Teologi Pluralisme Nurcholish Madjid (Bagian IV)

Oleh Budhy Munawar-Rachman

Sebagaimana Sachedina, Bruce B. Lawrence, juga percaya bahwa “Islam adalah banyak” (islams plural). Sama seperti halnya tidak ada satu Amerika, Eropa ataupun Barat, begitu pula tidak ada satu pun penjelasan pas yang melukiskan berbagai kelompok maupun orang dengan nilai dan arti yang sama. Juga tidak ada lokasi tunggal ataupun budaya seragam yang identik dengan Islam. Dengan demikian, tidak ada Islam yang monolitik.

Oleh karena itu, Pluralisme adalah “fondasi kehidupan bagi agama-agama” (ashl al-hayât-i bayna fl-adyân). Para pemikir Islam melacak ayat-ayat al-Qur’an yang mendukung pluralisme ini sebagai satu rahasia dari lautan rahasia Allah. Salah satunya, “Jika Tuhanmu menghendaki maka kalian akan dijadikan umat satu”.

Ternyata Allah tidak berkehendak untuk menyatukan umat manusia. Nah, keragaman agama di sini  merupakan rahasia dan kehendak Allah. Menurut Sachedina, pluralisme sebagai dasar kehidupan semua agama mengajak membuka dan memahami rahasia Allah itu. Keragaman agama sebagai rahasia Allah meliputi juga agama-agama lain yang biasa disebut “agama-agama Ibrahimi”. Pluralisme sendiri mengakui adanya tradisi iman dan keberagamaan yang berbeda antara satu agama dengan agama lainnya.

Menurut Gamal al-Banna, gaya bahasa al-Qur’an sendiri memiliki semangat pluralisme. Setiap kata atau ayat dalam al-Qur’an memiliki kemungkinan makna dan penafsiran yang beragam sesuai dengan semangat zaman. Lahirnya kitab-kitab tafsir yang beragam merupakan bukti adanya pluralitas pemahaman terhadap teks al-Qur’an. Di samping redaksi al-Qur’an yang pluralis, kandungan ayat al-Qur’an sendiri mengisyaratkan nilai-nilai pluralisme tersebut, bahkan al-Qur’an telah menanamkan kaidah-kaidah mendasar bagi pluralisme agama, di antaranya:

Pertama, kebebasan beragama. Setiap manusia oleh Islam diberikan kebebasan untuk menentukan agama apa yang dianut. Di samping memberikan kebebasan, Islam juga melarang adanya pemaksaan dalam agama. Prinsip ini merupakan dalil paling jelas bagi pluralisme dalam Islam, dan dalam banyak ayat al-Qur’an menjelaskan prinsip ini dengan tegas.

Kedua, al-Qur’an menegaskan sikap penerimaannya terhadap agama-agama selain Islam untuk hidup berdampingan. Yahudi, Kristen, dan agama-agama lain diakui sepenuhnya eksistensinya oleh al-Qur’an.

Sejalan dengan Gamal al-Banna, Farid Esack, yang sudah disebut namanya di atas, berpendapat bahwa al-Qur’an tidak mencegah kaum Muslim untuk bekerjasama dengan orang lain demi menegakkan keadilan dan kebenaran. Al-Qur’an dan teladan Nabi mendukung kerja sama dan solidaritas antariman untuk keadilan dan kebenaran. Solidaritas ini tidak dilandasi oleh kehendak yang sama untuk perdamaian dan ketentraman, melainkan pada perjuangan menentang ketidakadilan demi menciptakan dunia yang aman bagi umat manusia.

Sikap Islam terhadap pluralitas agama berdiri di atas prinsip kesejajaran, toleransi dan saling melengkapi. Inilah pilihan yang paling baik karena pluralitas agama lebih baik dari pada satu agama. Satu agama tidak akan mampu merespon dinamika kemanusiaan. Dengan satu agama kondisi saling berlomba dalam berbagai kebajikan tidak akan tercipta. Sikap toleran dan saling melengkapi jelas lebih baik dari pada sikap saling berseberangan dari puluhan agama.

Baca Juga: Teologi Pluralisme Nurcholish Madjid (Bagian III)

Adanya hubungan yang diciptakan oleh semangat pluralisme atas dasar toleransi, merupakan anugerah dan kesempurnaan. Inilah kondisi paling otentik, semua agama berdoa kepada Tuhan yang Mahaesa dan mengajak kepada nilai-nilai cinta, kebaikan dan keadilan.

Setiap agama, dengan berbagai kelebihannya, berlomba untuk berperan dalam membangun sebuah peradaban “untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku”.

Pengakuan terhadap pluralisme agama dalam sebuah komunitas sosial menjanjikan dikedepankannya prinsip inklusivitas (keterbukaan)—suatu prinsip yang mengutamakan akomodasi dan bukan konflik—di antara mereka. Sebab, pada dasarnya masing-masing agama mempunyai berbagai klaim kebenaran yang ingin ditegakkan terus, sedangkan realitas masyarakat yang ada terbukti heterogen secara kultural dan religius. Oleh karena itu, inklusivitas menjadi penting sebagai jalan menuju tumbuhnya kepekaan terhadap berbagai kemungkinan unik yang bisa memperkaya usaha manusia dalam mencari kesejahteraan spiritual dan moral. Realitas pluralitas yang bisa mendorong ke arah kerjasama dan keterbukaan itu, secara jelas telah diserukan al-Qur’an. Pluralitas adalah sebuah kebijakan Tuhan agar manusia saling mengenal dan membuka diri untuk bekerja sama, dan kerjasama adalah sesuatu yang asasi bagi kehidupan manusia.

Para pemikir Islam sangat sadar bahwa sikap inklusif-pluralis adalah bagian dari peradaban, yang secara teologis didasarkan pada konsep kesamaan dasar (common platform, kalîmat-un sawâ) agama-agama. Peradaban Islam merupakan peradaban yang pluralistis dan sangat toleran terhadap berbagai kelompok sosial dan keagamaan. Untuk menunjukkan implikasi-implikasi dari komitmen pada keragaman manusia, dan pengetahuan bersama pada masa kini dibutuhkan refleksi moral dan perhatian pada situasi historis, sebagaimana pluralisme dalam rumusan Nurcholish disebut sebagai “pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban”, a genuine engagement of diversities within the bounds of civility. seperti disebut di atas, pluralisme menuntut suatu penghampiran yang jujur dan terbuka untuk “memahami pihak lain dan kerjasama yang membangun untuk kebaikan semua”.

Zuhairi Misrawi, seorang pemikir muda Islam Indonesia memandang pluralisme sebagai salah satu khazanah yang mewujud dalam Islam. Tidak ada pertentangan antara Islam dan pluralisme. Pluralisme, menurutnya, bukan hanya fenomena dalam Islam, tetapi juga dalam konteks global, di antaranya peradaban-peradaban dunia. Bahkan, dalam setiap peradaban juga mempunyai pluralisme mazhab, pemikiran, filsafat dan aliran politik. Jadi, pluralisme merupakan “titik temu di antara keistimewaan dan kekhasan tersebut.”

Pluralisme juga mengandung arti bahwa kelompok-kelompok minoritas dapat berperan-serta secara penuh dan setara dengan kelompok mayoritas dalam masyarakat, sambil mempertahankan identitas dan perbedaan mereka yang khas. Pluralisme harus dilindungi oleh negara dan hukum dan akhirnya oleh hukum internasional. Kaum Muslim hidup dengan non-Muslim dalam suatu negara tertentu. “Penduduk Muslim dari suatu negeri dapat memiliki perbedaan-perbedaan kesukuan dan doktrinal dalam diri mereka sendiri ataupun dengan kaum Muslim di seluruh dunia.

Satuan Muslim tidak mensyaratkan kaum Muslim membentuk suatu negara tunggal—kekhilafahan—karena selalu terdiri dari beragam keyakinan dan kesukuan.” Suatu negara bangsa dari sudut pandang Islam dapat dianggap sebagai suatu keluarga atau kerabat yang diperluas. Perbedaan-perbedaan antara sesama Muslim, meskipun masing-masing memiliki kepentingan khusus, tidak boleh mengurangi hubungan kebersamaan dan solidaritas universal.

Dr. Budhy Munawar-Rachman adalah Dosen Filsafat dan Pemikiran Islam Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara (sejak 2000 – sekarang). Sekarang juga pernah bekerja sebagai Program Officer The Asia Foundation (2005 – 2021). Menulis buku, diantaranya, Islam Pluralis (2000), Fikih Lintas Agama (2003), Ensiklopedi Nurcholish Madjid (2010), Reorientasi Pembaruan Islam (2010), Islam Liberal (2011), Membela Kebebasan Beragama (2016), dan Pendidikan Karakter (2017). Sejak 2006 aktif dalam mengembangkan pendidikan pluralisme, toleransi, dan hak asasi manusia di lingkungan pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi, khususnya UIN/IAIN/STAIN se-Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *