Teologi Pluralisme Nurcholish Madjid (Bagian V)

Oleh Budhy Munawar-Rachman

Para pemikir Islam sangat sadar bahwa sikap inklusif-pluralis adalah bagian dari peradaban, yang secara teologis didasarkan pada konsep kesamaan dasar (common platform, kalîmat-un sawâ) agama-agama. Peradaban Islam merupakan peradaban yang pluralistis dan sangat toleran terhadap berbagai kelompok sosial dan keagamaan.

Untuk menunjukkan implikasi-implikasi dari komitmen pada keragaman manusia, dan pengetahuan bersama pada masa kini dibutuhkan refleksi moral dan perhatian pada situasi historis, sebagaimana pluralisme dalam rumusan Nurcholish disebut sebagai “pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban”, a genuine engagement of diversities within the bounds of civility. seperti disebut di atas, pluralisme menuntut suatu penghampiran yang jujur dan terbuka untuk “memahami pihak lain dan kerjasama yang membangun untuk kebaikan semua”.

Zuhairi Misrawi, seorang pemikir muda Islam Indonesia memandang pluralisme sebagai salah satu khazanah yang mewujud dalam Islam. Tidak ada pertentangan antara Islam dan pluralisme. Pluralisme, menurutnya, bukan hanya fenomena dalam Islam, tetapi juga dalam konteks global, di antaranya peradaban-peradaban dunia. Bahkan, dalam setiap peradaban juga mempunyai pluralisme mazhab, pemikiran, filsafat dan aliran politik. Jadi, pluralisme merupakan “titik temu di antara keistimewaan dan kekhasan tersebut.”

Pluralisme juga mengandung arti bahwa kelompok-kelompok minoritas dapat berperan-serta secara penuh dan setara dengan kelompok mayoritas dalam masyarakat, sambil mempertahankan identitas dan perbedaan mereka yang khas. Pluralisme harus dilindungi oleh negara dan hukum dan akhirnya oleh hukum internasional. Kaum Muslim hidup dengan non-Muslim dalam suatu negara tertentu. “Penduduk Muslim dari suatu negeri dapat memiliki perbedaan-perbedaan kesukuan dan doktrinal dalam diri mereka sendiri atau

pun dengan kaum Muslim di seluruh dunia. Satuan Muslim tidak mensyaratkan kaum Muslim membentuk suatu negara tunggal—kekhilafahan—karena selalu terdiri dari beragam keyakinan dan kesukuan.” Suatu negara bangsa dari sudut pandang Islam dapat dianggap sebagai suatu keluarga atau kerabat yang diperluas. Perbedaan-perbedaan antara sesama Muslim, meskipun masing-masing memiliki kepentingan khusus, tidak boleh mengurangi hubungan kebersamaan dan solidaritas universal.

Fathi Osman mengingatkan, bahwa “Tuhan dan ajaran-Nya haruslah diletakkan di atas setiap kepatuhan kepada kelompok atau wilayah tertentu.” Ia mengatakan:

“Kaum muslim semestinya menampilkan sikap al-Qur’an dihadapan umat manusia dengan memperluas jarak dialog mereka hingga mencapai Hindu dan Buddha, Tao dan agama lainnya. Al-Qur’an (7:172-173) mengajarkan setiap manusia mempunyai kompas petunjuknya masing-masing, dan telah dianugerahi Tuhan dengan martabat (17:70). Di atas dasar spiritualitas, moralitas dan martabat yang sama ini, segenap manusia dapat mengembangkan hubungan yang universal dan memelihara pluralisme global. Adalah sangat bermakna al-Qur’an menyebut kebaikan “apa yang dikenal oleh akal sehat” (ma‘rûf) dan kejahatan “apa yang ditolak oleh akal sehat” (munkâr). Atas dasar itu, hubungan manusia universal memiliki dasar moral dan spiritualnya sendiri, di atas mana tanggung jawab bersama membangun dunia dan manusia. “Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya” (11:61)

Itulah yang oleh Fathi Osman disebut sebagai pluralisme global yang mensyaratkan pengetahuan dan pengertian di kalangan beragam manusia. Penghargaan yang timbal balik mencegah kecurigaan dan membantu terpeliharanya keadilan.

Baca Juga: Teologi Pluralisme Nurcholish Madjid (Bagian IV)

Keterikatan moral pada keadilan adalah hal mendasar untuk suksesnya setiap mekanisme hukum dan kelembagaan. Memelihara pengertian bersama dan keadilan hendaknya mengarahkan kepada perdamaian dunia, yang merupakan syarat bagi kerjasama.

Untuk mewujudkan pluralisme global, lanjut Osman, diperlukan keberanian dari umat Islam untuk melakukan dialog dengan pemeluk agama-agama lain. Perjumpaan agama-agama atau yang disebut dengan “perjumpaan iman” memang memerlukan keberanian, pengalaman, kepercayaan diri serta kematangan pribadi.

“Dialog yang produktif tidak akan terwujud jika masing-masing partisipan tidak ada kesediaan untuk membuka diri, kesediaan saling memberi dan menerima secara sukarela dan antusias.” 

Alwi Shihab—salah seorang perintis pemikiran inklusivisme-pluralisme di Indonesia— menegaskan bahwa Islam sejak semula menganjurkan berdialog dengan umat lain teristimewa umat Kristiani dan Yahudi, atau terhadap pengikut Isa (Yesus) dan Musa. Al-Qur’an menggunakan kata ahl al-kitâb (yang memiliki kitab suci), pengguna kata ahl, yang berarti keluarga, menonjolkan keakraban dan kedekatan hubungan.

Sebagai contoh ini pernah terjadi ketika pengikut Nabi Muhammad yang terpaksa meninggalkan Makkah untuk menghindari penganiayaan bangsa sendiri (Arab jahiliyah) berhijrah ke negara lain Ethiopia. Di sana mereka diterima dengan baik dan mendapatkan perlindungan oleh Raja Negus (Najashi) yang beragama Kristen. Peristiwa ini menandakan keakraban dan hubungan harmonis antara kedua umat.

Dalam dialog ini sisi-sisi persamaan di antara berbagai agama, budaya dan peradaban itu dimunculkan, tentu saja dengan tetap menunjukkan sisi-sisi perbedaannya, agar masing-masing kelompok agama, budaya dan peradaban ini dapat saling memahami dan saling menghormati.

Dalam konteks Islam, hal ini sangat bermanfaat, karena ia dapat menghilangkan citra negatif oleh kalangan non-Muslim, terutama di Barat yang beranggapan, bahwa Islam adalah agama anti-perdamaian, atau agama pendukung kekerasan. Dengan terbentuknya kondisi saling memahami ini, konflik antar-agama, antar-budaya dan antar-peradaban ini dapat dihindarkan. Memang, konflik-konflik yang pernah terjadi sebenarnya tak ada satu pun yang semata-mata disebabkan oleh perbedaan faktor ini.

Namun, tak dapat dibantah, bahwa ketiga faktor ini ikut andil dalam pemunculan konflik ini, meski hanya sebagai faktor legitimasi. Lebih dari itu, “atas dasar nilai-nilai universal ini pula umat Islam dapat merespons sistem atau ide-ide global, seperti demokrasi, hak-hak asasi manusia,  pluralisme dan sebagainya, sebagai sistem atau ide yang kompatibel dengan ajaran Islam.”

Dialog ini bukanlah untuk suatu kegemaran intelektual melainkan suatu keharusan. Dialog sejatinya dilakukan dalam kesetaraan, par cum pari (setara dengan setara). Dalam dialog tidak boleh prinsip diabaikan dan tidak boleh sekedar mencari kedamaian palsu, sebaliknya harus ada kesaksian yang diberi dan diterima guna saling memajukan satu sama lain di dalam perjalanan pencarian dan pengalaman keagamaan; dan saat yang sama menyingkirkan prasangka, sikap intoleran dan kesalahpahaman.

Kalaupun seseorang mengalami pertobatan lewat dialog, kenyataan itu harus dapat diterima semua pihak secara positif dan wajar. Dialog menyaratkan sikap konsisten, terbuka, kerendahan hati dan keterus-terangan sehingga dialog dapat memperkaya dan memperbarui masing-masing pihak. Dialog meminta keseimbangan sikap, kemantapan dan menolak indeferentisme (paham yang menyamakan semua agama sama) dan tidak menghendaki suatu teologi universal yang sinkretik.

Menurut Olaf Schumann, seorang ahli dialog antaragama di Indonesia, sebagai perbandingan, dalam dialog setiap orang harus diterima sebagaimana ia memahami dirinya sendiri. Dialog sama sekali tidak mengurangi kesetiaan yang penuh dan jujur terhadap imannya sendiri, melainkan memperkaya dan memperkuatnya. Dialog adalah suatu hal yang asasi dalam menghilangkan salah paham dan prasangka yang pernah timbul di masa silam.

 

Dr. Budhy Munawar-Rachman adalah Dosen Filsafat dan Pemikiran Islam Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara (sejak 2000 – sekarang). Sekarang juga pernah bekerja sebagai Program Officer The Asia Foundation (2005 – 2021). Menulis buku, diantaranya, Islam Pluralis (2000), Fikih Lintas Agama (2003), Ensiklopedi Nurcholish Madjid (2010), Reorientasi Pembaruan Islam (2010), Islam Liberal (2011), Membela Kebebasan Beragama (2016), dan Pendidikan Karakter (2017). Sejak 2006 aktif dalam mengembangkan pendidikan pluralisme, toleransi, dan hak asasi manusia di lingkungan pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi, khususnya UIN/IAIN/STAIN se-Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *