by

Toleransi dan Mencegah Konflik dengan Memahami Agama-Agama

Oleh : Fuja Nur Muhammad

Betapa urgensinya memahami agama lain dengan dalih lita’aarrofu untuk saling mengenal dan membangun jiwa toleransi. Dari latar belakang timbulnya sebuah konflik adalah setiap individu tidak memahami konsep literature lita’arrofu (saling mengenal) yang sudah di bangun oleh Allah swt sejak dahulu kala.

Tetapi di balik itu juga ada yang mengetahui konsep lita’arrofu tetapi tidak bisa memahami tafsiran dari alqur’an tersebut karena memahaminya dengan dasar logika saja, sehingga banyak konflik-konflik perang antar suku, perang antara agama, bahkan ada juga perang antar saudaranya meskipun sealiran darah islam.

Indonesia ini adalah multikultural karena terdiri dari berbagai suku bangsa, ras, agama, etnis dan budaya. Jadi di indonesia ini kaya raya dengan sebuah ragam, tetapi dengan kekayaan tersebut tentunya banyak ragam perbedaan satu sama lain, setiap agama dari setiap aliran-aliran itu mempunyai ciri khas masing-masing sehingga penganut dalam agama tersebut menjadikan rasa aman itu muncul dalam dirinya. Terkadang di tengah-tengah kenyaman tersebut pasti ada konflik, dan konflik itu hanya sepele Cuma permasalahan berbeda keyakinan.

Dalam konteks mengetahui agama satu saja sejatinya tidak tau apa-apa, setiap individu aslinya di haruskan memahami agama yang lainnya, di indonesia ini ada 6 agama yang telah di percayai antara lain islam, Kristen, khatolik, Buddha, hindhu dan konghucu menjadikan indonesia salah satu Negara yang memiliki berbagai macam agama. dari beberapa konflik yang saya telurusi, bahwa individu masih mempunyai sifat eksklusivisme yaitu menganggap bahwa agama sendirinya yang paling benar, selain agama dia salah.

Maka dengan pemahaman seperti itu akan terus membawa konflik yang tidak usai-usai selesai. Konflik poso, konflik di ntt (flores), konflik sunni dan syiah dan lain-lain. Penyebabnya tidak memahami bahwa semua ajaran agama setiap agama mengajarkan tentang kebaikan, mengajarkan saling silaturahmi, tidak ada setiap agama mempunyai ajaran untuk saling membunuh satu sama lain.

Baca Juga: Menebar Toleransi, Berdamai dengan Diri Sendiri

Inilah dasar penting untuk kita setiap individu memahami setiap ajaran agama lain. Dari sini juga betapa pentingnya sikap inklusivisem yaitu menganggap dirinya itu salah dan menganggap orang lain itu benar,  sifat inklusivisme ini penting untuk di terapkan setiap individu untuk menjauhkan rasa dengki, benci terhadap agama, etnis, ras dan budaya.

Konsep toleransi di snilah yang sangat penting untuk di jalankan bagi setiap individu dalam mencegah terjadinya atas konflik antar agama, suku, ras, etnis, dan budaya. Toleransi adalah sikap manusia untuk saling menghargai dang menghormati perbedaan, baik antar individu maupun kelompok, untuk menghadirkan perdamaian dalam keberagamaan.

Membangun toleransi umat beragama di indonesia banyak tantangan yang harus di lewati, bukan dengan cara kekerasan contoh: kalau kamu tidak mengikuti agama saya kamu akan saya bunuh sekarang, sikap toleransi ini tidak di betulkan sama sekali. Tokoh toleransi di dunia adalah sang pencerah alam nabi Muhammad SAW, beliau ini memaaflan dan bahkan mendoakan kaum yang telah berbuat jahat kepada beliau ketika berdakwah. Setalah wafatnya paman beliau, Abu thalib, Nabi Muhammad SAW berkunung ke kampung Thaif, beliau menemui tiga orang thaif dari pemuka suku kamu tsaqif.

Nabi mengajak mereka untuk melindungi para sahabatnya agara tidak di ganggu oleh suku Quraisy. Namun kenyataannya pedih yang di alami beliau. Nabi di usir dan dilempari batu oleh kaum Tsaqif. Akibatnya, darah pun mengalir dari tubuh beliau.

Indonesia, mempunyai landasan bhineka tunggal ika, yang artinya berbeda-beda tetap satu jua. Dalam al-qur’an juga pun di sebutkan dalam Q,S Al-hujurat ayat 13 artinya: Hai manusia, sesungguhnya kami (Allah SWT) menciptkan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-bersuku supaya kamu saling kenal-mengenal.

Di sini sudah sangatlah di jelaskan oleh allah swt, kita di ciptakan banyak suku-suku, agama, ras, etnis dan budaya untuk saling mengenal, saling menghormati, saling mengenal. Contoh kecil-kecil an, orang berpacaran. Antara laki dan perempuannya ini pertama kali untuk saling mengenal baik dari sifatnya, dari wataknya, dari kelurganya ketika sudah saling mengenal hubungan kedunya akan berjalan mulus tidak akan terjadi sebuh masalah, tetapi kalau tidak memahami atau tidak saling mengenal terlebih dahulu di tengah-tengah akan terjadi permasalahan yang sangat besar, sehingga menimbulkan putus. Marilah kita untuk salaing mengenal, memahami satu sama lain untuk mewujudkan rasa TOLERANSI.

 

Fuja Nur Muhammad, Mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Sunan Ampel Surabaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed