by

Toleransi Beragama di Masa Majapahit

Kabar Damai I Senin, 12 Juli 2021

Jakarta I kabardamai.id I Saling menghargai dan menghormati sesama warga merupakan ajaran yang sudah diberikan oleh nenek moyang kita sejak Indonesia belum bernama ‘Indonesia’. Hal itu bisa kita ketahui dari kerajaan besar yang pernah berdiri dan berkembang pesat di wilayah Nusantara seperti Majapahit pada sekitar abad ke-13 M.

Menurut Prasasti Waringinpitu Yang dikeluarkan Oleh Raja Kertawijaya pada 1369 Saka (1447). Menyebut nama-nama di Pejabat Birokrasi Kerajaan di Tingkat Pusat.

Diundang  Dharmmadhyaksa cincin kasaiwan  ( pejabat tinggi yang mengurusi Agama Siwa ) dan  Dharmmadhyaksa cincin kasogatan ( pejabat tinggi yang mengurusi Agama Buddha ) . Dikutip dari historia.id, menurut arkeolog dan epigraf Hasan Djafar , dapat diketahui di Kerajaan Majapahit lebih dari dua agama resmi, yaitu Agama Siwa dan Agama Buddha.

Pada perkembangannya, yaitu kompilasi Majapahit akhir, peran agama Buddha seakan “menghilang”. Sementara bangunan sucinya sangat bercorak Siwa. Ini menunjukkan hubungan yang erat antara kedua agama itu. Oleh beberapa sarjana, hubungan ini disebut dengan berbagai istilah. H. Kernabungkan percampuran. NJ Krom, WH Rassers, dan PJ Zoetmulder setuju perpaduan. Sedangkan Th. G. Th. Pigeaudundang kesejajaran.

Baca Juga: Merasakan Atmosfer Majapahit di Kampung Thintir

“Hubungan ini benar-benar telah berlangsung dari masa sebelumnya sehingga-agama agama Buddha telah terlebur menyatu dalam agama Siwa,” jelas Hasan dalam “Beberapa Catatan Mengenai Agama Pada Masa Majapahit Akhir” termuat di pertemuan Ilmuan Arkeologi IV .

Suasana itu tergambar pula hearts Sumber kesusasteraan Dari masa Hayam Wuruk. Menurut Mpu Tantular dalam Kakawin Sutasoma dan Kakawin Arjunawiwaha, pada dasarnya antara kedua agama itu tidak berbeda.

Pengakuan adanya Kepercayaan itu Nampak lewat berita hearts prasasti Yang pernah dikeluarkan pada Gajah Mada 1351. Di dalamnya tercatat soal Pembangunan caitya Bagi Kertanegara Dan para brahmana tertinggi Siwa Dan Buddha.

Menurut arkeolog Universitas Indonesia , Agus Aris Munandar hearts Gajah Mada Biografi Politik , Bangunan caitya Yang Dibuat Gajah Mada Sangat mungkin Adalah Candi Singhasari Sekarang. Prasasti itu ditemukan di halaman candi.

Bentuk candi ini unik. Ia bersifat Hindu dan Buddha sekaligus. “Itu mungkin karena candi yang dibuat untuk menghormati Kertanegara yang memuja Siwa dan Buddha,” kata Agus.

Islam di Majapahit

Kendati bukan agama resmi negara, jejak Islam juga sudah kuat di Majapahit. Bukti kehadiran Islam dapat dihadiri melalui pemakaman Islam kuno di Desa Trolaya, Trawulan, Mojokerto. Tak jauh dari situ diubah merupakan kompleks Kedaton Majapahit.

Dari nisannya, makam-makam ini berasal dari 1203 dan 1533 Saka (1281 dan 1611). Artinya, pada masa jayanya, di bawah pemerintahan Hayam Wuruk, banyak penduduk Majapahit yang memeluk Islam.

“Melihat letak pemakaman ini, tidak jauh dari kedaton, dapat disangkal ini adalah permakaman untuk penduduk kota Majapahit dan keluarga raja yang telah beragama Islam,” tulis Hasan.

 

Dari Keterangan Ma Huan, seorang muslim dan penerjemah resmi Laksamana Cheng Ho, dalam Ying-yai Sheng-lan meminta jika di Majapahit termasuk tiga golongan penduduk. Salah satunya penduduk muslim. Mereka adalah saudagar yang datang dari berbagai kerajaan di barat.

Gramadewata

Semua kepercayaan itu lalu berkembang bersama agama rakyat yang masih tetap ada. Arkeolog Agus Aris Munandar di Wilwatikta Prana menyebut beberapa daerah pedalaman Jawa Timur dijumpai arca-arca yang bukan berciri Hindu maupun Buddha. Arca-arca yang ditemukan di reruntuhan bangunan kuno yang bukan bekas bangunan candi dari kedua agama itu.

“Arca-arca yang kemudian dapat dianggap sebagai arca dewa lokal yang hanya bisa dipuja di kampung saja atau disebut  gramadewata.

Sayangnya, kajian terhadap arca-arca belum dilakukan secara tuntas. Apalagi soal kepercayaan yang menyertainya.

Kedati begitu, kata Agus, arca-arca bisa jadi mencerminkan nenek moyang kampung-kampung tertentu yang harus mangkat dan dianggap dewa. Praktik memuja nenek moyang telah ada sebelum Hindu-Buddha masuk ke Nusantara. Memenangkan, masyarakat prasejarah memuja arwah pemimpin kampung atau kelompok yang dipilih pendukungnya.

Ketika masuk Hindu – Buddha masuk, nenek moyang itu lalu digambarkan dengan atribut dewa-dewi India. Jika tidak, kata Agus, dalam masyarakat Majapahit masih ada populasi yang tetap mempertahankan kepercayaan asli yang mungkin berawal dari masa prasejarah.

Sila ketiga menyebutkan bahwa negara kita menjadikan asas persatuan sebagai landasan bangsa, hal itu sudah diajarkan jauh sebelum Indonesia menjadi seperti sekarang. Persatuan itu tidak hanya kelompok-kelompok tertentu saja, entah kelompok suku maupun agama, tetapi persatuan yang dibingkai melalui keragaman budaya serta agama yang menjunjung tinggi toleransi.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed