by

Tokoh Muda Bahai: Anak Muda Menciptakan Ruang Dialog dan Kolaborasi Perdamaian

Kabar Damai I Senin, 26 Juli 2021

Jakarta I kabardamai.id I Perdamaian menjadi kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat. Karena ketika kita berada diantara masyarakat yang sedang konflik maka kebutuhan lainnya juga tidak akan terpenuhi sepeti kebutuhan sandang, pangan dan papan. Perdamaian sendiri, akan terbangun atas dasar interaksi yang menumbuhkan empati.

Menjadi narasumber dalam acara HUT 21 Tahun Indonesian Conference o Religion and Peace (ICRP), Riaz Muzaffar, Tokoh Muda Agama Bahai, dia  memaparkan peluang untuk mencegah potensi konflik yang kemungkinan terjadi di Indonesia.

“Potensi konflik di Indonesia berdasarkan hasil riset SETARA Institute itu pasti ada, namun bukan berarti kita tak punya ruang untuk mencegah konflik itu terjadi,” Papar Riaz, via zoom meeting, Rabu (21/07/2021).

Baca Juga: Mengenal Agama Baha’i Sahabat Bagi Para Penganut Semua Agama (Bagian I)

Faktor yang menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia di seluruh dunia, adalah prasangka. Dengan hadirnya keberadaan benih-benih prasangka dalam hati manusia, sepanjang benih tersebut ada, cepat atau lambat benih ini akan menghasilkan buah yang beracun yaitu intoleransi, diskriminasi dan penganiayaan.

Menurut Riaz, cara pasti menghapuskan prasangka adalah melalui penddikan, karena pendidikan menghilangkan ketidaktahuan, ketidaktahuan yang membuta adalah akar dari semua prasangka.

“Terkait Pendidikan yang menghilangkan ketidaktahuan salah satu elemennya adalah dialog atau ruang pertemuan, yang menjadi elemen penting menghilangkan ketidaktahuan yang terus berkemabng di masyarakat,” terang Riaz.

Riaz berbagi pengalamannya yang pernah membaca buku berjudul secercah harapan, tentang seorang pemuda yang sedang berjuang menemukan harapan di tengah konflik Afrika. Pemuda itu berasal dari daerah dimana dua sukunya sedang berada dalam situasi konflik, pemuda itu berasal dari suku Adumba. Pemuda itu juga menyaksikan kedua orangtuanya meninggal dibunuh akibat situasi konflik.

Pemuda itu merasa, cara terbaik membalas dendam  adalah dengan masuk dan bergabung dengan suku lawan, namun seiring berjalannya waktu dan setelah berdialog dengan suku lawan, pemuda itu tahu bahwa tidak semua suku lawan itu jahat.

“Dari buku ini kita tahu bahwa dengan adanya ruang perjumpaan, kita bisa melihat perspektif yang lebih luas dan mendalam dari sebuah permasalahan,” ujar Riaz, megarisbawahi betapa pentingnya ruang jumpa dan dialog untuk mengikis prasangka.

Kenapa dialog itu penting?

Karena dapat membantu mengenal keindahan dalam keberagaman, mengklarifikasi berbagai informasi sehingga akhirnya dapat mengikis prasangka, menemukan titik temu keberagaman, yang akhirnya mendorong terjadinya kolaborasi bersama.

“Ketika kita sebagai masyarakat yang beragam menemukan titik persamaan, maka titik ini akan membantu mempersatukan dan mendorong kita bersatu mewujudkan visi untuk kolaborasi bersama,” bebernya.

Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) sendiri beberapa kali membuka ruang untuk anak muda dari lintas keyakinan berjumpa dan berdialog. Seperti festival kebhinekaan, yang membuat anak muda bisa saling menginspirasi satu sama lain. Kemudian Ruang Temu Kebangsaan, dan ruang-ruang doa lintas iman.

Dimana ruang-ruang dialog bisa diciptakan?

Ruang dialog dapat diciptakan dengan hal-hal kecil yang sederhana di ruang lingkup masing-masing. Kemudian bergerak untuk perdamaian dalam bidang atau minatnya masing-masing.

“Jika anak muda memiliki minat menulis, maka minat tersebut juga bisa dijadikan ruang untuk menyebarkan nilai-nilai damai. Begitu pula yang tertarik dengan videografi. Saat ini media bisa menjadi alat unuk menciptakan perdamaian.”

Ruang kolaborasi bersama

Ruang kolaborasi bersama sangat diperlukan untuk membangun perdamaian, karena dapat menghindari perasaan insecure, dan menumbuhkan rasa berdaya dan percaya diri. Kolaborasi didasari proses belajar, belajar unuk bisa bermusyawarah dengan dialog, kemudian melakukan tindakan dan refleksi.

“Karena kita semua mampu untuk menjadi bangsa yang berdaya jika saling mendukung dan mendampingi satu sama lain.” Pungkasnya.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed