by

Teladan Moderasi Rasulullah

Ust. Roland Gunawan

 

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah,” [QS. Ali Imran: 110]; “Dan demikian [pula] Kami telah menjadikan kamu [umat Muslim) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas [perbuatan] manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas [perbuatan] kamu.” (QS. al-Baqarah,143)

TIDAK diragukan lagi bahwa pembicaraan mengenai moderasi adalah pembicaraan kekinian di era globalisasi, yaitu dalam situasi internasional di mana umat Muslim kerap dilempari tuduhan puritanisme, radikalisme dan terorisme sebagai akibat dari munculnya kelompok-kelompok ekstrem di kalangan umat Muslim. Kelompok-kelompok ini terkadang lahir karena ketidakadilan dan tirani, atau terkadang karena kesalahpahaman sejumlah orang dalam memahami ajaran Islam tanpa berupaya untuk belajar agama yang benar dari lembaga-lembaga pendidikan yang benar.

Islam adalah agama moderat dan pengampunan, agama kasih sayang dan toleransi. Dan umat Muslim, yang berkomitmen untuk mewujudkan prinsip-prinsip kemanusiaan, dinilai sebagai umat yang moderat. Al-Qur`an dengan tegas mencirikan umat Muslim dengan al-khayrîyyah (umat terbaik) dan al-‘adl (keadilan), “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah,” [QS. Ali Imran: 110]; “Dan demikian [pula] Kami telah menjadikan kamu [umat Muslim) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas [perbuatan] manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas [perbuatan] kamu,” (QS. al-Baqarah: 143).

Moderasi adalah prinsip yang mengandung keseimbangan, keadilan, keluhuran dan keagungan. Sifat mulia ini berada di antara dua sifat yang tercela: sikap berlebih-lebihan dan tindakan melampaui batas. Kita menemukan sejumlah orang yang mendaku sebagai “muslim” meninggalkan lingkaran moderasi dan keseimbangan. Mereka menyimpang dan cenderung ke ekstremisme, radikalisme bahkan terorisme, serta memutarbalikkan hakikat Islam, yang membuka pintu selebar-lebarnya bagi orang-orang di luar Islam menyebarkan fitnah dan tuduhan tidak adil mengenai Islam dan umat Muslim.

Kita hidup pada masa di mana badai hebat dan angin puyuh yang ganas berupa tuduhan dan kampanye media yang sangat buruk bahwa Islam adalah ajaran yang mengandung ekstremisme, radikalisme, dan terorisme. Padahal kita tahu bahwa semua tuduhan itu tidak benar..

Dari sini muncul kebutuhan sangat mendesak untuk mempelajari perjalanan hidup Nabi Muhammad Saw., agar kita dapat mengambil dari cahaya yang dapat  menunjukkan bagi semua manusia kebenaran dan hakikat yang menjelaskan bahwa beliau adalah Nabi umat moderat yang berpijak pada laku hidup keadilan dan jalan lurus.

Di dalam kisah hidup beliau, kita akan banyak menemukan makna moderasi yang nyaris tak terhitung. Sehingga benar jika dikatakan, “Sungguhnya beliau, jika berada dalam dua perkara yang dipilih, niscaya akan memilih yang paling ringan, selama tidak mengandung dosa.”

Kita tahu bahwa Nabi Saw. menemukan kesejukan di dalam shalat, tetapi itu tidak berarti beliau mengajarkan umatnya untuk mengabaikan keluarga. Justru beliau memerintahkan para sahabat yang berlebih-lebihan dalam beribadah sampai mengabaikan urusan-urusan lain dalam kehidupan mereka, agar mengurangi ibadah dan kemudian bekerja keras menafkahi istri dan anak-anak mereka.

Nabi Saw. suka membelanjakan harta di jalan Allah dan menganjurkannya kepada umatnya, tetapi beliau tidak membiarkan para sahabatnya menghabiskan semua uang mereka di jalan Allah tanpa mewariskan apapun untuk anak-anak mereka. Beliau justru memerintahkan mereka untuk meninggalkan ahli waris yang kaya raya.

Baca Juga: Moderasi Beragama Menurut Perspektif Agama Khonghucu

Nabi Saw. suka mati di jalan Allah (al-mawt fî sabîlillâh), tetapi itu tidak berarti bahwa beliau mengajarkan umatnya untuk secara sengaja menceburkan diri ke dalam bahaya dan kebinasaan. Di dalam peperangan kita melihat beliau memakai dua baju besi, menyusun rencana, mengirim mata-mata, bertindak secara hati-hati dan waspada, melindungi tentara dan rakyatnya.

Di dalam sebuah riwayat disebutkan mengenai kisah seorang pemuda bernama Julaibib yang datang kepada Nabi Saw. dan memohon agar diizinkan berzina. Apakah Nabi Saw. marah? Di sinilah yang menarik bagaimana respon beliau atas apa yang disampaikan Julaibib. Beliau memberikan pemahaman yang logis dan mudah dipahami sehingga dapat diterima Julaibib bahwa zina adalah perbuatan tak terpuji.

Ketika Julaibib mengutarakan keinginannya untuk berzina, Nabi justru balik bertanya, “Apa kau senang jika yang berzina itu ibumu?” Julaibib pun menjawab bahwa dirinya tidak mau jika yang berzina itu adalah ibunya atau orang lain berbuat zina pada ibunya. Nabi pun menjelaskan bahwa begitu juga dengan semua orang yang tidak rela bila ibu mereka berzina dengan orang lain.

Nabi Saw. kembali bertanya pada Julaibib apakah senang bila yang berzina itu adalah putrinya sendiri. Julaibib menjawab bahwa dirinya tak rela bila yang berzina adalah putrinya atau orang lain berzina dengan putrinya. Nabi pun menerangkan bahwa semua orang pun tidak ada yang suka bila putrinya berzina atau ada orang yang berzina dengan anak-anaknya.

Beberapa pertanyaan serupa dilontarkan kepada Julaibib. Apakah Julaibib senang bila yang berzina itu saudarinya atau bibinya? Julaibib pun menjawab bahwa dirinya tak rela bila saudarinya atau bibinya berzina. Hingga kemudian Nabi Saw. meletakan tangannya di badan Julaibib dan mendoakannya agar Allah mengampuni dosanya, mensucikan hatinya, dan menjaga kemaluannya.

Riwayat lain menceritakan bahwa Nabi Saw. tidak melarang sekelompok orang Habsyi yang bermain, menari, dan menyanyi di masjid Madinah. Beliau bertanya kepada istrinya, Aisyah ra., apakah ia ingin melihat mereka dan menikmati permainan, tarian, dan nyanyian mereka. Aisyah kemudian berdiri di belakang beliau, pipinya bersentuhan dengan pipi beliau, dan beliau membiarkannya menyaksikan orang-orang Habsyi itu menari dan menyanyi. Sampai akhirnya ia bosan dan meninggalkan mereka.

Ketika Umar ibn al-Khattab ra. memasuki masjid dan hendak menghentikan permainan orang-orang Habsyi itu, Nabi Saw. mencegahnya dan mendorong mereka untuk terus bermain, “Teruskan hai anak Arfadah, agar orang Yahudi mengetahui bahwa di dalam agama kita terdapat kelonggaran. Sesungguhnya aku diutus dengan sesuatu yang lurus dan mudah,” [HR. al-Bukhari].

Dari Anas ibn Malik ra., ia berkata, “Ada tiga orang mendatangi rumah istri Nabi Saw., mereka bertanya tentang ibadah Nabi Saw. Setelah mereka diberitahu, seakan-akan mereka menganggap ibadah Nabi hanya sedikit. Mereka berkata, ‘Di manakah kedudukan kita dibanding Nabi Saw.? Dosa-dosa beliau, baik yang lalu maupun yang akan datang, telah diampuni.’ Salah seorang dari mereka berkata, ‘Adapun aku maka akan shalat malam terus.’ Yang lain berkata, ‘Aku akan berpuasa sepanjang waktu dan tidak akan berbuka.’ Yang lain lagi berkata, ‘Aku akan menjauhi perempuan dan tidak akan menikah selama-lamanya.’

Nabi Saw. pun mendatangi mereka seraya bersabda, ‘Apakah kalian yang mengatakan begini dan begitu? Adapun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah dan yang paling bertakwa kepada-Nya. Aku berpuasa tetapi juga berbuka. Aku shalat malam tetapi juga tidur, dan aku juga menikah dengan perempuan. Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka ia bukan dari golonganku,” [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Demikian yang kita lihat di dalam kehidupan Nabi Saw., kehidupan yang moderat, seimbang, tidak berlebih-lebihan, tidak kaku, tidak ekstrem dan tidak radikal apalagi sampai menimbulkan ketakutan bagi umatnya.[]

 

Ust. Roland Gunawan, Wakil Ketua LBM PWNU DKI Jakarta

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed