by

Tiada Agama Tanpa Nilai-nilai Kemanusiaan

-Kabar Buku-146 views

Kabar Damai | Selasa, 23 Maret 2021

Oleh: Budhy Munawar-Rahman

 

Judul: Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan

Penulis: Habib Ali ibn Zainal Abidin Abdurrahman al-Jufri

Tebal: 372 hlm.

Penerbit: Noura Book, 2020

 

Dalam ajaran Islam kita mengenal istilah hablun minallah dan hablun minannas. Kedua istilah ini memiliki pengertian bahwa seorang muslim seharusnya menjalin hubungan baik dengan Allah dan hubungan baik dengan manusia.

Oleh sebab itu. kedua istilah tersebut merupakan satu paket utuh yang tidak boleh dipisahkan. Sayangnya, saat ini hubungan keberagamaan dan kemanusian menjadi terpisah. Keduanya dianggap berbeda dan tak memiliki keterkaitan apapun. Hal inilah yang menjadi problem mendasar masyarakat beragama kita. Keberagamaan dibangun dengan mengabaikan sisi kemanusian. Sehingga tidaklah mengherankan jika ada sebagian kelompok beragama Islam yang mengatasnamakan agama dan menggunakan jargon agama menabrak serta menggilas nilai kemanusian.

Tindakan radikalisme atas nama agama muncul sebagai akibat kegagalan dalam memahami esensi substantif ajaran Islam. Kesalahan dalam menafsirkan kitab suci inilah yang menjadi dasar ideologi lahirnya Islam garis keras, bahkan memicu lahirnya tindakan radikalisme atas nama agama yang semakin banyak kita jumpai di masyarakat. Fenomena masih terjebaknya sebagian kaum muslim pada formalisasi agama juga dapat dilihat pada maraknya ceramah agama, baik di media (cetak maupun elektronik), maupun di kalangan masyarakat muslim, misalnya pada peringatan hari hari besar Islam dan lain-lain. Di samping mayoritas penceramah terjebak pada penyampaian ajaran agama yang tekstual dan verbal, indikasi formalisasi agama pada kegiatan ini dapat terlihat dari kurang berdampaknya kegiatan ceramah agama itu pada bentuk masyarakat sesuai dengan yang diinginkan Islam.

Dengan kata lain, ketika ada seseorang melakukan perbuatan buruk atas nama agama, maka sejatinya ia bukan ajaran agama, tetapi hanyalah ekspresi keberagamaan. Dalam hal ini, yang cacat bukan agamanya, tetapi keberagamaannya. Cacatnya keberagamaan ini bisa saja disebabkan oleh kekurangan atau bahkan kesalahpahaman dalam memahami ajaran-ajaran agama. Sehingga agama yang sejatinya hadir untuk kemanusiaan berubah menjadi alat paling mengerikan dan mematikan dalam menghancurkan kehidupan manusia.

Problem di atas mendasari ditulisnya buku al-Insaniyyah Qabla Tadayyun, sebuah kumpulan tulisan yang disajikan dengan gaya yang ringan dan mudah dipahami karya al-Habib Ali al-Jufri. Buku al-Insaniyyah Qabla Tadayyun sendiri dialihbahasakan ke bahasa Inggris dengan judul Humanity Before Reliogiosity. Lewat versi bahasa Inggris inilah penerbit Naura mengalihbahasakannya ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Kemanusian Sebelum Keberagamaan. Judul al insaniyyah qabla at tadayun sendiri adalah cuplikan dari salah satu bab di buku tersebut, tepatnya pada bagian keempat yang membahas konsep tentang kemanusiaan harus didahulukan sebelum keberagamaan. Nilai-nilai yang terdapat dalam kitab tersebut mengindikasikan kepada sikap moderat yang sesungguhnya.

Buku ini adalah kumpulan tulisan Habib Ali al-Jufri antara tahun 2012 dan 2014. Gejolak Dunia Muslim yang terjadi pada masa itu tecermin dalam topik-topik yang dibahas dalam buku ini. Dengan tulisan-tulisannya, Habib Ali al-Jufri mencoba menggambarkan pandangan tradisi Islam dan pengalaman pribadi terkait berbagai gejolak tersebut. Tidak hanya untuk Dunia Arab dan Muslim, pesan-pesannya juga ditujukan untuk seluruh umat beragama, bahkan seluruh umat manusia. Sebagai kesatuan yang utuh, buku ini menawarkan perspektif keberagamaan yang memperluas cakrawala dan relevan melampaui masa demi masa.

Kendati keberagamaan dan kemanusiaan harus berjalan beriringan, namun menurut Habib dalam buku tersebut bahwa sisi kemanusiaan harus lebih diunggulkan atau didahulukan daripada sisi keberagamaan. Habib menyodorkan potongan ayat 83 al-Baqarah (2) yang menjadi salah satu bahasan dalam buku ini. Potongan ayat tersebut: wa qulu li an-nas ḥusna (dan bertutur katalah yang baik kepada manusia).

Baca juga: Cerita Tentang Agama-agama Dunia dalam World Religions Today

Menurut Habib, ayat ini penting dibahas karena memberikan pelajaran yang sangat berarti untuk kehidupan manusia sekarang. Pelajaran penting tersebut adalah menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia. Sebab, kewajiban-kewajiban agama (Islam) seperti salat, puasa, dan zakat menjadi tidak sempurna dan tidak memberikan efek apa-apa tanpa adanya hubungan yang baik dengan sesama manusia. Oleh karena itu, Allah lebih mendahulukan kalimat wa qulu li an-nas ḥusna daripada kalimat aqimu aṣ-ṣalah wa atu az-zakah (dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat) dalam ayat 83 al-Baqarah tersebut.

Dalam perkembangannya, potongan ayat tersebut dijadikan dasar oleh sebagian ulama salaf akan kebolehan memanggil salam kepada orang Yahudi dan Kristen. Kebiasaan ini pernah dilakukan oleh Asad bin Wada’ah yang biasa mengucapkan salam setiap kali bertemu dengan orang Yahudi atau orang Kristen. Ketika ditanya, “Mengapa kamu mengucapkan salam kepada orang Yahudi dan orang Kristen?” Dia menjawab, “Allah berfirman: wa qulu li an-nas ḥusna, di mana hal itu adalah salam.” Sehingga dalam kesempatan lain Imam al-Alusi, sebagaimana dikutip oleh Habib Ali al-Jufri, mengatakan bahwa kalau ada pendapat bahwa potongan ayat tersebut telah dihapus dengan ayat lain atau kata an-nas hanya spesifik berbuat baik kepada orang-orang mukmin saja dan tidak diperuntukkan kepada orang-orang kafir dan fasik (karena menganggap mereka harus dilaknat, dicela, dan diperangi), maka pendapat itu jelas jauh melenceng (tidak benar).

Secara substantif, nilai-nilai Islam tidak terlepas dari terwujudnya kemaslahatan sosial. Di dalam Al-Qur’an, kata Iman selalu diikuti dengan amal shaleh. Lebih dari itu, semua ajaran dalam Islam tidak terlepas dari terwujudnya kesalehan individu dan kemaslahatan sosial. Dalam ibadah Sholat, misalnya, akan membentuk pribadi dan masyarakat muslim yang berdisiplin terhadap waktu, istiqomah (konsisten), dan memiliki kelapangan jiwa, karena lima kali dalam sehari kaum muslim menyerahkan hidup dan jiwa raganya kepada Allah swt, Sang Pemilik Kehidupan. Sholat dapat digunakan sebagai wahana bagi kaum Muslim untuk mengobati rasa rindunya kepada Allah swt.

Di samping membentuk kesalehan individu, di dalam sholat juga seharusnya dapat membentuk pribadi muslim yang memiliki kesalehan sosial. Hal ini dilambangkan dengan ucapan salam dengan menengok ke kanan dan ke kiri pada setiap akhir pelaksanaan sholat. Makna yang dapat diambil adalah bahwa setelah kaum muslim mendapat ketenangan jiwa dan kekayaan spiritual melalui sholat, maka tugas selanjutnya sebagai rangkaian yang tidak bisa dipisahkan adalah menebarkan kebaikan, kedamaian dan keselamatan kepada lingkungan sekitarnya.

Sementara ibadah Zakat esensinya adalah ibadah sosial. Karena dia mensyaratkan seorang Muslim (Muzakki) untuk merelakan sebagian harta yang dimilikinya untuk diserahkan kepada orang yang berhak menerima zakat (mustahiq). Keikhlasan melaksanakan ibadah ini membutuhkan kepekaan dan kepedulian sosial kepada orangorang yang nasibnya kurang beruntung. Dengan kata lain, disamping membentuk kesalehan individu, dengan melapangkan hati melalui berbagi, Zakat juga dapat membentuk kesalehan sosial dengan melatih kepekaan sosial, sehingga diharapkan dapat terwujud sebuah tatanan sosial yang saling berbagi, saling memiliki, dan penuh dengan semangat persaudaraan.

Habib Ali dalam bukunya ini memberikan penjelasan bahwa seseorang bisa jadi mengira imannya sudah kuat, namun jika ia mengabaikan hubungan kemanusian, kesucian hidup manusia, dan kesejahteraan masyarakat, maka keimanannya dibangun di tepi jurang yang runtuh dan mudah roboh saat terkena cobaan. (hal. 172). Habib menyebutkan kemanusiaanlah yang mendahului keberagamaan, bukan kemanusian yang mendahului agama. Sebab istilah keberagamaan dan agama memiliki makna yang berbeda.

Pendapatnya mengenai keberagamaan dan kemanusian ini didasari oleh hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yaitu:

Suatu hari, seorang pria datang ke Makkah pada awal dakwah Nabi. Dia pernah mendengar kabar tentang Nabi, lalu mencarinya. Saat bertemu dengan Nabi, dia langsung bertanya.

“Siapa engkau?”

“Saya pembawa pesan Allah,” jawab Nabi.

“Siapa yang mengirimmu?”

“Allah yang Mahakuasa”

“Pesan apa yang engkau bawa dari-Nya?”

Nabi menjawab, “Menjunjung ikatan kekeluargaan, mencegah pertumpahan darah, menjadikan jalan-jalan aman, menghancurkan berhala dan hanya menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain.”

Pria tersebut berkata, “Pesan yang engkau bawa sungguh hebat!

Dengan ini saksikanlah bahwa saya percaya padamu, dan saya percaya bahwa apa yang kau katakan adalah benar.” (hal. 174).

Oleh karena itu, ketika kita dihadapkan dengan sebuah keberagamaan atau pemikiran keagamaan yang mencederai kemanusiaan, maka seharusnya kita lebih mengutamakan kemanusiaan dan meninggalkan pemikiran keagamaan tersebut. Jika rasa kemanusiaan rusak, maka setiap langkah dalam beragama akan bertentangan dengan tujuan agama itu sendiri. Asal risalah Nabi Saw. adalah akidah tauhid, namun sebelum beliau memintanya untuk bertauhid beliau mendahulukan tiga perkara, yaitu: menyambung tali silaturrahmi, menghentikan pertumpahan darah dan mengamankan jalan kemudian menyebutkan mengancurkan berhala dan menyembah Allah semata. Mengapa beliau mendahulukan perkara ini? Karena tanpa adanya jaminan kehidupan, keamanan sosial dan keamanan umum, manusia tidak dapat memiliki kebebasan memilih. Agama ini berdiri atas dasar kebebasan memilih, Allah Swt. berfirman: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (islam).”

Mendahulukan kemanusiaan sebelum keberagamaan merupakan salah satu konsep yang ideal untuk memupuk kerukunan antar umat beragama di era disrupsi ini, namun hal tersebut sering diabaikan oleh sebagian dai dan tokoh-tokoh agama. Bahkan Ironisnya lagi banyak orang Islam yang belum bisa membedakan antara agama dan keberagamaan. Tentu, jika hal tersebut tidak segera diluruskan, maka dapat merusak keharmonisan hidup rukun antar umat beragama. Di sisi lain, hal tersebut dapat memicu terjadinya kasus intoleran, Islam radikal, kolot dan semacamnya. Padahal antara agama dan keberagamaan keduanya jelas berbeda, kalau agama itu dari murni dari Allah sedangkan keberagamaan ialah cara seseorang menjalankan agama itu sendiri, misal seperti aliran madzhab fiqih, akidah dan seterusnya.

Bukan hanya tertuju pada kaum Muslim, buku ini berusaha menggugah umat beragama dan umat manusia secara keseluruhan. Melalui buku inilah, Habib Ali al-Jufri menekankan bahwa keberagamaan tidak akan punya makna jika dijalani dengan mengabaikan kemanusiaan. Berupa kumpulan tulisan yang disajikan dengan gaya ringan dan populer, Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan menyajikan pemikiran dan perenungan Habib Ali al-Jufri menanggapi berbagai isu. Pandangan tradisi Islam dan pengalaman pribadi yang melandasi penulisannya, menjadikan buku ini memiliki perspektif yang luas dan relevan melampaui masanya.

Habib Ali al-Jufri mempunyai pengaruh yang sangat kuat di era kekinian. Di sisi lain, ia juga salah satu ulama’ internasional yang berdakwah ke penjuru dunia di Amerika, Afrika, Eropa, Asia, termasuk Indonesia. Beliau juga memberi kuliah dan berceramah di beberapa kampus dan lembaga di Eropa dan Amerika, antara lain Santa Clara University, San Diego University, University of Miami, University of Southern California, S.O.A.S London, Wembley Conference Centre London, House of Lords London.

Habib Ali berguru kepada banyak syaikh besar seperti Habib Muhammad bin Alawi al-Maliki, Habib Abu Bakr al-Masyhur al-Adni, Habib Umar bin Hafizh, dan lain-lain. Saat ini, beliau dikenal sebagai ahli tasawuf dan fiqih mazhab Syafii. Beliau juga aktif terlibat dalam konferensi-konferensi keislaman tingkat dunia, antara lain Conference on A Common Word di London and Cambridge (12-15 Oktober 2008), Conference on A Common Word di Yale University bekerja sama dengan Princeton University dan Georgetown University (24-31 Juli 2008), konferensi tahunan ke-11 tentang Dialogue and Understanding di Paris (2006), forum tahunan ke-7 tentang Quran sebagai Ajaran dan Jalan Hidup di Frankfurt, Jerman (2005), simposium tentang Islamic Unity di Damaskus (2004), dan konferensi tentang Unity for the Sake of Peace di Sri Lanka (2003).

Habib Ali juga menjadi Direktur Utama Yayasan Thaba (sejak 2005). Sejak 1997 beliau menjadi dosen tamu di Dar al-Mustafa for Islamic Studies di Tarim, Yaman Selatan. Beliau juga anggota Dewan Direksi Dar al-Mustafa for Islamic Studies di Tarim, sejak 2003. Selain itu beliau juga anggota Dewan Pengawas Akademi Eropa untuk Budaya Islam dan Sains di Brussels, Belgia sejak 2003. Beliau adalah anggota aktif Yayasan Aal al-Bayt untuk Pemikiran Islam di Amman, Yordania, sejak 2007.

 

Dr. Budhy Munawar-Rahman, Dosen STF Driyarkara Jakarta

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed