by

Tidak Boleh Jahat dalam Jihad

Kabar Damai | Selasa, 12 April 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Tren hijrah ekstrim dan sampai pada melakukan jihad versi masing-masing individu atau kelompok tengah marak terjadi dalam masyarakat. Bahkan, tren ini juga menjalar pada publik figur dan kelompok elit lainnya. Jihad bukanlah hal yang buruk, namun jika salah dalam pemaknaan dan pelaksanaan tentu akan berbeda pula dampak yang dihasilkan.

Khoirul Anam, Pegiat Literasi Damai dari kanal youtube demokrasi.id menjelaskan tentang jihad yang baik, tidak dilakukuan secara jahat.

Ia mengungkapkan bahwa bagi sebagian orang, jihad adalah sebuah pembenaran dari perilaku kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam. Anggapan semacam ini merupakan anggapan yang tidak mendasar.

Secara bahasa, jihad bermakna bersungguh-sungguh berjuang dijalan Allah. Dalam konteks hubungan antar umat manusia jihad berarti menggenapi perintah Allah untuk saling mengenal dan juga untuk saling melengkapi.

“Karenanya jihad harusnya jauh dari adegan kekerasan dan berbagai hal yang merugikan dan penuh kekerasan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, diluaran sana tetap ada orang yang mengganggap agama Islam kurang seru jika tidak dilengkapi dengan perang-perang dan permainan tuhan-tuhanan. Bagi mereka, jihad dimaknai dengan melakukan kekerasan terutama dengan apa-apa yang mereka yakini dengan apa yang bertentangan dengan perintah Tuhan.

Baca Juga: Jihad Demi Kemanusiaan

“Jihad kerap disamakan dengan perang. Terutama dalam memerangi orang-orang kafir dan orang-orang munafik, termasuk orang-orang yang mereka kafirkan,” tuturnya.

Anggapan semacam ini jelas keliru dan tidak mendasar dalam keyakinan Islam. Salah satu intelektual muslim berpengaruh saat ini mengartikan jihad dengan perang fisik atau kekuatan fisik yang hanya boleh dilakukan dalam rangka membela diri dari ancaman,  bukan untuk menyebarkan ajaran Islam.

Oleh karenanya, bisa jadi jihad yang dilakukan dengan kekerasan dan pelibatan fisik justru tidak ada hubungannya dengan agama.

Hal ini bersumber dari kisah Perang Badar, dimana usai perang Rasul buru-buru mengingatkan umat Islam bahwa baru saja melakukan pulang dari berjihad yang kecil menuju jihad yang besar.

Bagi Rasul, Perang Badar adalah bagian dari jihad kecil, jihad besarnya adalah melawan hawa nafsu.

Jihad kecil sifatnya temporal dan spasial, ia tidak permanen dan tidak dapat dilakukan disembarang tempat. Ada kondosi-kondisi tertentu yang memungkinkan jihad kecil ini boleh untuk dilakukan.

Karenanya, jihad yang benar harusnya tidak ada hubungannya dengan kekerasan, jakemuh dari pelarangan nilai-nilai kemanusiaan.

“Jika anda serius untuk berjihad, ingatah satu hal yang utama bahwa jihad tidak boleh jahat,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed