by

Tim PKM UPI: 44 dari 100 Siswa SMA Bandung Terindikasi Paham Radikal

Kabar Damai I Minggu, 29 Agustus 2021

Bandung I kabardamai.id I Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menemukan fakta bahwa 44 dari 100 siswa tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Bandung telah terindikasi paham radikalisme. Hal itu ditemukan dalam penelitian yang dilakukan pada Juli-Agustus 2021.

Secara umum, seperti dilansir detik.com (26/8) dari hasil penelitian yang dilakukan dengan metode mixed methods ditemukan, bahwa sebaran sebesar 35 persen diduga terindikasi tipe radikal secara agama, yang terbagi atas 16 persen berkarakteristik radikal ISIS dan Al-Qaeda; 15 persen berkarakteristik dengan gerakan keagamaan garis keras secara fisik; 4 persen berkarakteristik radikal secara ideologi dan sebesar 2 persen diduga terindikasi paham radikal kriminal bersenjata.

Dalam penelitian tersebut, ditemukan juga bahwa propaganda di media sosial merupakan salah satu sumber terbesar penyebar paham radikal di kalangan siswa di Kota Bandung.

Ketua Tim PKM Riset UPI Muhammad Nur Imanulyaqin mengatakan penelitian ini dilatarbelakangi oleh berbagai riset yang menyatakan siswa SMA kerap menjadi sasaran dari penyebaran paham radikal, bahkan paparannya hingga masuk ke ruang kelas.

“Maka dari itu perlu dilakukan deteksi secara masif untuk mengetahui apakah siswa SMA di Kota Bandung juga banyak yang terpapar atau tidak. Selain itu, menurutnya penanganan  radikalisme yang efektif adalah penanganan yang mampu membedakan antara yang sudah terpapar dan yang tidak,” ujar Iman dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Rabu, 25 Agustus 2021.

Iman menuturkan penanganan bagi siswa yang terpapar pun harus disesuaikan dengan motif dan proses radikalisasinya. Pasalnya setiap individu memiliki proses radikalisasi yang berbeda-beda.

“Oleh karena itu diperlukan deteksi untuk mengkategorikan siswa-siswa tersebut.” ujar Iman yang juga mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi 2017 UPI itu.

Baca Juga: Ketua Umum MUI: Islam Moderat Benteng Dari Serangan Radikalisme

Dosen pembimbing tim PKM Riset UPI Asep Dahliyana mengatakan, penelitian ini sangat penting mengingat kasus radikalisme di Indonesia selalu mengalami gejolak setiap tahunnya.

“Selain itu, kasus teror pun selalu terjadi tiada henti. Jika radikalisme ini tidak segera ditangani dengan baik maka sangat berbahaya bagi keutuhan NKRI,” ujar Asep.

Asep menambahkan,  setiap karakteristik radik yang ditemukan memiliki ciri-ciri tersendiri. Sehingga penanganan atau deradikalisasi perlu dilakukan dengan cara yang berbeda. Artinya tidak bisa dipukul rata dengan satu penanganan deradikalisasi.

Selain Iman dan Asep Dahliyana, tim penelitian ini juga melibatkan dua mahasiwa lainnya, yakni Asep Soleh yang merupakan Mahasiswa dari Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam 2018 dan Dwi Gita Cahyanurani yang merupakan Mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan 2018 sebagai anggota dua.

“Sebab jika penangananya tidak tepat bukan tidak mungkin paham radikal akan semakin menyebar luas,” tandasnya.

Anak Muda Rentan Terpapar Radikalisme

Sebelumnya, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Krisnadwipayana (Unkris) dalam helatan  Focus Group Discussion (FGD) secara virtual dengan tema “Membentengi Milenial dari Paham Radikalisme dan Terorisme “, 27 Mei 2021  lalumengungkap bahwa anak muda Indonesia rentan terpapar radikalisme dan terorisme.

Melansir laman unkris.ac.id, Gubernur BEM FIA, Muhammad Risky Nugraha, menyebut, setelah mencermati  perkembangan saat ini dimana tren pelaku teroris ternyata didominasi oleh kalangan anak muda.

Dekan FIA, Wayan Sugiana menjelaskan, tujuan FGD ini adalah  untuk memberikan pengetahuan kepada pelajar dan mahasiswa dalam rangka pencegahan terhadap masuknya paham radikalisme dan terorisme dikalangan siswa sekolah menengah dan mahasiswa, harus ada kesadaran dari kita yang muda untuk menangkal paham Radikalisme tersebut.

“Harus ada kesadaran kita untuk menangkal paham radikalisme,” katanya.

Acara dihadiri oleh Rektor Dr. Ayub Muktiono S.iP CIQaR, Dekan FIA (plt) drs I Wayan Sugiana MM, Ketua LPKK Dr. Susetya Herawati ST, M.Si, aktivis Mahasiswa Unkris, aktivis SMAN 5 Bekasi, MA al-Ihsan Pondok Gede, SMA Yadika 4, SMK Hutama, SMA Hutama, SMK Yadika 6 dan SMA As-Syafiiyah 02 Jatiwaringin dengan menghadirkan narasumber internal Wakil Dekan 3, Saefudin Zuhri, S.Sos., M.I.P. Satgas Pencegahan Terorisme BNPT 2014-2020 Ikhwan Syarief, S.Pd.I., M.Si., Pegiat Deradikalisasi NII Crisis Center,  Sukanto, S.IP., dan  Kasubnit/Unit 6 Polres Bekasi Kota Edi Suprianto dengan moderator Siti Asyiah Indriyani.

Rektor UNKRIS, Ayub Muktiono, mengapresiasi kegiatan yang digagas oleh mahasiswa FIA, didalam situasi pandemi para mahasiswa masih mau aktif memikirkan hal hal mana yang boleh dan mana yang tidak.

“Meskipun bertemu secara virtual saya sangat berterimakasih atas upaya upaya baik yang dilakukan mahasiswa khususnya dalam meradiasikan gerakan anti terorisme dan radikalisme. Pemahaman ini penting bagi mahasiswa, kita tahu persis meskipun paham terorisme dan radikalisme di Indonesia ini para kelompoknya satu dan yang lain tidak saling cocok, tapi ada satu persamaan yaitu dalam perjuangan mengganti ideologi Pancasila dengan Ideologi lain. Salah satu contoh yang telah dibubarkan adalah Hizbut Tahir Indonesia (HTI) karena  ingin mengganti Pancasila dengan Ideologi Khilafah Islamiyah,” ujarnya.

Satgas Pencegahan Terorisme BNPT 2014-2020, Ikhwan Syarief menjelaskan, perilaku  terorisme 47,3% adalah anak muda dengan rentang usia 21-30 tahun, dengan tingkat pendidikan sekolah menengah atas sebesar 63,6 %.

“Ini artinya ini adalah usia anak anak yang masih menjari akan jati diri, butuh pengakuan dan perhatian,” kata Ikhwan.

Menurutnya, proses radikalisasi itu sendiri melalui 5 proses tahapan, yaitu pendekatan, perekrutan, pembalatan, pembinaan, pembinaan yang berujung pada Amaliyah Jihad. “Amaliyah jihad ini dapat berupa penggalangan dana, perekrutan anggota baru, pelatihan, perampokan, pembunuhan serta dapat berupa bom bunuh diri,” tambahnya.

Terorisme Bisa Melekat pada Sejumlah Idiologi

Saefudin Zuhri, wakil dekan 3 FIA, yang juga  penulis buku Deradikalisasi Terorisme menyatakan, bahwa terorisme pada dasarnya bisa melekat pada ideologi mana saja, pengikut agama apa saja, dan siapa saja. Terorisme bisa melekat di kelompok radikalis, juga bisa melekat di kelompok ekstremis, juga di kelompok sparatis.

“Pada gerakan terorisme agama, faktor penyebaran pahamnya mudah karena ada persoalan psikologis, lalu ada politik, ada ekonomi bahkan sosial yang dibalut dengan doktrin agama. Langkah pencegahan bisa dilakukan dengan mendorong anak muda ini untuk menambah pengetahuan dan literasi, berpikir dan bersikap kritis terhadap informasi yang diterima, menumbuhkan rasa empati terhadap sosial, dan memahami eksistensi diri,” ujar Zuhri yang juga selaku Direktur Eksekutif MADANI Connection.

Pegiat Deradikalisasi NII Crisis Center, Sukanto menyampaikan, pengalaman yang pernah dialaminya saat  mengikuti kelompok yang mengajarkan paham radikalisme.

“Saya pernah masuk NII, mencita-citakan Negara Islam. Beruntung hanya pada tahap radikalis. Sebelum terjerumus ke arah aksi terorisme saya sadar kalau paham ini tidak benar. Setelah itu saya keluar dan mengajak orang-orang agar tidak terjerumus. Pola-pola perekrutan melalui  sekolah dan kampus, dilakukan dengan cara  mendekati anak-anak baru, diajak kajian-kajian yang dekat dengan permasalahan seputar anak muda, setelah terjadi interaksi yang nyaman calon korban yaitu anak anak sekolah atau mahasiswa tersebut diajak bicara dengan lebih mendalam tentang paham radikalisme dan terorisme tadi, dan umumnya penanaman paham ini masuk dari para alumni, atau dari luar, yang kemudian meluas masuk ke OSIS, ROHIS, BEM, aktivis masjid,” kilahnya.

Sementara Ketua LPKK  Dr. Susetya Herawati menyatakan, bahwa LPKK akan memfasilitasi kegiatan lanjutan dari FGD ini sampai pada tahap penelitian dan sosialisasi lebih luas.

“Ini penting karena generasi muda harus menjaga negaranya dari ancaman, tantangan, hambatan dan ganggungan khususnya yang akan merongrong Pancasila sebagai Ideologi dan dasar Negara. Ini masalah Ketahanan Nasional kita diganggu melalui paham Terorisme dan radikalisme,” tutup Herawati. [detik/unkris]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed