by

Tiga Siswa Tidak Naik Kelas 3 Tahun Tengah Ditangani KPAI

Kabar Damai | Selasa, 23 November 2021

Tarakan | kabardamai.id | Tiga orang siswa di SDN 051 Kota Tarakan, Kalimantan Utara, tidak naik kelas selama tiga tahun berturut-turut hanya karena menganut agama Saksi Yehuwa.

Sejumlah media memberitakan, ketiga kakak beradik itu berinisial M (14 tahun) kelas 5 SD; Y (13 tahun) kelas 4 SD; dan YT (11 tahun) kelas 2 SD. Mereka tidak naik kelas pada tahun ajaran 2018/2019; tahun ajaran 2019/2020; dan tahun ajaran 2020/2021.

Perlakuan diskriminasi ini membuat si anak terpukul, tidak semangat belajar, malu dengan teman-temannya, bahkan tidak mau lagi melanjutkan sekolah jika tak naik kelas untuk keempat kalinya.

“Orang tua korban membuat pengaduan ke KPAI dan atas pengaduan tersebut, KPAI segera melakukan koordinasi dengan Itjen Kemendikbud Ristek untuk pemantauan bersama ke Tarakan,” kata Komisioner KPAI, Retno Listyarti, Senin,22 November 2021, dikutip dari suara.com (22/11).

Dilansir dari suara.com, orang tua ketiga anak ini juga selalu menang saat menggugat sekolah di Pengadilan Tata Usaha Negara Samarinda, namun sekolah tetap tidak menaikkan kelas ketiga anaknya.

Tahun pertama mereka tidak naik kelas karena dianggap absen lebih dari 3 bulan, padahal mereka absen karena dikeluarkan pihak sekolah dan baru masuk setelah putusan PTUN.

Tahun kedua, sekolah tidak memberikan pelajaran agama kepada ketiga anak tersebut karena agama yang dianutnya, padahal orang tua sudah meminta anaknya dimasukkan saja ke kelas agama Kristen.

“Selama tahun ajaran 2019-2020, Bapak AT (orang tua) terus berupaya meminta agar ketiga anaknya diberikan akses pendidikan Agama dari pihak sekolah. AT tidak pernah menolak kelas Agama Kristen tersebut, bahkan memintanya,” ungkap Retno.

Guru pendidikan agama Kristen, Ibu DR menilai ketiga anak tersebut tidak bisa masuk kelasnya karena ada perbedaan akidah dan ajaran antara keyakinannya dan agama ketiga anak sebagai Kristen Saksi-Saksi Yehuwa.

“Sekolah telah melanggar hukum dengan sama sekali tidak memberikan pelajaran Agama, menetapkan syarat-syarat yang tidak berdasar hukum, serta mempersoalkan keyakinan Agama dari ketiga anak,” ucap Retno.

Tahun ketiga, pada 24 Juni 2021, saat Ujian praktek pelajaran agama, ketiga anak ini diminta menyanyikan lagu rohani yang tidak sesuai keyakinannya. Karena tidak sesuai dengan akidah agamanya, ketiga anak menawarkan lagu rohani lain, sesuai dengan Alkitab, namun ditolak, hingga mendapatkan nilai rendah dan tidak naik kelas lagi.

 

Kemendikbud Kirim Tim

Kemendikbudristek mengirimkan tim guna mendalami aduan orang tua tiga siswa salah satu SD Negeri di Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) yang tidak naik kelas tiga tahun berturut-turut diduga karena perbedaan agama.

Diwartakab CNN  Indonesia, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Jumeri mengatakan pihaknya mengirimkan Unit Pelaksana Teknis lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (UPT LPMP) ke sekolah terkait bersama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

“Ya ini KPAI beserta tim kami, UPT LPMP Kaltara sedang ke lokasi ini, sedang mendiskusikan ya,” kata Jumeri saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin, 22 November 2021.

Baca Juga: Pemerkosaan Siswi SMA Papua, KPAI Desak Polisi Tangkap Pelaku, Jangan Ada Kata Damai

Jumeri mengaku saat ini belum menerima laporan yang lengkap mengenai kasus tiga anak yang tidak naik kelas selama tiga tahun berturut-turut itu.

Ditjen Disdakmen, kata Jumeri, baru mendapatkan laporan lisan dari LPMP setempat bahwa anak tersebut tidak mau mengikuti pelajaran agama di sekolah sebagaimana yang telah disepakati pihak orang tua.

Menurut Jumeri, persoalan ini tidak mudah. Ia berujar seharusnya siswa konsekuen mengikuti pelajaran sebagaimana disepakati orang tua dengan pihak sekolah.

Di sisi lain, pihak sekolah juga memiliki aturan mengenai siapa yang bisa naik kelas dan tidak. Aturan ini, kata Jumeri, mesti ditegakkan agar siswa tidak bertindak seenaknya.

“Dia katanya penganut agama Yehuwa sudah memilih agama kristen tapi juga tidak menempuh pelajaran di Kristen,” tuturnya.

 

Berbeda dengan Pernyataan Komisioner KPAI

Informasi ini berbeda dengan pernyataan Komisioner KPAI, Retno Listyarti. Berdasarkan aduan yang Retno terima dari orang tua ketiga anak tersebut, AT, anaknya tidak mendapatkan akses pendidikan Agama Kristen yang disediakan sekolah.

“Selama tahun ajaran 2019-2020, Bapak AT terus berupaya meminta agar ketiga anaknya diberikan akses pendidikan agama dari pihak sekolah. AT tidak pernah menolak kelas agama Kristen tersebut, bahkan memintanya,” kata Retno dalam keterangan resmi, kemarin.

Bahkan, menurut Retno, Guru Pendidikan Jasmani dan Pembimbing Pendidikan Agama Kristen SDN 051 mengaku bahwa AT sudah menemuinya sejak awal tahun 2019. Ia terus meminta agar anaknya dilibatkan dalam pelajaran agama di sekolah.

“Namun dirinya keberatan karena adanya perbedaan akidah dan ajaran antara keyakinannya dan agama ketiga anak sebagai Kristen Saksi-Saksi Yehuwa,” ujar Retno, dikutip dari cnnindonesia.com (22/11).

Karena tinggal kelas selama tiga tahun berturut-turut, kata Retno, kondisi psikologis ketiga anak tersebut sangat terpukul. Mereka sudah mulai kehilangan semangat belajar dan malu dengan teman-temannya.

Retno mengatakan persoalan yang menimpa ketiga anak itu bukan karena mereka tidak pandai secara akademik, melainkan perlakuan diskriminatif dari pihak sekolah atas keyakinan yang mereka anut.

“Ketiga anak sudah menyatakan dalam zoom meeting dengan KPAI dan Itjen Kemendikbud Ristek, bahwa mereka tidak mau melanjutkan sekolah jika mereka tidak naik kelas lagi untuk keempat kalinya,” tutur Retno.

Menanggapi hal ini, Jumeri menyatakan pihaknya belum mengetahui secara persis persoalan tersebut. Menurutnya, sejauh ini informasi yang Ditjen Dikdasmen terima baru laporan permukaan saja.

“Saya belum tahu persis makanya kita akan lihat laporannya secara komprehensif jadi mungkin ini baru laporan kulitnya saya, jadi belum bisa menanggapi secara detail ya,” pungkas Jumeri. [suara.com/cnnindonesia.com]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed