by

Teknologi Luar Angkasa, Modernitas dan Sarana Menggapai Kemajuan Dunia

Oleh: Thalia Dwita Cahyani XII IPS 1

Perang Dingin yang berlangsung sejak tahun 1947–1991 adalah satu di antara sejarah besar dunia yang membawa banyak dampak. Amerika Serikat dan Uni Soviet adalah dua negara berpengaruh dunia yang menjadi aktor utama dalam Perang Dingin. Berawal dari adanya persaingan ideologi, yakni Komunis dan Liberal, mereka berkompetisi melalui koalisi militer, menyebarkan ideologi dan pengaruh, memberikan bantuan kepada negara klien, spionase, kampanye propaganda secara besar-besaran, perlombaan nuklir, menarik negara-negara netral, bersaing di ajang olahraga internasional, dan persaingan teknologi seperti Perlombaan Angkasa (Space Race).

Perlombaan Angkasa atau Space Race adalah perlombaan antariksa yang mengadu kecanggihan teknologi luar angkasa dari masing-masing pencapaian negara AS dan Uni Soviet yang di mana keduanya selalu ingin menjadi yang terdepan dan unjuk kekuatan di mata dunia.

 

Perkembangan Teknologi Luar Angkasa Uni Soviet

Perlombaan ini bermula ketika Uni Soviet untuk pertama kalinya berhasil meluncurkan sebuah satelit tanpa awak bernama Sputnik I pada 4 Oktober 1957 yang menjadi awal mula perkembangan teknologi luar angkasa. Peluncuran ini sangat mengejutkan Amerika Serikat sehingga kompetisi pun dimulai.

Sebulan setelah Sputnik I, Uni Soviet kembali meluncurkan satelit bernama Sputnik II yang diawaki seekor anjing bernama Laika. Namun, Sputnik II meledak dan Laika tewas sehingga misi ini dianggap gagal. Kematian anjing betina yang menjadi kelinci percobaan itu dikecam habis-habisan oleh pencinta binatang yang kebanyakan dari dunia barat.

Pada 12 April 1961, Uni Soviet mengirim manusia pertama ke luar angkasa dan berhasil mengirimkan seorang kosmonout bernama Yuri Gargarin untuk mengorbit bumi. Ia menggunakan pesawat luar angkasa bernama Volstok 1 untuk mengelilingi bumi selama 108 menit.

Baca Juga: Mencegah Perundungan di Dunia Maya

Setelah misi Yuri Gargarin, Uni Soviet kembali mengirim astronot (Mayor German Stephanovich) dalam penerbangan 25 jam 18 menit mengelilingi orbit bumi menggunakan Vostok II.

Pada tanggal 14 September 1959 Uni Soviet  mengirimkan satelit tanpa awak Lunik II. Satelit ini tercatat sebagai satelit pertama yang mendarat di permukaan bulan. Tujuh tahun kemudian, Uni Soviet berhasil melakukan pendaratan lunak melalui satelit Lunik IX.

 

Perkembangan Teknologi Luar Angkasa Amerika Serikat

Pencapaian baru yang dicapai oleh Uni Soviet dalam teknologi luar angkasa mendorong Amerika Serikat untuk bergerak lebih maju. Amerika Serikat kemudian membentuk National Aeronautics and Space Administration (NASA) pada tahun 1958. Setelah terbentuk, NASA langsung meluncurkan satelit Explorer I ke orbit bumi untuk mencatat sabuk radiasi di atmosfer bumi.

Pada 5 Mei 1961, Amerika Serikat meluncurkan astronot Alan B. Shepard menggunakan kapsul Mercury I untuk mengitari orbit selama tiga kali. Proyek ini ditutup pada 15 Mei 1963 dan dilanjutkan dengan proyek Gemini.

Tanggal 17 Juli 1969 Amerika Serikat mengejutkan dunia dengan meliput pendaratan manusia pertama di bulan menggunakan satelit Apollo-11 yang di awaki oleh Neil Amstrong dan Edwin Adrin. Sejak tahun 1969 sampai tahun 1972 Amerika Serikat telah mengirim tujuh kali misi ke bulan.

“Mendaratkan seorang pria di bulan dan mengembalikannya dengan selamat ke Bumi dalam satu dekade” adalah tujuan nasional yang ditetapkan oleh Presiden John F. Kennedy pada tahun 1961. Pada tanggal 20 Juli 1969, astronot Neil Armstrong melakukan “satu lompatan raksasa bagi umat manusia” saat ia melangkah ke bulan. Selama tahun 1970-an, NASA juga melakukan Proyek Viking di mana dua wahana mendarat di Mars, mengambil banyak foto, memeriksa kimia lingkungan permukaan Mars, dan menguji kotoran Mars (regolith) untuk keberadaan mikroorganisme.

Teknologi luar angkasa pasca perang dingin terlihat saat pembentukan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) oleh Amerika Serikat dan Rusia pada 20 November 1998. ISS merupakan sebuah laboratorium penelitian yang ditempatkan di orbit rendah bumi itu menjadi simbol kerja sama dalam eksplorasi luar angkasa antara dua negara besar yang dulu bersaing.

ISS merupakan satelit terbesar buatan manusia. Ia dihuni oleh tiga sampai enam astronaut yang bergantian pergi-pulang selama enam bulan sekali sejak November 2000. Untuk menuju ISS, manusia menggunakan teknologi kapsul antariksa bernama Soyuz buatan Rusia, sementara logistiknya diangkut dengan kapsul Dragon milik Amerika Serikat. Selain itu, ada beberapa negara yang juga ikut andil dalam memajukan ISS, di antaranya ialah: Kanada, Jepang, Prancis, Belgia, Denmark, Jerman, Britania Raya, Italia, Belanda, Norwegia, Swedia, Spanyol, dan Swiss.

Saat ini keberadaan banyak program luar angkasa nasional maupun internasional merupakan simbol dari posisi suatu bangsa dalam pengaturan keamanan regional dan juga merupakan bagian integral dari perhitungan militer dalam keamanan internasional. Penguasaan terhadap ruang angkasa merupakan salah satu instrumen yang Strategis untuk menciptakan rasa aman. Arena baru ini memang arena yang Baru terjamah sehingga warga dunia masih tabu terhadapnya. Kajian tentang Pemanfaatan ruang angkasa menjadi semakin berkembang karena mulai disadari memang terdapat nilai-nilai yang strategis di dalamnya.

Bunga pasti akan mengarahkan wajahnya ke sinar matahari dan negara pasti akan mengarahkan wajahnya ke resource of power. Dan salah satu sumber power tersebut adalah ruang aangkasa. Konstelasi politik dan keamanan dunia yang kompleks, membuat peta persaingan negara dalam menguasai ruang angkasa menjadi semakin kompetitif. Amerika Serikat dan Rusia memang yang mengenal terlebih dahulu ruang angkasa dan menjadikannya dua dominasi yang kuat terhadap arena ini.

Namun, seiring kemampuan dan kesadaran dari negara-negara lain munculnya penantang potensial seperti China dan India. Untuk menjadi superpower maka harus menjadi space faring nation, dan untuk menjadi space faring nation maka negara harus melakukan penguasaan terhadap ruang angkasa. Ruang angkasa adalah sebuah tempat yang memungkinkan dilakukannya sebuah operasi dan juga pencapaian tujuan-tujuan strategis suatu negara. Bahkan disinyalir serangan dari ruang angkasa ke bumi memberikan potensi ancaman yang lebih besar daripada serangan dari darat Ke ruang angkasa atau ruang angkasa ke ruang angkasa sekalipun. Dengan kata lain, saat ini ruang angkasa bukan hanya merupakan pendukung bagi Angkatan darat, laut maupun angkatan udara, akan tetapi ruang angkasa dapat secara mandiri menjadi medan tempur.

Pernyataan-pernyataan di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwa terdapat sebuah kenyataan baru di mana sebelumnya ruang angkasa digunakan untuk kepentingan-kepentingan umum yang sifatnya riset dan damai, sekarang sudah mulai untuk digunakan sebagai instrumen power dan militer. Hal ini memungkinkan timbulnya konflik luar angkasa (Space War) secara global yang akan berdampak pada berbagi bidang.

Jika terjadi, perang antariksa tidak dapat dihindari karena militer modern saat ini menggunakan ruang untuk segalanya, mulai dari satelit mata-mata hingga seorang prajurit di puncak gunung menggunakan satnav untuk mengetahui dengan tepat di mana dia berada. Dan dalam perang apa pun, satu pihak akan berusaha menghilangkan kemampuan pihak lain untuk berfungsi. Di zaman sekarang ini, itu berarti menyerang satelit.

Pada Mei 2014, Rusia meluncurkan satelit misterius yang terlihat sedang bermanuver di orbit. Beberapa orang mengira itu adalah Rusia yang menguji senjata ruang angkasa masa depan karena senam orbital seperti itu persis seperti yang diharapkan dari satelit serangan yang dirancang untuk mendekati yang lain dan menghentikannya. Memang, Rusia memiliki sejarah menguji pesawat luar angkasa semacam itu.

China juga telah menunjukkan opsi ruang militer lainnya. Pada tahun 2007, mereka menghancurkan salah satu satelit cuaca mereka sendiri menggunakan rudal yang diluncurkan dari Bumi. Satelit FY-1C berada di ketinggian 865km dan terkena rudal yang melaju dengan kecepatan 8km/s. Satelit itu hancur menjadi sekitar 150.000 keping puing luar angkasa.

Contoh peristiwa di atas membuktikan bahwa Space War dapat terjadi kapan pun. Setiap negara kian menyongsong perkembangan teknologi luar angkasanya agar suatu waktu dapat tetap bertahan di masa yang sulit sekalipun. Sehingga perlu adanya perkembangan dan penelitian lanjutan untuk negara-negara tertentu yang belum memiliki teknologi luar angkasa memadai.

Padahal, jika ditilik dari lain sisi, perkembangan teknologi luar angkasa dapat meningkatkan kehidupan modernitas manusia. Keberadaan macam-macam satelit yang menyokong penemuan baru di bumi akan dapat berdampak besar bagi kehidupan.

ISS yang bekerja sama dengan beberapa negara maju dunia menjadi poros pemersatu untuk bersama memajukan kehidupan dunia tanpa memikirkan kepentingan pribadi. Selain itu, satelit juga dapat membantu banyak Tujuan Global. Para pemimpin di pemerintahan, di perusahaan dan LSM harus memanfaatkan alat ini secara maksimal dalam investasi dan pengambilan keputusan mereka untuk membantu kita mencapai SDG secepat mungkin. Sehingga pemajuan dunia yang ada didepan mata akan segera dapat digapai.

Oleh: Thalia Dwita Cahyani XII IPS 1, Siswi SMAN 1 Pontianak

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed