tionghoa, tradisi ini sendiri memiliki pemaknaan yaitu mempererat tali persaudaraan dalam keluarga besar.

Yang muda mengunjungi saudara yang tua, kemudian para orang tua memberikan petuah dan nasehat kepada yang muda serta pemberian angpao bagi anak-anak sebagai wujud berbagi rejeki.

Tetapi terdapat juga realitas Spritual, sebagai seorang Tionghoa Kristen yang telah menyerahkan dirinya sebagai Pengikut Kristus maka harus beriman penuh kepada Yesus Kristus. Dalam iman kepada Tuhan maka tidak boleh ada praktik tradisi diluar kebenaran Alkitab, dalam hal ini mengacu kepada berdoa kepada leluhur serta memberikan persembahannya.

Dalam alkitab sendiri dijelaskan yaitu ketika Tuhan meberikan 10 Hukum Taurat kepada Musa, Hukum yang pertama dijelaskan bahwa “Tidak boleh ada Tuhan lain selain Tuhan Israel yang membebaskan mereka dari Mesir”. Dalam perjanjian baru Yesus pun mengatakan bahwa “Kasihilah Tuhan Allahmu  dengan segenap hatimu, jiwamu dan segenap akal budimu”. Tentunya hal ini menjadi sebuah irisan yang tidak bertemu ketika kita melihat realitas Budaya dan Spiritual yang ada bagi seorang Tionghoa Kristen.

Penulis sendiri akan mencoba menggunakan pendekatan Etika Kristen dalam hal ini berkaitan dengan tradisi penghormatan kepada leluhur. Dalam hal ini yaitu Etika Deontologis yang mana menyatakan benar atau salah. Menggunakan pendekatan etika Kristen Deontologis Norman Geisler yang menyatakan benar atau tidaknya sebuah perbuatan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Tradisi Sembahyang kepada Tien dan penghormatan kepada leluhur tindakan yang harus dihindari oleh Orang Tionghoa Kristen. Namun bukan berarti tidak boleh melakukan penghormatan, melainkan dikemasnya dengan hal baru tanpa mengurangi pemaknaan hormat terhadap leluhur.

Seperti yang katakan Paulus kepada jemaat di Efesus  “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu—ini adalah perintah yang penting , yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi” (Efesus 6 : 1-2).

Paulus sedang menasehati jemaat di Efesus memberikan sebuah penekanan bahwa taat dan hormat kepada orang tua ialah keharusan didalam Tuhan. Tentunya ini berbicara dalam konteks keluarga Kristen, serta orang tua disini bisa diartikan sebagai orang yang telah Dewasa rohani didalam Tuhan. Maka menjadi sebuah keharusan bagi anak berbakti pada orang tua mereka semasa mereka hidup.

Ungkapan hormat kepada orang tua ialah pada saat mereka hidup, artinya dalam kehidupan di bumi seorang anak haruslah berbakti dan merawat orang tua dengan cinta kasih. Inilah yang harus direfleksikan dalam Iman Kristen bagi seorang Tionghoa, yang mana penghormatan kepada leluhur bukan hanya ketika mereka sudah tiada melainkan ketika mereka masih ada.

Hal inilah yang harus menjadi perhatian bagi seorang Tionghoa Kristen bahwa mengasihi Orang Tua selagi ia Hidup merupakan bagian dari perintah Tuhan yang ke 5 dalam Hukum Taurat “Hormatilah Ayah dan Ibumu supaya lanjut umurmu di Tanah yang dijanjikan Tuhan padamu”. Kasih Tuhan sendiri harus diwujud nyatakan dalam kasih kita dalam merawat kedua orang tua kita.

Sehingga pada dasarnya Iman Kristen tidak begitu mempersoalkan mengenai tradisi Imlek bagi orang Tionghoa yang ada. Sejatinya seorang Kristen haruslah menjadi berkat atau memberi sebuah dampak positif dimanapun mereka berada. Termasuk dalam sebuah komunitas etnis Tionghoa, ketika kita membaur dapat memberikan terang Kristus dalam tindakan kasihnya bagi sesama terutama kepada orang tua/leluhur.

 

Pdm.Ferry Mahulette, S.Th, Generasi Muda FKUB Banyumas, Peserta Sekolah Kepemimpinan Pemuda Lintas Agama, memiliki minat dalam membangun kerukunan beragama serta melestarikan budaya dan kearifan lokal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *